Sunday, May 19, 2024

AJAKAN TANTANGAN 9925 (2)

Tips mengikuti Tantangan Bergerak 9925,
*tulisan ini dibuat dalam rangka campaign challenge bergerak dalam rangka reuni 25 tahun ITB angkatan 99
A. Untuk para nyubi :
1. Ingat, ini bukan ajang untuk seleksi jadi rampok indomaret. Jadi kalau lari tidak usah terbirit-birit. Kecepatan bukan yg utama. Santai aja sambil ngobrol sama ayang. Bisa sambil ngomongin masa depan, rencana travelling dan kenangan bulan madu. Hindari ngomongin bayaran anak sekolah atau kenangan ayang mantan, olahraga jalan/lari/sepeda bareng tsb bisa berubah jadi muaythai atau UFC.
2. Mengingatkan kembali, tantangan 9925 ini untuk aktivitas fisik apa aja seperti berjalan kaki, berlari, bersepeda, berenang, berkuda, naik unta, ice skating, maen kasti, tenis, sepakbola dan lain2. Intinya aktivitas yang melibatkan pergerakan secara kinetis dari satu tempat ke tempat lain tanpa menggunakan bantuan kendaraan bermotor, ebike, odong2, kereta2an di dlm mol, pesawat ulang alik ataupun merpati pos.
3. Jangan memaksakan diri jika lelah berlebihan, kleyengan, pusing, kunang2 dan heartrate naek tiba2. Anda yang lebih tau alarm tubuh anda. Lalu coba pikirkan dan evaluasi, gejala2 itu dikarenakan olahraga yang terlalu berat atau akibat deadline bayar cicilan yang udah dekat.
4. Tidur yang cukup. Hidrasi dan sarapan yang baik. Hindari aktivitas outdoor pas lagi terik-teriknya di tengah siang hari, lebih baik minum es kelapa muda aja itu mah lebih faedah.
5. Pake sunblock secukupnya, boleh touch up lipstik atau maskara, tapi tidak perlu digelung konde, rambut disasak, make up artist dan sepatu hak tinggi. Ini olahraga bukan mau wisudaan.
6. Jika aktivitas dilakukan di jalan aga besar atau bahkan jalan raya, lebih baik jika lari/ jalan kaki dilakukan secara melawan arah. Kalau sepedahan sesuai arah jalur sepeda aja. Hal ini lebih memitigasi resiko jika pengendara mobil/motor kurang hati2. Ingat ya melawan arah, bukan melawan orang tua.
7. Lakukan secara bertahap, mulai dr yang pendek-pendek dulu 500m jalan, naek olahraga berikut nya 1km, berikut nya nambah lagi dan seterusnya. Konsisten lebih penting. Sabar aja. Jangan tiba2 jalan/lari/sepeda rute Bandung-Garut atau Garut-Zimbabwe. Ada saatnya nanti.
8. Di zaman industri 4.0 ini, terdapat banyak aplikasi atau tontonan youtube yang memberikan tips2 atau training plan lengkap bagi yang mau berolahraga sbg pemula. Jika kurang jelas boleh aktif bikin diskusi kelompok, aktif cari jurnal tambahan, aktif ikut komunitas atau aktif tanya ayang, anda kan alumni Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) pada era nya.
9. Mulai manfaatkan setiap celah untuk bergerak dan menyalakan strava. Misalnya belanja sayur mayur ke depan komplek, jalan di mol, audit keliling pabrik, ketemu client, pergi ke tempat ibadah, atau dipanggil mertua. Kurang2in nyuruh OB untuk sekedar ambil minum atau beli makan, apalagi cuman kasih tips 2rb, kerjakan sendiri aja.
10. Kalau bawa mobil, coba parkir aga jauhan, jd bisa berjalan kaki dan nyalain strava. Asal jangan, misal mau nonton di BIP parkir nya di Palaguna, keburu udahan film nya itu mah.
11. Lakukan tantangan ini keadaan penuh kesadaran, sukarela, ikhlas dan bahagia agar jiwa sehat badan kuat, sesuai arahan pembangunan lewat Garis Besar Haluan Negara (GBHN) untuk menjadi manusia seutuhnya menuju penguasaan IPTEK dan peningkatan IMTAQ.
12. Males gerak dan males memulai itu manusiawi. Setiap orang mengalami nya. Kita sudah terbiasa dikuasai bos di kantor dan mertua di rumah (curhat penulis aja ini mah) . Jangan pula lah dikuasai rasa malas bergerak. Inget kita 7-8 taun lagi masuk umur 50an, jangan pura2 kaget. Hidup Sehat harus jadi jalan ninja kita.
13. Sesungguhnya kalian selama ini sudah menjadi atlet, minimal dalam cabang olahraga angkat beban keluarga dan atlet ketahanan keutuhan rumah tangga. Jadi jangan merasa nyubi-nyubi amat.
B. Tips bagi yg bukan nyubi :
1. Kalian tidak untuk diajarin. Terserah kalian aja. Tapi jangan takabur dan tetap rendah hati. Sebagai manusia kita hanya bisa berencana, isi atm yang menentukan jua.
2. ⁠Ajakin nyubi 99 yang lain untuk ikut tantangan 9295 ini. Kampanyekan hidup sehat dan bebas pinjol.
C. Buat Semua
1. Follow IG nya selebsportgram @chaidirakbar (ITB 99) content2 nya lengkap membahas olahraga, keluarga dan komunitas sesuai pengamalan nilai2 yang diajarkan Grup Band Soneta : nada dan dakwah.
2. Dalam menambah khazanah berpikir, follow IG nya komunitas olahraga 99 yaitu @cintalari99 , disitu bisa saling bertukar informasi dan budaya ITB 99 mirip acara titian muhibah.
3. Untuk update ttg acara reuni perak 25 ITB 99 tahun follow IG @itb.1999
4. Setiap meter dan kilometer yang kalian sumbang sangat berarti , krn Tantangan 9925 Ini bukan tentang siapa yang terkuat dan siapa yang terjauh. Ini tentang kita, tentang kebersamaan 25 tahun lalu, dimana kita sama-sama pernah digombalin dengan spanduk besar : “ Selamat datang putra putri terbaik bangsa”.
Selamat memulai tantangan 9925 Km !! 🏊‍♂️🚴🏻‍♂️πŸƒπŸ‡πŸŒ️πŸ›ΌπŸŽΎπŸ“⚽️⚾️
Sukseskan reuni 25 tahun ITB 99 6 Juli 2024
RGI.18052024

AJAKAN TANTANGAN 9925 (1)

Tantangan 9925 Km ITB 99 reuni 25 taun
*tulisan ini dibuat dalam rangka campaign challenge bergerak dalam rangka reuni 25 tahun ITB angkatan 99
A. Ini adalah Gerakan Angkatan ITB 99 secara kolektif untuk mengumpulkan jarak tempuh bersama sejauh 9925Km (sembilan ribu sembilan ratus duapuluh lima kilometer).
B. Jarak 9925 Km : 99 melambangkan angkatan, 25 melambangkan dalam rangka reuni 25 taun.
C. Tantangan ini berlaku mulai 20 Mei 2024 hingga acara puncak reuni perak ITB 99 pada 6 Juli 2024
D. Petunjuk umum tantangan :
1. Setiap alumni itb 99 diminta untuk melakukan aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berlari, bersepeda, berenang, berkuda, naik unta, ice skating, maen kasti, dan lain2. Intinya aktifitas fisik, bisa yang dikategorikan sbg olahraga ataupun bukan, yang pasti suatu aktivitas yang melibatkan pergerakan secara kinetis dari satu tempat ke tempat lain yang dapat direkam oleh aplikasi STRAVA.
2. Adapun aktivitas yang minim pergerakan kinetis seperti mindah2in kuda catur, maen monopoli, gulat romawi, berpidato, nonton ‘album minggu kita’, dll walaupun banyak manfaat nya dan bisa direkam lewat strava tidak termasuk kategori yang perlu dilakukan dlm tantangan ini.
3. Tantangan ini harus dikerjakan sendiri oleh yang bersangkutan, tidak boleh didisposisikan/diwakilkan kepada siapapun termasuk kepada suami/istri sendiri, apalagi ke suami/istri orang lain.
4. Tidak diperkenankan melakukan tantangan ini dengan menggunakan bantuan kendaraan bermotor, ebike, pesawat ulang alik ataupun merpati pos.
5. Setiap KM yang anda rekam di STRAVA akan dikumpulkan hingga 9925 KM. Tujuan nya untuk apa ? Ingat, tidak perlu semua kejadian di dunia ini dipertanyakan tujuan nya apa. Mungkin ini sudah takdir. Ambil aja hikmah nya nanti sendiri2.
6. Akan ditetapkan pemenang tantangan ini dalam beberapa kategori seperti peserta individu terjauh (paling banyak pengumpulan KM), peserta terkonsisten, peserta tersabar, peserta terkasian, peserta terpaksa, peserta favorit pilihan kasir Kokesma dan lain-lain. Kategori pemenang dan penetapan pemenang menjadi hak panitia.
7. Pemenang akan diumumkan di acara reuni 25 tahun ITB 99 pada 6 Juli 2024.
8. Segala perbuatan curang peserta tidak akan dikenakan hukuman oleh panitia. Biar Tuhan Yang Maha Esa yang membalasnya. Begitupun setiap kesalahan yang dilakukan panitia, tolong bukakan pintu maaf yang seikhlas-ikhlasnya.
E. Berikut cara ikut tantangan nya :
1. Yang sudah punya dan aktif pake aplikasi STRAVA, tolong Join group strava “ITB 9925”
2. Yang belum install STRAVA, silahkan install dulu aplikasi strava di appstore atau playstore lalu Join group strava “ITB 9925“
3. Yang tidak tahu cara install strava, buka youtube lalu ketik “cara install strava”
4. Jika lewat youtube ga ngerti juga, tanya pasangan aja : “ayang, tolong installin strava dong”
5. Jika no 4 blm berhasil jg, tolong tanya pasangan teman : “ayang, tolong installin strava dong”
6. Jika blm berhasil juga no 5, berati anda lagi berantem sm temen nya. Makanya jangan lupa selalu clearchat
7. Pokonya intinya yg no 2 ya.
F. Syarat mengikuti kegiatan ini :
1. Alumni ITB 99 yang sudah akil baligh
2. Sudah install STRAVA dan join grup “ITB 9925” di strava.
3. Kegiatan ini agar dilakukan dalam keadaan sehat dan meyenangkan, sukarela, saling memaafkan, ikhlas, tidak memaksakan diri, berkomitmen menjalankan butir2 Pancasila dan tetap membayar beban cicilan KPR masing2.
4. Mengajak teman ITB 99 lain nya, minimal ada bahan untuk posting di grup, bukan hanya sekedar aktif di WA grup untuk ucapan “selamat ulang tahun” dan “innalilillahi”, itupun pake sticker.
5. Kegiatan ini tidak dipungut biaya, tapi kalau peserta tetep maksa buat bayar, panitia akan menyediakan merchandise seperti visor, jersey, medali dan lain-lain untuk ditukar dengan uang kartal dan uang giral.
G. Yang belum ngerti juga dengan tantangan ini :
1. Tolong tanya teman ITB 99 lainnya, minimal ada alesan membangun hubungan kembali & bisa jaga silaturahmi
2. Kalau dah tanya temen sama sama ga ngerti, tlg tanya panitia.
3. Kalau gatau panitia nya siapa, ulangi no 1 sampai no 3 sampai lebaran taun depan.
4. Kalau dah nanya panitia ga ngerti juga, tolonglah instropeksi diri siapa tau yang anda tanya Panitia Idul Adha.
RGI.12052024
bersambung.

Thursday, November 28, 2019

SAYA DAN PALEMBANG TRI 2019

*) Bacaan bagi para virgin tri (Bagian 5)
Kawan,
Jakabaring Pelambang adalah venue dimana Asian Games 2018 cabang Triathlon diperlombakan. Oleh karenanya, untuk saya yang alumni SD INPRES ini, keinginan untuk turut serta berlomba di Palembang Triathlon bagaikan Adam Jordan mendambakan Lulu Tobing di sinetron Tersanjung 3 : menggebu-gebu & terburu nafsu.
Kawan, race di Palembang ini istimewa. Pada race triathlon yang sudah-sudah, saya biasanya tidak memiliki beban apapun kecuali mengalahkan diri dari rasa takut menghadapi laut, lalu berjibaku melawan lelah ketika bersepeda dan lari, berjuang dari ketabahan beresin tagihan kartu kredit biaya race&akomodasi, dan paling penting tetap membangun biduk rumah tangga tetap harmonis sehari setelahnya.
Sedangkan kali ini saya dihadapkan pada kompetisi internal yang tidak berfaedah, persaingan yang tidak memberikan keuntungan apa-apa dan berlomba dalam kesia-siaan. Ya, saya akan bersaing dalam sebuah kejuaraan virtual yang menjurus ghoib. Pesertanya ? 4 orang. Itupun 1 mengundurkan diri.
Di antara 400 peserta Palembang triathlon lainnya, saya berkompetisi melawan teman-teman seangkatan kuliah yang akrab namun kurang harmonis, yaitu sebagai berikut :
1. Maryandi. Pemegang rekor lari 400m putra olimpiade ITB angkatan 99. Maryandi lulus cenderung cumlaude dari Planologi ITB. Kemampuan dribbling bolanya di atas rata-rata pemain bulutangkis, kekuatan fisiknya kombinasi Rully Nere dan Jeremy Teti. Prestasi terbesar dan layak dikenang dalam hidupnya adalah berhasil meyakinkan istri untuk dibelikan sepeda TT dan kemudian rumah tangganya tetap akur (setidaknya begitu yang diperlihatkan di media social).
2. Adi Mulyadi. lulus meyakinkan dari jurusan Kimia ITB. Sangat terobsesi mirip Syahrul Gunawan. Fokus mendalami triathlon untuk menebus masa kelam hidupnya yaitu tidak lulus casting “Jin & Jun”. Kemampuan Adi bertriathlon didukung oleh penguasaan tentang “10 dasar kesalahan berenang tingkat pemula”. Pengetahuan lugas tentang teknik efektif bersepeda, serta hafalan doa-doa manasik haji adalah kunci utama kepercayaan dirinya.
3.Lawan terakhir saya dan yang paling kuat adalah Meidy Utama, lulus Cumlaude Teknik Lingkungan ITB 99. Kemampuan memainkan gitar klasik dan penguasaan sempurna dalam tajwid kitab suci menandakan Meidy sebagai produk berhasil dari program Bang Haji Roma pada era repelita IV : Nada dan Dakwah. Meidy adalah kombinasi sempurna antara olahragawan, ilmuwan dan copet pasar baru : Analisa tajam, tidak banyak bicara dan larinya terbirit-birit. Namun sayang di saat-saat akhir Meidy mengundurkan diri karena alasan istri. Alasan absolute yang saya yakin Adolf Hitler saja tidak berani membantahnya.
4. Chaidir Akbar. Teknik Lingkungan ITB 99. Ketua Triathlon Buddies. Jelas ini bukan lawan. Bertugas sebagai juri dan sekaligus pemegang kendali komando seperti petugas iqomat. Tangan dinginnya dalam melatih calon triathlete setara dengan Dedi Dores dalam mengorbitkan penyanyi pop rock macam Nike Ardila dan Popi Mercury. Kami semua mempunyai pandangan yang sama bahwa dari kami berlima dialah satu-satunya yang paling pantas menyandang gelar brand Ambassador Hoka One one, Garmin, Sepeda Trek, Herbalife, sirup Marjan, pelancar ASI Asifit hingga On Clinic.
Palembang tri memiliki rute yang sungguh epic. Berenang 1500m akan dilakukan di danau Jakabaring yang jernih airnya, tawar rasanya dan tentunya tanpa ombak dan arus ! Bersepeda 40Km melintasi jembatan bersejarah dan terindah, yaitu jembatan Ampera. Kemudian berlari 10K akan mengitari komplek Jakabaring Sport City. Persis rute ASIAN GAMES. Rute ini sungguh menarik untuk siapapun yang menunaikannya, terkhusus untuk kami berlima, generasi remaja harapan orde baru yang pada masa kecil pernah terluka kesehatan mentalnya oleh undian PHP permen karet YOSAN.
OMBAK DAN ARUS
Tidak seperti biasanya, menghadapi di Palembang tri ini saya menjadi pribadi yang inheren dengan rasa tenang dan berkawan baik dengan percaya diri. Faktor utamanya dikarenakan swim leg kali ini akan dilakukan di danau yang jelas tanpa ombak dan arus. Kawan, saya coba jelaskan sedikit duduk perkara bedanya ombak&arus dan kenapa ini penting bagi para kebanyakan mualaf triathlete.
Ombak dan arus adalah duet maut dengan dua kepribadian yang berbeda seperti halnya Batman dan Robin, Hawkeye dan black widow atau Endang S Taurina dan Ratih Purwasih. Apakah setiap lomba di laut kita akan mendapati ombak dan arus laut sekaligus atau tidak, itu bagai permainan dadu. Kadang beruntung seperti dapat undian porkas, kadang sial seperti lupa clear chat. Kita ga bisa duga, ombak dan arus kadang hadir kadang izin alfa. Oleh karena nya doa-doa adalah penentu, itulah mengapa swim leg merupakan bentuk amal ibadah yang lebih baik daripada menyantuni wanita berhak tinggi.
Apa perbedaan ombak dan arus ? Begini kawan. Ombak itu dari tampakan nya saja seperti tatapan guru BP pada murid yang ga pakai sepatu warrior : sungguh horror dan bikin ciut. Sedangkan arus adalah hipnotis istri untuk membuka pin HP yang padahal sudah dikunci kombinasi davinci code sekalipun.
Ombak adalah tangible, tampak mata dan gertakan, adanya di permukaan. Sedangkan Arus bersifat intangible, tidak terlihat namun menghanyutkan. Jika ada teriakan “Ini whatssap dari siapaaa??” nah itu suara ombak, sifatnya menggelegar dan bikin cegukan hilang. Sedangkan bisikan lirih “Transfer ya sayang” adalah arus bawah laut, menghanyutkan dan sunyi melenyapkan.
Ombak laut dalam sekejap dapat mengubah seorang triathlete jadi sapi glonggongan, sedangkan arus laut dapat membuat triathlete bersakit-sakit dahulu dan berenang-renang tidak mencapai tepian. Ombak dan arus diciptakan agar para penggiat triathlon tetap rajin berlatih dan selalu dekat dengan Tuhan.
SWIM LEG
Hemat cerita, tibalah saya pada start line. Bendera start diangkat setelah agak terlambat 30 menit dari jadwal yang ditetapkan. Keterlambatan ini masih dalam batas toleransi kami menunggu. Buat kita para triathlete dewasa menunggu selama 30 menit tidak ada apa-apanya, karena kami para pria berpengalaman pernah menunggu hingga 40 hari 40 malam hingga selesai masa nifas.
Kami berenang di danau Jakabaring ini dengan jarak 1500m dengan rute yang membentuk segilima, sehingga total ada 4 buoy sebagai "checkpoint" di danau, sehingga anggap lah jarak antar garis start buoy adalah rata-rata 300m. Adi Mulyadi, Saya, Maryandi berbarengan masuk nyebur ke danau secara bersamaan. Maryandi bergaya lompatan atlet PORDA, gagah. Saya dengan gaya peloncat indah, tapi gagal. Sedangkan Adi dengan gaya pasien IGD turun dari korsi roda.
Kawan, berenang di start triathlon 300m pertama adalah selalu tentang ujian ketenangan dan pendidikan rasa sabar. Tidak terbawa suasana balapan dengan orang lain adalah modal dalam mengarungi kehidupan 1200m sisanya. “kepala ada di kaki, kaki berada di kepala” bukan lagi peribahasa puitis yang penuh kepalsuan konotatif.
Tersenggol, tertendang, tersikut perenang lain biasa terjadi. Kami antar triathlete sudah saling mengerti dan teruji tingkat kedewasaannya. Mungkin kebanyakan triathlete adalah alumni penonton konser punk atau dangdut koplo. Jadi kami tidak akan saling tersinggung sama lain apalagi hingga emosi.
Tapi, rasa saling mengerti yang sedang duduk manis ini tiba-tiba hilang tak bertuan saat Maryandi tanpa salam dan doa untuk 5 agama, tiba-tiba menyusul ngebut dan menyelinap di antara perenang lain. Sejurus kemudian Maryandi terdepan lalu menghilang. Saya tahu Maryandi adalah pemain bola jagoan, penghafal handal rumus-rumus kalkulus dan suami perayu ulung yang senantiasa menghindari konflik antar suku dengan istrinya sendiri. Tapi eskalasi kemampuan berenang Maryandi membuat saya terheran. Di Palembang Tri ini Maryandi gilang-gemilang, setidaknya itu yang tampak mata saya di 300m pertama. Selebihnya saya tak tahu lagi, karena saya kembali berhadapan dengan konflik horizontal dengan diri saya sendiri. Di mana Adi Mulyadi ? Walau tampaknya sedang mempraktekan hafalan "10 kesalahan gerakan berenang di danau", pace berenang nya tetap lebih cepat dibanding Ibu hamil selesai sesar.
Hingga mencapai bouy ke-3 sebetulnya saya tak mengalami kesulitan berarti di swim leg ini kecuali satu hal : kecepatan. Ya, saya dan kecepatan dalam berenang belum saling mengenal jauh, kami masih dalam taraf perjodohan yang dipaksakan. Jadi kami masih di jalan hidup masing-masing tidak saling cemburu. Sedangkan di sisa 300mm akhir, saya kembali ke kebiasaan kesalahan lama yaitu mismanagement gerakan antar lini stroke, kicking, gliding, breathing, sighting. Saya keseringan breathing-sighting-breathing-breathing-sighting, atau kosakata sederhana nya : ngap-ngapan.
Selesai swim leg dan keluar danau, saya sepertinya berada di rombongan akhir para perenang yang mencapai tempat transisi. Adi Maryandi dan Maryandi tampaknya jauh selesai duluan. Saya menghabiskan waktu selama 55 menit, ini catatan terbaik saya dalam mencapai 1500m swim leg selama mengikuti triathlon Olympic Distance di Palembang. Ya karena baru sekali ini. Saya mendapati tempat transisi (T1) seperti baris tarawehan pada 10 malam terahir : sepi dan tersisa yang tua-tua.
BIKE LEG
Waktunya menghadapi bike leg 40Km yang dibagi atas dua loop. Saya akan melintasi 2 tanjakan di jembatan tinggi Ampera. Seharusnya ini perkara kecil dibanding penderitaan tanjakan yang pernah saya alami di triathlin sebelumnya. Yaitu melewati 6 kali tanjakan di Cebu, 18 kali tanjakan argenia loop Sentul dan 24 kali tanjakan percobaan minta sepeda TT ke istri. Dua jalur di sepanjang jalan jembatan ampera Palembang ini dibagi dua, satu untuk kami para pembalap sepeda, satu jalur untuk para pengendara bermotor. Tampak sekali para pengendara bermotor kota pempek ini menyemangati kami para pembalap, yaitu dengan cara membunyi-bunyikan klakson nya. Sungguh riuh. Saya bersemangat. Walau ternyata hal itu fantasy belaka, ternyata klakson2 tersebut agar kami para pesepeda segera menyingkir jauh.
Saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk memacu si Bungsu, begitu sepeda saya biasa dipanggil. Target saya menyusul Adi dan Maryandi demi memenangkan persaingan yang tidak bernilai akhlakul karimah apa-apa ini. Namun belum sampe 20 menit diatas sepeda, hujan besar bertatap muka di Palembang, jarak pandang jelas terbatas sekitar 100m. Saya sedikit berhati-hati takut sepeda kepeleset dan jatuh dari jembatan Ampera ke sungai Musi, masa saya harus mulai dari swim leg lagi.
Selama bike leg ini saya berharap dapat melihat atau berpapasan dengan para triathlete nasional sekaligus atlet tuan rumah, seperti Jauhari Johan dan Ahlul Firman,sayangnya ga kesampean. Tampak di rombongan pleton depan ada beberapa yang saya kenal seperti triathlete pejuang antidiabetes Sdr. Piston, sahabat saya sesama anggota Barudak Triathlon Bandung Pak Hendra Kimshenk dan si ganteng maut berdarah cuko asli Palembang keturunan Hakim Olajuwon, Sendy Putra.
Tampak yang lain seperti Adi, Maryandi dan drg. Aditya berada di rombongan pleton yang sedikit tercecer di belakangnya. Sedangkan saya berada di belakang nya lagi, masih berjarak sekitar 3Km dari mereka dan dalam masa perjuangan menyusul selebtrigram kuat kombinasi Lisa Blackpink dan Daud Jordan : Hilda Novianti (@hildnov). Tidak jauh di belakang saya ada Bu Febe (istri pa Hendra Kimshenk) dan adik kelas saya di kampus, Luthfi yang menggunakan sepeda lipat. Ironi.
Di loop kedua, pelan-pelan hujan mulai mereda dan pelan-pelan saya dapat memotong jarak dari Maryandi dan Adi. Tapi karena pelan-pelan, hingga finish bike leg berakhir saya tidak bisa menyusul mereka berdua. Apalagi Piston, Pak Hendra dan Sendy sudah jauh di depan. Sedangkan Hilda ada dimana, saya tidak memerhatikannya lagi. Kata almarhum ayah saya, tidak baik cari-cari istri orang lain.
RUN LEG
Masuk transisi 2, antara sepeda dan lari, saya mendapati semua barang dan peralatan yang saya simpan di transisi seperti sepatu, kaos kaki, visor, bib, baju ganti, foto istri*) basah kuyup karena hujan tadi. ini pelajaran berharga buat saya agar kedepannya barang-barang di transisi baiknya dilindungi kantong plastic, tenda atau asuransi merangkap investasi. *) dalam konfirmasi
Di run out ternyata ternyata bertemu Maryandi. Kami ngobrol sebentar dan tersadar bahwa persaingan di antara berdua ini hanyalah bersifat fana, tapi tidak dengan Adi Mulyadi. Maka kami bersepakat untuk bersekongkol untuk lari bersama-sama menyusul Adi di depan. Setidaknya kami dapat saling menyemangati dan bercerita satu sama lain, minimal dengan Bahasa isyarat. Karena sebetulnya kami tidak ingin bersaing, hanya keinginan saling mengalahkan saja yang sangat besar.
Tampak Adi terlalu jauh untuk disusul, karenanya lepas 5km pertama Maryandi mendisposisikan seluruh kewenangan menyusul ini kepada saya, ditambah tidak ada lagi bahan pembicaraan diantara kami. Ternyata mengobrol sambil berlari kedua setelah berenang 1500m di danau dan bersepeda 40K tak ubahnya keramas sambil push up : belepotan.
Kawan, run leg ini dilakukan di dalam kompleks jakabaring, luar biasa steril dan kami berlari sekencang mungkin tanpa rasa khawatir kesenggol kendaraan bermotor, motor melawan arah atau razia mobil ganjil genap. Namun di 5Km kedua tidak ada lagi kekuatan apapun dari diri saya untuk memacu lari, yang penting finish sehat dan keluarga tetap utuh.
Akhirnya Adi Finish duluan kemudian disusul saya dan diikuti Maryandi. Tampaknya secara de facto Adi Mulyadi memenangkan kompetisi internal ini. Tak terima dengan keputusan ini, kami (tepatnya saya dan Maryandi) bersepakat melakukan rekapitulasi per leg. Dan hasilnya adalah, untuk swim leg 1500m persaingan sia-sia ini dimenangkan Maryandi dengan 43:41 menit, bike leg 40Km dimenangkan Adi dengan 1:14:47 dan run leg 10Km dimenangi saya dengan waktu 53.53 menit. Hasil yang cukup adil namun rawan konflik di tingkat banding.
PENUTUP
Rasa syukur terbesar dari kami bertiga adalah kami tetap sehat dan tidak disusul Hilda Novianti dan Bu Febe. Beruntung juga bahwa kami tidak satu kategori race bersama dengan para triathlete golongan sayap radikal saperti Narita Diyan (@naritadiyan), Ayu Sumardoko (@ayu_soemardoko) dan atau Xtin Milan (@x.t.i.n_m.i.l.a.n). Pengalaman buruk saya disusul di duathlon Powerman, Pariaman Triathlon, Sungai Liat triathlon oleh mereka-mereka adalah bukti empiris bahwa emansipasi wanita kejam bagi kami, para pria dengan keterbatasan stamina.
Selesai race kami bertiga melakukan konsolidasi angkatan dengan Kuch Chaidir Akbar, kami mendiskusikan banyak hal dan mengambil satu kesimpulan bersama. Bahwa sesungguhnya jika ikut race Palembang Triathlon jarak OD pada hari minggu yang diguyur hujan lebat, maka dipastikan besoknya akan memasuki hari Senin.
Demi masa depan yang lebih future.
Rizal Ginanjar @sukria21
Triathlon Barudak Bandung
27.11.19

Tuesday, June 18, 2019

Saya dan Bangsaen 70.3

*) Bacaan bagi para virgin tri (Bagian 4)
Kawan,
jika ada seseorang mantan profesional marketing yang kena tipu propaganda marketing tingkat dasar&pemula, maka orang itu adalah saya sendiri. Bagaimana tidak, hanya karena tergoda isi propaganda murahan di halaman depan website, rusak sudah martabat ini dipecundangi race 70.3 Bangsaen-Thailand.
Begini sebagian bunyi propaganda sialan tersebut :
Why race with us ?
• Flat water with a temperature of 24-27 degree Celsius • Easy to achieve a personal best in the bike course • Enjoyable run course • Great Hospitality • Easy access from Bangkok City - only a 60 minutes drive • Many special activities during the weekend • Enjoy Thai food and traditional massage • Enjoy shopping in Bangkok or spend nightlife in Pattaya city after finishing the race •Our favorite race in Thailand
sumber:http://asia.ironman.com/triathlon/events/asiapac/ironman-70.3/bangsaen.aspx#axzz5q4pbkbVg
Tiga point teratas sudah cukup membuat triathlete minim skill dan penuh ampunan seperti saya menjadi yakin untuk ikut berpartisipasi. Ditambah bisikan-bisikan para suhu triathlon kelas diamond macam Kuch Chaidir akbar dan hipnotis tingkat Uya Kuya oleh Rudy Winarto, saya semakin termotivasi untuk daftar tanpa tekanan dari pihak berwajib manapun. Triangle kata-kata dalam website (i)Flat water (ii) Easy to achieve a personal best in the bike course dan (iii)Enjoyable run course adalah segitiga illuminati dalam bentuk nyata dan penuh tipu daya, dimana tambahan kalimat “Our favourite race in Thailand” merupakan lingkaran mata dajjal yang membuat saya terpana dan lalu tunduk patuh menjadi pengikut jamaah al-Bangsaeniyah 70.3.
Saya mengisi berlembar-lembar form pendaftaran race tanpa rasa gentar, tanpa sedikit pun terpengaruh propaganda marketing basic tingkat II seperti “senin harga naik”, “beli sekarang gratis AC” atau “bayar sekarang, Istri menjadi muda”. Saya membayar biaya race tier 2 dengan penuh aroma kemenangan, optimistik dan sedikit angkuh. Setelah mendapat email konfirmasi lolos sebagai calon peserta, saya pun mendownload lagu-lagu yang dapat mempertahanakan optimisme dalam menatap masa depan di race Bangsaen 70.3 seperti “bangun pemuda pemudi”, “garuda pancasila” dan “ingat siksa kubur”.
Persiapan Race
Dengan kondisi Bangsaen yang menurut catatan website nya flat water, saya tidak memfokuskan latihan di berenang, toh saya pernah menyelesaikan race Cebu 70.3 yang jelas-jelas tidak flat, berarus kencang dengan peserta yang sesak ramai mirip acara istigozah NU, padat dan khidmat. Di atas kertas, jika di Cebu saja lolos harusnya saya lolos di Bangsaen dengan mudah, minimal karir saya tidak mentok di swim leg. Untuk itu, persiapan berenang saya kerjakan menu latihan sekitar 8-10Km per bulan selama 3 bulan, itupun sering saya jama-qosor.
Sesunggunya dalam berenang isunya adalah teknik, karena toh memperbanyak mileage berenang dengan teknik yang salah malah akan membentuk muscle memory yang salah, yang justru akan semakin sulit untuk memperbaiki ke arah yang husnul khotimah. Berkaitan dengan hal tersebut, saya memilih berteman dengan mantan motivator gagal dan sekarang menjadi pegawai sipil Amerika Serikat, Adi Mulyadi. Dia bersama rasa tulus dan ikhlas yang tertanam rimbun dalam dirinya pernah memberitahu saya tentang “10 kesalahan dasar dalam berenang bagi pelajar pemula dan pramuka tingkat siaga”. Dan kita pun bertemu. Lalu di depan mata kepala saya sendiri Adi Mulyadi mempraktekan kesalahan-kesalahan dasar tersebut : seperti stroke terlalu cepat, nafas terburu-buru, kicking tidak efektif serta terlalu jujur sama istri.
Jelas hal ini menambah pengetahuan dan cakrawala saya. Namun sayangnya, pada saat sesi tanya jawab saya minta agar dia mempraktekan teknik yang benar, Adi Mulyadi tidak berkenan menjawab karena tidak merasa kompeten : “karena bukan spesialis saya”, katanya. Sungguh waktu yang sia-sia bagi mata kepala saya sendiri.
Saya memilih memperbanyak latihan bersepeda. Cita-cita saya tidak semuluk Atta Halilintar untuk tembus 20 juta subscriber, tidak sehebat Pak Jokowi yang ingin membangun 5000km jalan tol, tidak seambisi Pak Prabowo agar Indonesia menjadi macan Asia. Saya hanya bercita-cita meningkatkan avg speed dari 24.21 km/jam saat race cebu menjadi 28 km/jam saja di Bangsaen ini. Sehingga menurut perhitungan di atas kertas, jika di cebu saya menghabiskan waktu 3 jam 41 menit, maka di Bangsaen saya berharap menjadi sub 3.30 menit. Itu saja. Muluk-muluk ? tidak. rasional ? tentu saja belum tentu. Semua tergantung usaha, doa dan sesuai pepatah : laki-laki hanya berencana, perempuan keburu curiga.
Oleh karena itu, untuk mendukung pencapaian cita-cita tersebut saya giat melatih endurance di atas statis dumbtrainer, melatih handling dan menguatkan power di loop argenia sentoel, serta menghapal doa-doa pendek, seperti doa selamat diperjalanan dan doa agar tidak takut mertua.
Bagaimana dengan persiapan lari yang akan tempuh dalam bingkai “Enjoyable run course”. Kawan, rasanya kata enjoy itu tidak ada perubahan yang berarti dalam Bahasa Indonesia, semuanya bernada positif : nikmat – menikmati, dipakai untuk keadaaan yang membuat happy, nyaman dan menyenangkan. Jadi kata-kata “enjoyable run course” dalam cepat-cepat saya terjemahkan sebagai “pokonya bagian lari nya enak, sejuk, pemandangan indah dan latihan secukupnya tidak berlebih-lebihan, karena ini hanya urusan dunia yang fana.” Jadi latihan lari saya banyak dihabiskan untuk menjaga kebugaran saja, target sebulan menghabiskan 100Km selama 2 bulan. Ini pun sering kali alpa, karena saya punya hubungan kekeluargaan yang kurang baik dengan bangun pagi.
Tiba di Bangsaen
Sampailah saya di Bangsaen bersama pasangan triathlete berbudi pekerti, berakhlak mulia, berpendidikan tinggi, dan jamaah fanatik lambe turah : Verania Andria (Rara) dan Abdul Wahib (Ucok). Keduanya PhD. Kami menyewa mobil double cabin dari Suvarnabhumi airport dengan perjalanan mencapai Bangsaen ditempuh dalam 60 menit, sesuai apa yang disampaikan di website. Sungguh merupakan informasi dari website yang akurat dan berakhlak luhur.
Kota kecamatan ini Bangsaen tidak lebih tidak kurang seperti Pangandaran, selain memang kotanya kecil, pedagang kaki lima sepanjang pantai, juga karena dimana-mana saya bertemu dengan orang Indonesia. Ya, Indonesia menjadi penyumbang peserta ke-4 terbanyak di race ini. Di acara check in sepeda saja, saya tak henti hentinya bertemu dengan sesama orang Indonesia. Kita saling bertegur sapa, salam-salaman dan selfi-selfi. Mirip bubaran Solat Id. Bangga sekali saya menjadi orang Indonesia yang sudah teruji penuh keramahtamahan, kekompakan, persaudaran, dan tentu saja berteman baik dengan rasa sabar. Kalau pun tidak bisa mengatasnamakan satu bangsa, setidaknya sifat-sifat tersebut mewakili saya sendiri.
Rasa sabar tersebut pertama-tama saya tabung saat kunjungan ke mekanik sepeda. Sadar atas kemampuan membongkar sepeda jauh lebih baik daripada memasangnya maka saya putuskan untuk memasang sepeda dibantu para mekanik yang mulia. Setidaknya ada 10 pos mekanik. Saya datangi mekanik no 10 yang kelihatannya sangat serius, focus, tidak banyak bicara namun banyak bekerja. Mirip rampok Indomaret. Tampakan mekanik ini seperti orang Thailand kebanyakan, sedangkan gaya rambutnya sedikit mirip Mukhsin Alatas.
Walau saya dapat antrian ke-6 namun saya sabar. Saat tiba giliran sepeda saya dipasang, sang mekanik dengan sigap tanpa babibu, tanpa bicara satu kata pun, tanpa Assalamualaikum, tanpa memanjatkan puji syukur atas kehadirat Alloh SWT, dia langsung mengerjakan pemasangan sepeda saya. Ga sampai 15 menit sepeda saya terpasang tegak berdiri seperti habis minum viagra. Namun saat tiba giliran memasang rantai dan koneksi shifter DI2 nya, sang mekanik itu rautnya mulai berubah seperti orang Uganda yang tersesat di Ciroyom, tertegun dan diam seribu Bahasa. Jika ditambah kebisuan dia dari awal dia bekerja maka total jadi diam duaribu Bahasa. Dalam kebisuan itu saya tidak berusaha bertanya untuk sekadar basa basi, tidak juga menawari minum, atau sekedar bertanya berapa harga tanah per meter di Bangsaen atau menawarkan singgah ke rumah saya di Bandung, bagaimana biasa sebagai keramahan orang Indonesia pada umumnya. Toh saya bicara pun belum tentu dia bisa mengerti. Setelah sekitar 10 menit dia tertegun sambil sekali-kali mencet-mencet shifter DI2 dan menguatkan kabel-kabel sepeda saya, dia menoleh ke saya dan bertanya dalam Bahasa Thailan yang artinya kira-kira : “ini sepedah anda?”, lalu saya jawab dengan dua suku kata paling universal di dunia ini selain “oh no”, yaitu : “Oh Yes”.
Sadar saya tidak bisa berbahasa Thailand, dia tidak berminat meneruskan percakapan dengan saya dan lalu memanggil temannya yang bisa menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Mungkin agar saya menjadi mengerti, ah sungguh suatu niat baik costumer service yang ekselen. Lalu Muchsin Alatas itu menerangkan kepada temannya dalam Bahasa Thailand tentang keadaan sepeda saya. Selesai mendengarkan panjang lebar mekanik pertama dan tanpa memberikan feedback yang berarti, mekanik kedua ini menyampaikan ulang kepada saya. Saya siap mendengarkan penjelasan ini dengan sangat patuh dan tidak menginterupsi seperti akan mendengarkan ceramah subuh Zainudin MZ. Kali ini teman Muchsin alatas ini menerangkan hanya dalam 2 kallimat saja : singkat, padat, tidak jelas. Selesai dia bicara saya menjadi sedih dan haru. Sedih karena saya tau shifter DI2 sepeda saya macet tidak bisa diperbaiki,artinya saya akan bersepeda nanti dalam gear yang fix, tidak bisa pindah gigi. Haru karena mekanik yang kedua ini pun berbicara dalam Bahasa Thailand!! Ya Alloh, kenapa kau ciptakan dua orang Thailan ini begitu penuh birokrasi.
Race
Tiba juga pada race. Suasana di transisi sepeda seperti halal bihalal di kantor BUMN, masih salam-salaman, ramai dan tidak lupa foto-foto bersama setiap angkatan. Bedanya kemeriahan ini ditemani rombongan rasa tegang, perasaan yang biasa terjadi saat menjelang start triathlon atau saat hape dipegang istri.
Kawan, saya dan rasa sabar di Bangsaen ini mendadak jadi sahabat karib. Selain shifter DI2 sepeda yang sudah divonis macet, menjelang start ini saya mendapati ban depan sepeda saya bocor, sedangkan 10 menit lagi gate transisi akan ditutup. Tanpa mau ambil resiko, setelah berkonsultasi dengan Kuch Chaidir Akbar, saya putuskan untuk memohon pertolongan mekanik yang stand by di daerah transisi. Saya menemui dua mekanik dengan mukanya sama-sama cemberut, asam dan muram. Tuhan menciptakan orang Indonesia saat tersenyum, tapi mungkin menciptakan 2 orang Thailan ini saat sembelit.
Puji syukur saya panjatkan, mekanik ini dengan sigap menggantikan ban dalam sepeda saya, cepat sekali. Sebelum saya sampaikan ucapan terimakasih dan memanjatkan doa terbaik agar mekanik itu : (i) dibalas segala amal kebajikannya (ii) dimudahkan jodohnya (iii) dilancarkan rezekinya dan (iv) dikaruniain istri yang tidak cepat menghabiskan rezeki tersebut, dia buru-buru menyuruh saya cepat balik ke pos sepeda saya. Saya pun langsung berlari dorong sepeda sambil tetap memanjatkan doa-doa tersebut. Pekerjaan ganda yang tidak sesulit berlari sambil berwudhu.
Start swim leg ini dengan system wave 3 orang – 3 orang. Ketegangan memuncak. Giliran saya maju start dan kemudian tangan petugas diangkat yang menandakan giliran saya masuk ke ruang sidang laut Bangsaen. Saya diajari oleh para senior triathlon untuk tidak terburu-buru berlari menuju laut agar HR terkontrol dan tetap tenang. Saya mempraktekannya dengan yakin. Ini adalah race triathlon ke-7 kali saya di laut, saya yakin laut sudah mengenal baik saya dan mau berkolusi untuk mengantar segera ke garis finish.
Namun Kawan, di duaratus meter pertama berenang ini saya kelimpungan. Ombaknya galak kaya Reni Jayusman. Agresif bak Mike Tyson baru dengar adzan magrib buka puasa. Saya kena hook berulang-ulang tanpa sempat ambil nafas, kepala pusing, ulu hati mual, saya tersudut dan hampir-hampir TKO. Untung saya sempat pegangan tali untuk menenangkan diri dan mengambil nafas panjang. Jarak pandang laut ini hanya sejauh ujung jari saya meregang, saya sadar telah ditipu website gratisan sialan. Namun Tidak ada pilihan lain kecuali saya tetap terus berenang menyelesaikan jarak hingga 1,9 Km. Namun stroke gaya bebas saya semakin lama semakin lemah, nafas sudah semrawut, air laut berbondong-bondong bersilaturahmi ke dalam perut saya. Saya menyesal ikut Bangsaen 70.3 ini. Jika saya dibolehkan memilihkan azab untuk seseorang yang nulis Bangsaen ini adalah flat water, maka saya pilihkan judulnya : “Azab seorang suami kena disentri karena hape nya diperiksain istri setiap hari dan whatssap nya tidak punya mode clearchat”.
Saya menghabiskan waktu di swim leg 55 menit. Finish berenang saya terhuyung menuju ke transisi sepeda dengan keadaan kepala serasa sebesar Ahmad Albar tidak cukuran 5 tahun, tangan pegal serasa habis dorong tractor mogok, badan lemas ter-demotivasi seperti baru terima kabar bahwa istri datang bulan. Belum selesai merasakan & mengingat-ingat hasil perjuangan di laut, di perjalanan menuju transisi saya teringat keadaan shifter DI2 sepeda saya yang macet, ban dalam yang sempat bocor dan cicilan KPR yang ga selesai-selesai. Semakin mual.
Memulai bike leg, tidak lupa saya mengucap bismillah dan doa nabi nuh menerjang air bah. Sepertinya penempatan doa yang salah, harusnya saya membaca itu sebelum nyebur ke laut. Tapi saya tidak menemukan doa lain yang lebih cocok lagi untuk memulai sepeda dalam keadaan kenyang air laut.
Saya sebetulnya mengawali bike leg ini dalam perasaan yang optimis karena hasil meningkatkan porsi latihan sebelumnya dan berbekal “Easy to achieve a personal best in the bike course” walau fisik carut marut. Selepas mounting point, saya bersepeda seperti genk motor lolos kena tilang polantas, lega dan gembira ahirnya bisa lepas dari laut. Namun kawan, 10 Km pertama bike leg ini seperti lewat di komplek perumahan ABRI tahun 70an, banyak speed trap dan polisi tidur. Alhasil bidon di aerobar saya jatuh. Ini ujian yang ketiga berkenaan dengan sepeda saya setelah DI2 dan ban bocor. Untungnya selama di Bangsaen ini antara saya dan rasa sabar sudah menjadi satu bingkai persaudaraan dan persatuan yang saya sudah terpaksa terima dengan lapang dada. Total 3 jam 22 menit saya tempuh jarak 90Km bike leg, alhamdulillah di bike leg saya berakhir menyenangkan dan husnul khotimah.
Masuk ke run leg, saya melihat teman-teman dari Indonesia sudah ada di transisi untuk bersiap-siap lari. Ada Om Agung Triharyadi dari Depok, Pak Deky Wahyu pemilik Gym D’Three spesialis pencetak otot ikal dan bergelombang, dan teman seperjalanan saya Abdul Wahib Phd. Tidak lupa kami foto selfie dulu sambil bersepakat mengeluh tentang panas matahari yang semakin siang semakin sok akrab. Suhu Bangsaen Panas 36C, bila naik 2 derajat lagi kota kecamatan ini harusnya ditaburi paracetamol biar reda.
Tapi diam-diam saya memendam motivasi yang tinggi untuk berlari, setinggi seperti ketika mendengar kabar istri sudah selesai masa nifas. Saya masih punya sisa waktu 4 jam untuk berlari 21.1K menuju batas akhir waktu maksimal (COT). Run leg ini terdiri dari 3 putaran, dimana satu putaran berjarak 7km. Jika sesuai dengan info website yang “Enjoyable run course”, maka 1 putaran teridiri atas 1 kali enjoy, berarti secara teori, kita akan mendapatkan nikmat & pahala duniawi sebanyak 3 kali total enjoy. Namun kawan, yang terjadi ternyata siksaan duniawi sebanyak 24 kali. Bagaimana tidak, dalam satu loop di Bangsaen yang enjoy ini kita melewati 3 tanjakan curam, 2 tanjakan melandai, dan 3 turunan curam.
Kawan, jika kau anggap berlari di turunan curam setelah bersepeda 90 Km bukan siksaan duniawi, maka cobalah pergi menemui mas Agung Herkules, lalu minta beliau jatuhkan barbelnya ke pahamu sebanyak 33 kali. Maka kau akan merasakan otot paha seperti ager-ager jelly drink. Sementara itu lutut dan tempurungnya bagai hubungan 15 tahun pernikahan, bawaannya mau copot. Dan ini semuanya dilalui dalam keadaan matahari seperti Selly Marcelina di umur 26 tahun, sedang hot-hotnya.
Kawan, ada momen-momen rute dimana kita berpapasan 2 arah antara pelari depan dan pelari belakangan. Momen dimana kita berada sebagai pelari di belakang itu rasanya pedih kawan. Dan itu saya alami ketika berpapasan dengan agen MLM triathlon tidak terpuji, pelaku hipnotis kepada para mualaf triathlon untuk “klik race”, anggota the cunihin tanpa selektif jenis kelamin, siapa lagi kalau bukan Rudy Winarto. Ini kali kedua saya terkena bujuk rayu Rudy untuk ikut race yang nyata-nyata jauh dari nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan.
Masuk loop 2 run leg adalah masa dimana saya merasa semakin sok akrab dengan Tuhan, saya sangat jarang untuk menangis di tengah malam salat tahajud, bukan karena saya hamba yang kuat hatinya, tapi karena saya tidak pernah terbangun. Tapi diloop 2 ini saya memohon dengan tulus, mau menangis rasanya karena panasnya kebangetan. Saya memohon agar ditolong seperti Nabi Ibrahim saat didinginkan apinya saat dibakar raja Namrudj. Maka, kun fayakun, Bangsaen malah semakin panas. Saya lupa teks doanya.
Di loop 3 saya mendadak tidak tahu bedannya lari dan jalan kaki, karena perasaan cape nya sama saja, sesaknya sama saja, kecepatan nya sama saja. Saat jalan capenya seperti lari, saat lari pace nya sama seperti jalan. Sebetulnya saat sejak loop 2, saya hampir selalu berbarengan dengan satu rombongan terdiri atas 1 orang perempuan dan sekitar 10 orang laki-laki, belakangan saya tahu perempuan itu adalah putri raja Thailan sedangkan sisanya adalah pengawal-pengawal kerajaan. Sepanjang berlari, para pengawal itu menyanyikan lagu-lagu mars yang indah sekali liriknya, sayangnya saya tidak mengerti artinya. Terinspirasi mereka, di loop 3 ini saya coba untuk menyanyikan lagu-lagu untuk menolong motivasi saya yang mulai lupa akan tugasnya, seperti lagu “Tuhan” karya Bimbo, “perdamaian” dari Nasida Ria ditutup dengan lagu bergumam dari Nisya Sabyan. Tepatnya saya sudah mendekati halusinasi.
Tuhan bersama orang-orang yang selalu mengisi ulang buah-buahan dan air di water station, karenanya saya selalu tertolong terhindar dari heatstroke serta dijauhkan sifat-sifat mengeluh dari rasa lapar dan dahaga hingga finish tiba.
Akhirnya. Saya finish dengan merentangkan sang merah putih, bendera kebanggaan saya dan lebih dari 250 juta orang sebangsa dan setanah air. INDONESIA. Atas nama anak bangsa yang sudah tertipu oleh website Bangsaen 70.3 ini, saya berharap ada dari sebagian kita yang membuat race di Indonesia khusus untuk para sahabat triathlon di Thailand untuk meningkatkan persaudaraan antar anggota negara ASEAN. Usulan rute : Renangnya di Parang Tritis Jogja, sepeda di tanjakan emen Subang, larinya ke warung Mang Ade-puncak. Sehingga finishnya bisa berakhir di RS Marzuki Mahdi-Bogor. Lalu Kita kasih judul race nya “ Enjoyable race in Indonesia, lebok anyeng..!”.
Kawan, beruntungnya race bersama banyak saudara sebangsa dan setanah air, kita diberikan berkah untuk menjalin persatuan Indonesia dalam bentuk nyata. Kita saling memberikan semangat dengan saling bertegur sapa dan saling mencela. Di sepanjang rute saya bertemu dengan Om Senjaya pemimpin spiritual Fake Tri, Teh Thya Girindra dari Bintaro yang dimana sebagai laki-laki murah hati saya harus mempersilahkan beliau lari duluan tanpa bisa saya kejar. Saya juga bertemu dengan teman-teman alumni minitri Tribuds yang jika bertemu seringnya sedang tidak pakai celana dalam seperti : Kang Yudi dari Burner, Sendi Putra dan Toni Lim dari UI tri, Yusuf Cupe G10tri, Lala Zain dari Canitri, Aidil Akbar dari Gotri, karena bertemu mereka selalu pas race pake triathlon-suit. Karena memakai celana dalam bersamaan dengan trisuit sungguh suatu pekerjaan yang berlebihan. Kami memiliki keyakinan yang sama bahwa ikut race triathlon adalah untuk hidup sehat namun tidak untuk tujuan awet muda. Karena awet muda hanya milik Sofia Latjuba dan model kaleng Kong Ghuan. Kenapa kaleng Kong Ghuan ujung-ujungnya tumpul, karena jika ujung-ujungnya pinjem ATM ga dibalikin namanya istri sendiri.
-Bersambung-
Rizal Ginanjar
The Cunihin.

Friday, November 23, 2018

SAYA DAN SENTUL ULTRA TRIATHLON 2018

*) Bacaan untuk para virgin Triathlon (bagian 3)
Kawan,
Ada dua kejadian yang membuat saya terheran-heran tahun 2018 ini. Yang pertama kenapa Angel Elga mau kawin sama Vicky Prasetyo. Yang kedua kenapa saya mau terbujuk rayu untuk ikutan race Sentul Ultra Triathlon (SUT 2018) dengan jarak : berenang 1500m, bersepeda 90Km, berlari 21.1Km.
Berbekal hanya dari referensi Kuch Chaidir Akbar (Idir), rayuan gombal nya bilang bahwa “SUT hanyalah ajang non kompetitif, ajang latihan bersama, tempat ketawa-ketawa para triathlete dan DNF pun ga apa-apa”. Dan saya percaya begitu saja bagai pasien IGD mau disuntik antitetanus.
Sebagai sesama laki-laki yang pernah mengenyam Pendidikan Moral Pancasila serta sama-sama mengidolakan Ibra Azhari, rasanya Kuch Idir tidak mungkin membohongi saya. Kami sama-sama percaya bahwa Tuhan akan marah atas semua perbuatan bohong, kecuali tentang harga sepeda kepada istri.
Namun mengenai “DNF pun ga apa apa” saya ko tidak terlalu yakin, apa benar para triathlete senior sepemurah itu ? Status DNF bisa membuat arwah keringetnya nguap gentayangan. Buat saya sendiri, bagaimanapun saya ini pemenang dari kompetisi milyaran sel sperma yang diselundupkan Ayah di Rahim ibuku setiap hari. Jadi untuk “DNF pun ga apa-apa” buat saya agak mengganggu martabat, walaupun selama ikut race triathlon di mana saja, martabat ini tak pernah punya tempat yang layak.
Kawan saya jelaskan sebentar, peserta SUT 2018 ini dikelompokkan atas beberapa golongan :
i) Golongan Triathlet Sufi, mereka yang akan menyelesaikan jarak double Ironman, (281.2 miles) mereka akan menghabiskan waktu maksimal kira2 36 jam..!! mereka start dari sabu pagi, akan selesai kira-kira di minggu malam. Bayangkan, dengan menghabiskan waktu 36 jam, Dangdut Academy sudah bisa masuk babak semifinal, sedangkan para triathlete sufi ini masih saja tawaf di Sentul.
ii) Golongan para jagoan namun butuh hidayah, yaitu golongan orang-orang triathlete senior yang pernah melewati jarak triathlon 70.3 miles, mereka ditempatkan pada hari sabtu atau minggu pagi untuk menempuh jarak 70.3 atau 140.6. Golongan ini bakal berada di race Sentul saat jam 12 siang, dimana panasnya mirip sama di Mekkah, namun pahala nya tetap saja pahala Sentul. Butuh hidayah bukan ?
iii) Golongan awam dan penuh ampunan, yaitu golongan orang-orang sok jagoan yang belum pernah mengenyam jarak 70.3 miles sekalipun, saya ada diantaranya. Kami ditempatkan di start sabtu sore. Tidak kena panasnya siang Sentul, namun berpeluang bertemu sundel bolong karena jam 12 malam masih ada lintasan. Keuntungannya COT nya diperpanjang hingga 8.5 jam, karena kami golongan yang penuh ampunan.
Dengan penggolongan seperti itu tentu saja saya tidak sempat bertemu para senior-senior dari teman2 ahlu ilmiah wal jamaah G10 seperti Roy Iskandar, Achmad Danang, Benyus, Mba L, Uda Darwis, Kang Awal, Piston dkk tidak juga ketemu om-om GOTRI penebar diskon kasih sayang macam Rudy Winarto, Om Reza, Om Ray, Om Aidil, Capt Renato, Om Ikbal, Om Joni, teman-teman F3 Lae DMP, “Mr. Happy” Lala, Om Senjaya dkk, apalagi bertemu teman-teman Tribuds 2017 yang butuh kasih sayang mertua seperti Franklyn, Narita, Hilda, Sendi dkk. Saya sempat bertemu Tirfan dan Yoyo yang habis finish sebagai bagian dari tim Jagoan yang butuh hidayah.Itu pun mereka terburu-buru mau pergi dengan muka ga enak seperti sudah nahan BAB 3 hari 3 malam.
SWIM LEG
Saya datang agak terlambat ke kolam, dan menjadi orang terakhir masuk ke kolam. Tampaknya tidak ada tanda-tanda adegan "latihan bersama" seperti yang disampaikan kuch Idir seperti di awal. Yang ada malah saling pamer kekuatan dan kecepatan renang masing-masing hingga kolampun bergoyang dan berombak. Jelas harkat&martabat langsung tunjuk tangan. Tidak sempat pemanasan lama-lama saya langsung nyebur ke kolam. Saya mulai berenang dengan gaya berenang yang saya tidak pernah lulus test EBTA praktek, yaitu gaya bebas.
Di race ini saya harus menyelesaikan berenang sejauh 1500m. Di 500 m pertama mungkin saya layak dapat penghargaan piala citra atas keberhasilan acting saya memeragakan renang seperti Matt Damon di film The Bourne Identity : atletis dan kebapak-an. Sampai pada akhirnya saya disamperin manusia setengah Hercules setengah ki Joko Bodo yaitu : Willy Pratama. Om Willy mendekati saya di ujung kolam dan menenangkan saya : “pake gaya katak mas biar HR nya turun”. Atas daya cenayangnya itu dia tahu persis sebenarnya saya sedang berjuang keras mendapatkan bulir-bulir oksigen karena memaksakan gaya bebas. Walhasil di 400m terakhir menuju 1.9K saya sudah habis nafas bagai Ona Sutra gagal nyanyi lagu Mariah Carey. Perlu dikasihani.
Kawan, saya lupa menyampaikan. Sesi berenang Triathlon biasanya dilakukan di laut, danau atau sungai. Namun karena konsep nya "latihan bersama" maka Sentul Ultra Triathlon ini dilakukan di kolam berenang. Berenang di laut biasanya dilengkapi rasa cemas secara tak terpisahkan sama sekali, bagai krisdayanti dan raul lemos. Cemas takut tergulung ombak, nyasar di tengah lautan atau cemas karena istri kelamaan ngecek HP yang dititipkan.
Biasanya jika berenang di laut, di tengah2 laut itu ada buoy sebagai penanda jarak dan rute. Beberepa perenang penuh ampunan akan berhenti sejenak di buoy untuk ambil nafas sejenak atau benerin kacamata renang atau apapun. Hanya saja untuk sekedar pegang buoy di tengah laut itu antrinya sudah seperti pembagian zakat fitrah di masjid Istiqlal, berdesak-desakan dan mengancam nyawa. Kalaupun sempat pegangan buoy, di belakang biasanya sudah antri kaya mau cium hajar aswad.
Nah enaknya di SUT ini kita kapan saja bisa menepi di ujung kolam untuk sekedar jeda sebentar, mengambil nafas dalam-dalam, sambil cek IG lambe turah atau hingga belanja online. Namun hati-hati, di SUT ini fotografer pujaan wanita & kesayangan pria seperti Cieko siap menjepret momen-momen aib apa saja, seperti ketahuan berjalan di kolam, pegangan tali pembatas atau garuk-garuk kemaluan teman.
BIKE LEG
Masuk bike leg, saya dihadapkan pada 2 kenyataan : minta berhenti menjadi peserta yang DNF atau lanjut bike leg dengan resiko pisah ranjang. Saya izin ke istri ikut SUT ini hanya sebagai peserta latihan bersama, sekali lagi bukan race kompetitif. Latihan bersama menurut kamus rumah tangga kami paling lama adalah 3-4 jam tanpa surat izin. Mengenai durasi COT 8.5 jam, saya sengaja sembunyikan sesuai prinsip para pria yang pernah baca RPUL : "Minta maaf lebih mulia drpd minta izin". Namun, entah karena firasat keibuannya sekaligus skill badan intelejen, kali ini istri saya tumben-tumben mau ikut hadir di “latihan bersama” durasi 8,5 jam ini. Siyal.
Kembali ke bike leg, satu loop di SUT ini setara 5Km, artinya saya harus menghabiskan 18 putaran untuk mencapai jarak hingga 90Km. Ingat 18 keliling. Peribahasa pusing 7 keliling tidak sampai setengahnya di SUT ini, ini 18 keliling bung!.
Pada loop 1-3 istri saya masih mau bertepuk tangan memberikan semangat, mengacungkan jempol dan tersenyum lebar seperti baru menerima uang bulanan, tampak romantis bukan? Dari kejauhan dia tampak seperti Sophia Latjuba versi Syariah, saya Indra lesmana versi dangdut, kami pasangan serasi namun rawan perpecahan.
Masuk loop 5, 6, 7 saya masih prima bagai Primus di "Panji milenium", masih bisa tebar-tebar senyum ke Istri yang masih setia menunggu di tempat awal, walau sekarang dia lebih mirip komandan Polwan yang sedang mengintai judi sabung ayam, wajah kesal dan siap menerkam. Tidak mirip Jihan Fahira sama sakali.
Masuk loop 11, 12 dan seterusnya saya sudah menjadi peserta upacara bendera pada bagian mengheningkan cipta, tertunduk lesu dan tak bersuara. Saya baru menyelesaikan bike leg 90K total hampir 4.5 jam. Saya sudah tidak berani lagi menyapa satu-satunya cheering point yang saya punya di event ini, tak lain yang mulia istri saya. Seringainya sudah mirip guru BP yang telat gajian, mendekatpun saya ga berani. Sebagai golongan awam dan penuh ampunan, saya layak untuk diampuni. Untuk tidak masuk ambulans saja, saya sudah beruntung, sudah sangat mengurangi beban ketertiban jalannya acara SUT ini. Kuhibur Sophia Latjubaku seperti itu, dia mengerti namun tampak muram. Setidaknya saya aman dari ancaman pisah ranjang.
RUN LEG
Kawan, salah satu godaan terbesar di SUT ini adalah rasa bosan, bayangkan kami nge-loop sepeda 18 keliling, dengan tanjakan yang sama, pemandangan yang sama, cheering point yang sama, istri yang sama. Kemudian rasa bosan ini harus saya lanjutkan di runleg dengan walau dengan putaran yang berbeda. Tapi pemadangannya sama, cheering point yang sama, istri yang sama dengan tampak yang berbeda-beda. Di run leg saya harus menyelesaikan 4 loop atau total 21.1 Km. Pada 5 Km pertama saya masih bisa berlari layaknya laki-laki normal : tenang dan tetap waspada, waspada dari gangguan begal, hantu, agen asuransi dan agen MLM. Loop 2 atau masuk 10K karena hari semakin malam, saya mulai takut hantu, karena ternyata saya harus melewati beberapa titik agak gelap dan sepi yang luput dari pengamatan marshal. Seharusnya saya berlari bersama istri saya, pasti hantu yang takut.
Loop 3 saya mulai takut begal, saya tak punya lagi tenaga ekstra untuk melawan jika begal-begal itu hendak merampok jam tangan, sepatu atau bahkan trisuit saya. Di saat-saat kritis inilah saya bertemu Dika dari G10triathlet, ada Dimas Gotri dan 2 teman lagi dari Bintaro runners. Seperti kata pepatah, 1 orang takut + 2 orang takut = 3 orang pemberani. Bersama mereka berlari bersama layaknya tentara Amerika kena ranjau darat di perang Vietnam, tertatih-tatih tapi tetap tampak heroic. Masuk loop 4 kami berlima sudah kepayahan. Saya menemukan pepatah baru, 1 orang triathle di KM 15 + 2 orang triathlete di km 15 = 3 ibu-ibu habis operasi sesar. Lemah dan pasrah. Yang satu pegang pinggang, yang satu meringkih, yang satu usap-usap perut tanda lapar. Kalaupun saat itu dicegat begal, saya sudah tidak bisa melawan lagi, saya hanya minta trisuit saya jangan diambil, karena saya tidak pakai celana dalam.
Sampai lah di 1 km terakhir menuju garis finish, Dika dan teman2 dari Bintaro runners sudah lari tunggang langgang kembali, sementara saya dan Dimas masih mencoba berlari dengan rasa sabar, tawakal, lemas & penuh doa. Di garis finish sana lah puncak rasa khawatir saya melebihi takut pada begal dan hantu, yaitu intel rumah tangga merangkap satpol pp merangkap pasangan hidupku yang sudah menunggu sekitar 8.5 jam.
Selesai finish, saya kemudian di datangi Om Farhan, Dewan penasehat The Cunihin yang selalu mengajarkan bahwa kita harus mengutamakan 2 hal di dunia ini (i) Tuhan Yang Maha Esa (ii) Mertua yang maha berkuasa. Andai saja saya kabareskrim, Om Farhan sudah saya kenakan pasal perbuatan criminal ringan karena dialah sesungguhnya agen MLM utama yang menjebloskan saya menjadi downline nya di triathlon ini.
Akhir kata, Saya menyatakan tidak akan pernah ikut SUT 2018 lagi, saya kapok dan merasa tertipu tentang “SUT hanyalah ajang non kompetitif, ajang latihan bersama, tempat ketawa-ketawa para triathlete dan DNF pun ga apa-apa”. Namun saya akan ikut lagi SUT 2019 bersama golongan orang-orang yang butuh hidayah lain nya. Saya mendoakan Om Paulus (Race Director )& Kuch Chaidir Akbar (ketua Tribuds) sebagai penyelenggara SUT 2018 diberikan kesehatan, kesempurnaan, keamanan, kebersihan dan kebahagaiaan selalu sehingga kami tetap bisa dijalur hidup yang salah ini.
Rizal Ginanjar The Cunihin
sukria21
#Bersambung

Sunday, December 10, 2017

Saya & Pariaman Triathlon 2017

*) Bacaan untuk para virgin Triathlon (2)
Kawan,
Setelah menjadi mualaf triathlon di Balitri, sebetulnya saya belum pede-pede amat untuk kembali ke race triathlon di 2017 ini. Namun, atas diskusi dengan teman-teman penggoda iman triathlon seperti Binbin, Om Farhan, Kapten Renato dan apalagi coach Idir ahirnya jari saya tergerak untuk mengklik form pendaftaran Pariaman Triathlon.
Saat isi form pendaftaran sebetulnya pikiran saya dipenuhi bayangan manis mencapai garis finish, dimana disitulah saya merasa gagah, optimis dan beriman, seperti rocker idola kenamaan yang selalu menguasai tangga lagu Album Minggu Kita : Hari Moekti. Namun setelah selesai saya mendaftar pariaman triathlon tersebut, saya liat kalender ternyata waktu tinggal 2,5 minggu lagi menuju race. Tiba-tiba saya dirundung kombinasi perasaan deg-degan, khawatir, antusias tapi bimbang, mirip situasi saat dapat bisikan : “mas, aku telat..”.
Dua minggu sebelum race, saya ikut Triathlon Relay (saya kebagian bike leg) dan juga Borobudur Marathon (HM), namun saya tetap merasa butuh latihan simulasi yang menggabungkan semua renang-sepeda-lari, terutama renang, ya renang. Untuk lari saya ga jelek-jelek amat lah, toh kalaupun cape bisa jalan. Sepeda ? saya merupakan golongan MATADOR (MAnggih TAnjakan, DOrong..!) jadi amanlah untuk bertahan hidup di bike leg. Tapi untuk berenang apalagi di laut, saya butuh seseorang yang bisa memberikan arahan sekaligus menenangkan batin. Oleh karena itu saya temui dan ajak latihan mas Willy Pratama, pria penuh kata bijak yang dalam darahnya tidak pernah mengalir rasa iba terhadap pemula triathlon seperti saya, sehingga saya dapat ditempa dengan baik. Lalu seperti biasa kami bersimulasi triathlon di Padepokan Voli (aneh bukan?) di Sentoel. tanpa latihan Voli tentunya.
Pada latihan itu mas Willy ditemani Mas Toni, Ironman yang sudah makan asam garam race triathlon local&internasional, yang memberikan masukan tentang kemampuan berenang saya. Kesimpulan berenang saya dianggap masih belum baik, tangan kiri masih kaku dan tidak baik untuk jarak jauh. Alih-alih mendapat ketenangan batin, latihan ini malah membuat saya butuh diruqiah, karena tambah takut. Betapa tidak, saat Balitri saya hanya menyelesaikan 500m swim leg, tapi di Pariaman ini saya harus menyelesaikan 750m. Lalu teman-teman yang ikut pariaman juga beropini bahwa Pariaman ini kategori lautnya samudra, ombaknya besar arusnya kencang, serta pantainya dalam membuat kaki gak bisa napak tidak seperti di pantai sanur. Lalu rasa takut saya makin mendapat tempat dan terus mengumpulkan pasukan. dan Hari Moekti pun berubah menjadi Daus Mini.
Biasanya untuk mengalihkan ketakutan dan membunuh rasa pesimis, maka saya akan baca buku-buku yang perjuangan yang dapat membangkitkan motivasi & optimism. Unutk kali ini saya baca buku “Untuk Negeriku” (Autobiografi M. Hatta), “Ku Antar Kau ke Gerbang” tulisan tentang Inggit Ganarsih karangan Ramadhan KH. dan terakhir “Budidaya Itik di lahan sempit” (Majalah trubus). Sedangkan latihan renang ? saya alfa terus hingga saatnya race tiba.
Tibalah hari race, rasa takut saya belum juga hilang, bahkan melihat ombak dan deburan sura pantai, hati makin ciut ga karuan. Lalu priit.. bendera start dikibarkan.
Pada swim leg 250 meter awal menuju buoy pertama, ombak pantai di pariaman ini terlihat cukup tinggi sehingga membuat hubungan para peserta triathlon dengan laut bagai Barry prima lawan Advent bangun dalam film “Darah Perjaka” : saling serang, saling berbalas jurus dan menyelamatkan diri masing-masing. Lalu sosok yang manakah saya dalam adegan ini? Advent bangun yang jahat namun kuat? bukan. Barry prima sosok pahlawan yang punya banyak jurus ilmu? bukan.
Saya adalah peran Mak Uwo : Pemeran pembantu, sosok lemah, sabar dan penuh sopan santun. Saya terima saja apa adanya saat ombak menghantam badan, tidak berusaha untuk berenang gaya apapun, toh pantai masih dalam jangkauan tinggi badan saya untuk berjalan. Saya mencoba mempraktekan wejangan Coach Idir untuk menghadapi ombak tinggi ini : hadapi serelax mugkin, tidak terburu-buru dan tidak lupa berdoa. Relaks dan tidak terburu-buru ini lah yang menjadi kunci saya dalam bersopan santun terhadap ombak. Saya ikhlaskan peserta lain terbirit-birit lari dan berenang menerjang ombak, sedangkan saya berjalan pelan-pelan sambil tak henti berdoa. Doa-doa terpanjatkan mulai dari Doa selamat dunia akhirat, doa nabi yunus saat di perut ikan paus dan tidak ketinggalan doa untuk istri agar segera disadarkan untuk mengembalikan ATM.
Barulah setelah kedalaman laut diluar jangkuan tinggi badan saya, saya pelan-pelan berenang dengan gaya andalan wajib yaitu gaya anjing laut. Sedangkan gaya katak masih menjadi sesuatu yang sunah, sesekali saya kerjakan. Gaya bebas ? lupakan, ini masih makruh buat saya dalam menggapai buoy yang pertama. Saya khawatir dengan gaya bebas saya nyasar hingga pulau Jawa.
Pada 250 meter kedua saya hanya berusaha sekuat tenaga agar mencapai buoy kedua, terpujilah orang yang memasang tali pada lomba ini, saya sesekali berpegangan pada tali untuk tetap menyelamatkan nafas dan terutama mengusir rasa minder terhadap luasnya lautan. Barulah di sini saya sadar, bahwa penyanyi dan pencipta lagu dangdut manapun yang selalu bilang “luasnya samudra kan kusebrangi..” adalah tipuan gombal murahan. Saya doakan suatu hari nanti mereka ikut race triathlon agar mereka tahu berenang 750m di lautan itu lebih susah dari sekedar goyang drible trio macan tiga hari tiga malam.
Setelah mencapai buoy yang kedua, tibalah saya pada 250m yang terakhir. Pada fase ini hubungan saya dan laut lambat laun seperti duet Tri Utami dan Uthalikumahua : damai, penuh harmoni dan saling menolong. Walau berenang tetap belok-belok tidak bisa lurus sesuai rencana kerja, namun dorongan ombak ke pantai membantu saya untuk gagah berani mempraktekan semua gaya berenang yang saya pelajari. Akhirnya lolos juga saya pada hadangan pertama ini dengan penuh rasa bangga dan gagah berani, namun tetap menjalankan ajaran2 orde baru : seimbang antara penguasaan iptek dan imtaq (iman dan taqwa).
Setelah saya cek ternyata saya adalah 4 orang terakhir yang keluar dari pantai bersama Mba Diana Sevi, Kapten (pilot) renato dan Pramugara idola para pria tomboy : Michael Butar-butar. Peserta lain ? sudah jauh di depan.
Masuk bike leg, target saya mulai ambisius yaitu mengejar ketertinggalan dari peserta lain, terutama mentor saya yang sudah jauh di depan menyelesaikan swim leg yaitu Om Farhan. Om-om ganteng yang memilih cunihin sebagai jalan hidupnya*)
*)Atas inspirasi cunihin ini, saya-coach Idir-om Farhan membentuk Trio The Cunihin. Target utama dan target satu-satunya cunihin kami adalah istri kami masing-masing, dengan visi mulia kami bagi kaum pria Indonesia : mempertahankan keberadaan ATM tetap ditangan suami.
Pengalaman saya dikalahkan di bike leg secara telak di Balitri, dan pengalaman baik saya mengalahkan om Farhan saat triathlon relay di Spring, membuat bike leg di pariaman triathlon ini sebetulnya layak dinanti untuk dicari mana yang lebih unggul seperti pertarungan antara Mcgregor vs Mayweather, McDoohan Vs Max Biaggi atau Hamdan ATT vs Meggi Z.
Namun apa dinyana, pemandangan indah Pariaman di jalur bike leg ini melupakan ambisi saya. Saya terpana pemandangan indah Pariaman.
Ingat lyric lagu anak “…Sawah hijau terbentang, bagai permadani di kaki langit..Gunung menjulang, berpayung awan.. “ lirik lagu Memandang Alam Ibu Sud ini jelas adanya di Pariaman. Pemandangan ini istimewa, bahkan jika dibanding dengan kota Bandung-kota kelahiran saya-, Pariaman ini lebih layak untuk disematkan predikat BERHIBER –BERsih, HIjau, BERsawah indah-. Jalan pun mendatar, mulus dan tanpa bolong-bolong layaknya kulit wajah Ruben Onsu.
Saya sadar betul di bike leg saya disusul oleh banyak pembalap kelas OD (Olympic distance), namun tetap saya biarkan. Saya lebih memilih menikmati pemandangan indah ini. Walaupun saya kejar, perbandingan kecepatan mereka dengan saya juga seperti perbandingan kecepatan kenaikan pendapatan saya dengan kecepatan kenaikan harga tanah di pondok indah. Ga seimbang dan jauh panggang dari api.
Alhasil bike leg ini gagal memberikan prestasi buat saya untuk mengalahkan pesaing terdekat saya, om farhan. Catatan waktu kami sebetulnya identik 42 menit. Namun karena om Farhan Finish berenang duluan, saya masih berada jauh di belakang saat finish bike leg.
Masuk run leg, saya tidak menghabiskan waktu di transisi untuk hal-hal gak penting seperti balas whatssap istri “lagi dimana, lagi ngapain”, baca-baca brosur Meikarta atau senam SKJ 88. Saya hanya berganti sepatu sepeda ke sepatu lari, ganti topi, makan sepotong soyjoy dan suplemen herbal Fituno (camkan, ini iklan). Lalu go..!,
Saya lari mengejar ketertinggalan di swim dan bike leg. Walau catatan lari saya masih kalah jauh dari manusia-manusia keturunan kijang istana Bogor, seperti Yth. Om Joni, trio SNP (Tirfan-Mba Narita-Riyo), apalagi Coach Idir, namun saya dapat menyelesaikan run leg 5K dalam 29 menit dan berhasil menyusul Om Farhan di km kedua. Atas pencapaian ini, rasanya saya layak diberikan penghargaan oleh Ikatan Remaja Mesjid Al-Muawanah, Jalan Sersan Sodik-Bandung, tempat saya menyelesaikan pelajaran Iqro 1 sampai Iqro 3 tanpa semester pendek.
__Bersambung__
Rizal Ginanjar @sukria21 101217. Cibubur.

Friday, October 20, 2017

Pengalaman Triathlon Pertama Saya

*)bacaan bagi para virgin tri
Kawan, sini kuceritakan.
Jika hidupmu mulai bosan, cicilan makin gendut, karir mulai usang, atasan semakin mirip Datuk Maringgih dan Istri makin seram kaya rumah pengabdi Setan di pangalengan, maka saya sarankan untuk mulai membukan hati dan mengetuk pintu untuk berkenalan dengan satu permainan memabukkan dan tak beradab bernama Triathlon.
Mulanya saya pikir olahraga ini hanya diperuntukan bagi orang-orang “sakit”, tidak berperikemanusiaan dan jauh dari nilai-nilai Dasadarma Pramuka. Bayangkan saja, jarak terpendek yang harus ditempuh adalah 750m berenang, 20 km bersepeda dan lalu 5km berlari (disebut sprint distance). Jarak terpanjang ? 3,8 km renang, 180 km sepeda, 42,2 km lari dimana lulusannya disebut Ironman. Orang Normal ? tidak. Kelainan jiwa ? Jelas.
Adalah Om Farhan, yang jadi mak Comblang saya untuk berjodoh dengan triathlon. Saya langsung dijeblosin untuk ikut Herbalife Bali Triahlon 15 Oct 17 kategori Sprint Distance, dan itu disampaikan sesaat setelah finis lari 10K di ajang Pocari Sweat Bandung, 30 Juli 2017. Artinya saya punya waktu 2.5 bulan persiapan untuk latihan menyelesaikan triathlon kelas sprint distance. Idealnya selama 2,5 bulan itu persiapan yang dilakukan adalah belajar teknik-teknik lari-renang-sepeda yang baik dan benar sesuai GBHN. Pada prakteknya yang saya lebih banyak pelajari adalah bagaimana cara meyakinkan istri untuk menyiasati belanja perlengkapan triathlon diantara himpitan cicilan-cicilan.
Modal saya berlari adalah pernah menyelesaikan lari 10K di Bandung itu, dan sebetulnya itupun satu-satunya lari 10K yang perch saya selesaikan seumur hidup saya. Saya sendiri mulai berlari mulai akhir Juni 2017. Sebelum itu, saya hanyalah pesakitan urat kejepit yang cuti berolahraga sejak 2012. Dalam kurun waktu 5 tahun itu saya hanya diperbolehkan olahraga dalam bentuk berenang, yoga dan senam hamil (ketiganya tidak saya lakukan). Selama masa itu pula saya hanya menjadi atlit pemain PES dan 2 tahun terakhir menjadi manager tim sepakbola dalam game FPL (fantasy premiere league).
Lalu bagaimana dengan berenang ? Saya mulai latihan berenang beneran setelah upacara bendera 17 Aug 2017 (2 bulan sebelum race). Saat sebagian warga Indonesia merayakan Agustusan dengan berbagai lomba, saya berlomba dengan diri saya sendiri dan langsung pasang target ambisius, yaitu melewati rekor jarak ujian praktek EBTANAS tahun 1999 : berenang gaya bebas nonstop 500m. Hasilnya ? saya dapat menyelesaikan nonstop 100m gaya bebas, 100 m gaya katak nonstop, dan sisanya ? mati gaya dan kehabisan nafas.
Hari-hari berikutnya saya lalu berlatih rutin 1minggu 2x walau tanpa coach yang bisa mengarahkan saya cara berenang yang efektif, efisien dan berdaya saing. Saya juga rajin membuka youtube channel untuk mendukung latihan berenang saya seperti “Basic swimming technic”, “Open water Swimming for beginner” dan “Top 10 destinasi kuliner di Sanur-Bali”.
Akhirnya saya betul-betul bisa berenang gaya bebas 500m nonstop ketika simulasi triathlon pertama bersama mas Willy Pratama dkk di Sentul pada awal September (1,5 bulan sebelum race). Itupun dengan catatan waktu hampir 30 menit. Catatan waktu saya membaik lagi pada simulasi kedua (seskaligus simulasi terakhir) 2minggu sebelum race bersama Narita dkk di Spring Sumarecon. Catatan waktu saya u 15 menit. Ini merupakan waktu terbaik berenang saya sejak perang Fatahilah menyerang benteng Batavia. Ya, Saya cukup puas. Belakangan ternyata rasa puas ini adalah musuh tercantik dalam selimut yang menjebak saya dalam race sesungguhnya.
Saya baru belajar naik sepeda road bike, belajar ganti gigi, handling dan lain-lain pas awal September saat simulasi sama Mas Willy dkk itu. Jarak 20K saya selesaikan dalam waktu 1,5 jam. Sangat cepat jika dibanding sepedahan anak saya pakai roda 3. Catatan waktu sepeda terbaik saya didapat saat saat simulasi di springs akhir oktober (2 minggu sebelum race), 20K selesai dalam 1 jam 5 menit, ini catatan rekor terbaik versi keluarga besar almarhum M. Usman Sukria (ayah saya).
Karena kebanyakan pesepeda keren triathlon pakai sepatu sepeda dan cleat, saya putuskan saat race nanti saya akan pakai sepatu sepeda dan cleat juga. Saya beli 1 minggu sebelum race. Yes, melepaskan sepatu dari cleat di atas sepeda itu rasanya seperti Ajat Sudrajat melesakan gol balik bandung ke gawang PSMS Medan, keren. Namun karenanya, peristiwa heroic itu terjadi H-1 sebelum race. Betapa heroic nya saat itu ibu2 yang sedang belanja di warung membantu saya berdiri dari sepeda karena tejatuh. Saya gagal buka cleat pas mau berhenti beli minum waktu. Aaah malu.
Pada akhirnya hari penghakiman itu tiba. Saya siap sedia ikut race triathlon pertama saya sejak garis-garis besar haluan Negara diciptakan di negeri ini.
Swim leg saya selesaikan segagah spionase di markas CIA, dalam adegan dicelupin ke bak mandi penuh air lalu diestrum. Ya, megap megap. Saya melupakan satu bab latihan berenang dalam untuk triathlon, yaitu saya harus belajar OWS (open water swimming). Fatal dan memabukkan. Di 200 m pertama saya pakai gaya bebas saya ga maju-maju, pakai gaya katak saya kehantem ombak, alhasil saya menjadi atlit Fear Factor dalam episde kuat-kuatan minum air laut. Saya menyelesaikan bab berenang saya ini dengan gaya terkuat umat manusias tertua untuk survive, yaitu SAKA. (Sakahayang, sakabisana, sakainget). Di 100 m kedua saya berhasil survive dengan segala daya upaya dari mulai jurus gaya dada, gaya bebas, lompat kodok, gaya orang-orangan sawah dan gaya sebisa-bisa saya. Hasilnya saya malah melaju nyasar menjauh dari pelampung penanda race (belakangan saya baru tahu itu namanya Buoy). Barulah 200 m terakhir saya bisa berenang dengan sedikit aga kencang karena terbantu dibawa ombak ke bibir pantai. Total waktu berenang saya hampir 20 menit.
Bike leg saya selesaikan tanpa hambatan berarti, kecuali mulai merasa lapar dan lalu seketika inget gehu dan bala-bala. Total waktu bike leg saya hampir 50 menit. Lagi-lagi saya memecahkan catatan waktu rekor rumah tangga saya sendiri. Saat run leg, rasanya saya sudah ngebut seperti angkot Cicaheum-Ciroyom, namun ternyata banyak peserta lain yang larinya jauh lebih kencang dan ugal-ugalan seperti Kopaja P20 senen-lebakbulus.
Run leg 1 KM terakhir saya sudah membayangkan gaya apa yang memadai untuk difoto saat garis finish. Dari berbagai pilihan gaya, saya putuskan pilih gaya Cristiano Ronaldo mencetak gol, walau pada prakteknya nanti ternyata saya lebih mirip gaya Zulham Zamrun sedang sariawan.
Akhirnya saya bisa menyelesaikan SD saya dengan segala keterbatasan dan hasil seadanya. Saya selesai 1:46:57 beda kurang dari 1 menit dari Om Farhan selaku senior, pelatih, competitor terdekat sekaligus ayah (karena di race ini saya pakai nama Anaknya, Bisma) yang selesai dengan waktu 1:46:06. Coba bandingkan dengan teman-teman latihan saya : Mas Willy Pratama (1:34:47) Mas Sendi (1 : 31 : 46) Mba Narita (1:38:13) Edwin (1:28:32) dan suhu di atas suhu : Chaidir Akbar (1:15:41)
Tapi cukup lah hasil saya ini untuk menghibur diri saya sebagai alumni pesakitan urat kejepit dan pelangan tetap cantengan. Kalau boleh sombong, menyelesaikan SD ini jauh lebih mudah daripada menghafal nama-nama mentri pada cabinet Repelita III orde baru sambil OD race.
Kawan, jika kau mulai ragu untuk tidak memulai triathlon, maka mulailah. 2,5 bulan cukup lah untuk memulai olahraga yang memabukan dan sialan ini. Tanpa perintah wajib militer kita tetap akan sukarela mau menyiksa sendiri berlatih demi tersenyum manis dan penuh wibawa di garis finish.
Namun, di atas itu semua olahraga tri ini baik untuk kesehatan dan awet muda. Seperti kata pepatah bahwa sesunggunya minimal berlatih triathlon 2x30 menit dalam 1 minggu membuat kita terlihat lebih muda dibanding kakek nenek kita.
Di luar sana sudah banyak para ironman ironman jagoan dan handal yang malang melintang di race triathlon baik dalam dan luar negeri. Biar saja usah minder. Kita siapkan saja diri masing-masing sebagai pemula tri untuk kebahagiaan yang happiness dan demi masa depan yang lebih future.
Jakarta.190817

Thursday, October 22, 2015

Antara Final ISL di Palembang dan Final Piala Presiden di GBK

Dari berbagai pengalaman travelling saya, hanya ada 3 trip yang saya anggap paling sarat nilai spiritual. Yaitu (i) ketika umroh ke tanah suci Makkah-Madinah, (ii) yang kedua saat mengunjungi Tajmahal di Agra-India dan yang terahir (iii) saat nonton pertandingan Persib di final. Baik final ISL Persib Vs Persipura di Palembang tahun 2014 dan tentu saja Final Piala Presiden Persib Vs Sriwijaya FC 2015 di GBK.
Jika saya ditanya, lebih berkesan mana antara menghadiri pertandingan Final ISL 2014 atau Final Piala Presiden, jawabannya jelas sulit. Sesulit memilih di antara Cut Tari atau Luna Maya, antara Viki Burki atau Kiki Fatmala, atau memilih antara Duo Serigala atau Trio Macan. Masing-masing memiliki kelebihan dan daya lemah iman yang berbeda satu sama lain. Dilema.
Jadi manakah yang lebih menarik antara Final di Palembang atau GBK ? Mari kita nilai dan bandingkan satu-satu.
A. Sebelum pertandingan
A.1. Ke Final Palembang Liga 2014
Perjalanan ke Palembang bagaikan perjalanan bulan madu dan piknik, pergi bersama istri (sebetulnya bukan lagi bulan madu, tapi bulan racun-tapi ya sudahlah).
Saat berada di Bandara Soekarno Hatta (SH), jelas kami mengenakan seperangkat atribut bobotoh. Dengan atribut tersebut saya bisa tampak seperti mandor perkebunan VOC, sombong tapi miskin. Syahdu-nya kami memakai atribut bobotoh sama halnya dengan syahdu-nya rombongan umroh memakai kain ihrom. Bangga sekaligus tanda iman. Di Bandara SH ini, jumlah kami yang ribuan adalah pusat perhatian sehingga menjadi selebirits dadakan.
Saya tebar senyum ramah sana sini bak artis infotainment hendak konferensi pers tentang rencana operasi plastik payudara. Untuk foto bareng sebetulnya dengan senang hati saya ingin melayani orang-orang di bandara ini, hanya sayang tidak ada yang mau. Namun dari raut wajah-wajahnya, saya tahu persis bahwa orang-orang di bandara ini sangat menerima kehadiran bobotoh karena menjadi sebuah pemandangan unik dan tak lazim, walau cenderung sia-sia.
Dan lalu bayangkan, tatkala kami sudah berada di kabin pesawat untuk take off, terdengarlah seruan pimpinan awak kabin dalam opening speech-nya menyambut para penumpang “Selamat datang para bobotoh Persib yang akan melakukan perjalanan bersama kami ke Palembang. Semoga Persib bisa juara..!” Tidak dalam hitungan detik, seisi pesawat bersiul dan bersorak ramai persis anak STM setelah dinyatakan lulus dalam ujian nasional. Tidak lupa ada yang membalas dengan pekikan “Hidup persiiib..!”. Saya termasuk di dalamnya dengan perasaan setengah mati bangga dan tak sadar mengangguk ngangguk, dagu sedikit mendongak seperti aktor FTV mendapatkan sertifikat lunas pembelian tanah.
Siapapun kepala awak kabin itu, bagi saya suara berwibawa yang keluar dari getaran tenggorokannya lebih merdu dari Elia Kadam saat bernyanyi "Boneka cantik dari India".
Sesampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, kami para ratusan bobotoh, lagi-lagi di sambut ramah oleh siapapun orang yang berada di sana, tanpa kecuali. Di antara mereka semua ada satu bapak-bapak setengah baya yang menghampiri saya dengan ramah dan muka girang. Saya pun senang “Akhirnya ada juga yang mau ngajak foto bareng ke rombongan bobotoh ini”, dalam hati saya. Benar saja, ketika semakin mendekat dia mengajak bersalaman dan menyapa sangat sopan “ Taksi mas..”.
A.2. Ke Final GBK (Piala Presiden 2015)
Jauh berbeda dengan saat perjalanan ke Palembang, perjalanan saya dan teman-teman bobotoh lainnya ke GBK adalah seperti perjalanan kaum bani Israil yang akan membelah laut merah. Dipimpin Djajang Nurjaman sebagai Musa dan Ridwan kamil sebagai Harun. Kami adalah kaum terpiilih yang akan menuju tanah yang dijanjiakan, yaitu Stadion GBK. Sebagaimana kaum itu saat beranjak, kami diliputi ketegangan, rasa waswas dan penuh waspada. Bukan karena takut berhadapan dengan tentara firaun yang membabi buta, sekali lagi bukan, namun kami tak tahan rasanya untuk sekedar membayangkan jika kami gagal menginjak tanah itu dan gagal berpesta juara bersama puluhan ribu kaum kami di sana. Kekuatan iman lah yang membuat membuat kami siap tempur dalam menghadapi segala kemungkinan bergesekan dengan supporter tuan rumah, The Jak, yang sudah lama selalu bentrok dengan supporter Persib.
Bobotoh lewat perwakilannya, Heru Joko, menyatakan bahwa bobotoh akan berbondong-bondong memenuhi GBK dengan rombongan bus besar, sesuai jatah tiket yang disediakan yaitu 80ribuan orang. Sebagai apa saya beserta rombongan 80 ribu an ini, apakah sebagai korwil ? bukan. Tim acara ? bukan. Donatur ? bukan Mmberi kata sambutan ? juga tidak.
Saya hanyalah bubuk rengginang di kaleng Kong Ghuan. Atau singkatnya saya ketinggalan rombongan bus besar bobotoh, padahal diberitakan bahwa hampir 600 bus mengangkut bobotoh dari Bandung. Namun apa daya, saya tercecer berdua dengan teman saya, Bayu Erdiansyah yang selalu rencana kerja hidupnya bentrok dengan agenda tidur. Karena ketinggalan bus, saya putuskan membawa mobil sendiri dari Bandung lalu transit di Bandara Halim untuk kemudian menggunakan taxi menuju GBK. Saya pilih transit di Bandara karena kami anggap bandara adalah ruang public yang penjagaanya selalu seperti kostum cheerleader : ketat dan wangi. Sehingga aman dan nyaman.
Berbeda dengan di Bandara SH dulu saat akan pergi ke Final Palembang, jangankan sombong bak mandor VOC untuk menampakkan diri, di Bandara Halim ini kami sangat tergesa gesa untuk mendapatkan taksi menuju GBK. Kami seperti nenek-nenek hamil tua yang harus sesegera mungkin dilarikan ke bidan terdekat. Tujuan kami tergersa-gesa dan sembunyi-sembunyi ini hanyalah satu, untuk menghindari publik di bandara tahu bahwa kami ini bobotoh yang tercecer dan diculik supporter Persija sehingga dapat menggagalkan kami menginjak tanah yang dijanjikan tadi, yang mulia Gelora Bung Karno.
Setelah saya sukses mendapatkan taxi dari bandara Halim, mucul masalah baru, taksi tersebut tiba-tiba berhenti di depan menara Saidah-Cawang setelah mengetahui persis bahwa tujuan saya sebenernya adalah stadion GBK, bukan plaza EX yang sebelumnya saya coba berbohong agar taksi ini mau mengangkut kami. Bukan ucapan "selamat datang boboth persib.." seperti kata kepala awak kapal yang mirip Elia Kadam itu yang saya dapatkan, namun malah usiran halus “ “Mas naik ojek saja, karena mobil tidak bisa melintas jalan Thamrin, sudah ditutup”. Sial. Pernyataan supir taxi itu jelas mendebarkan saya seperti "Pah, besok waktunya bayar sekolah anak.."
Singkat cerita sampailah saya dan Bayu di kompleks GBK dengan menggunakan ojek pangkalan. Namun saya harus menjemput teman lainnya di mall FX karena tiket masuk stadion dipegang dia. Dia adalah Aji Nugraha yang posturnya adalah gabungan dari Glen Fredly dan Habib Rizieq. Aji ini keren sekali di mata saya, bagaimana tidak ini di saat puluhan ribu bobotoh tidak bisa mendapatkan tiket masuk stadion, lulusan sipil ITB malah kelebihan jumlah tiket.
Masalah baru sekarang adalah bagaimana saya bisa masuk ke stadion GBK dari mall FX, sementara di pelataran mall ini berjubel sekali orang-orang kucel yang tidak jelas dan susah dibedakan mana lawan mana kawan, mana kaum bani Israil mana tentara Firaun, mana intel mana perusuh. Kembali hanya dengan keteguhan imanlah, saya dan teman-teman berlima siap tempur dengan segala resiko, kami sudah tidak sabar masuk GBK. GBK tinggal 100 meter di hadapan kami.
Mungkin inilah waktunya kami untuk memperjuangkan hak kami dengan cara revolusi fisik untuk mencapai tanah yang dijanjikan. Saya sekarang berlima, bersama Bayu Erdiansyah, Aji Nugraha dan dua teman baru saya yaitu Yuda dan Ucok. Melihat komposisi berlima ini saya yakin perjuangan fisik ini bisa terlampaui.
Sebagai skenario, Bayu adalah pembuka jalan karena dengan wajah tampan bagai Andy Lau gagal diet, orang akan mengira bahwa tujuan dia sebetulnya adalah Mall Senayan City bukan GBK. Di belakang nya Aji, dengan menggunakan topi khas Glen Fredly, berjanggut panjang dan murah senyum, orang akan mengira kalau dia adalah aktivis remaja masjid, sehingga orang akan lebih takut diberi ayat-yat suci dibanding beradu jotos. Yuda dengan muka seram dan jangkung ceking mirip preman lolos dari operasi Petrus dan Ucok yang berbadan tegap dan sangat berotot seperti petinju yang baru mendapatkan medali perunggu di pekan olahraga nasional. Kombinasi mereka berempat harunsya membuat perusuh mikir dua kali untuk mengganggu kami dengan tangan kosong.
Sedangkan peran saya yang berwarna kulit kuning langsat, pipi chubby, berusaha memasang wajah seram untuk menakuti-nakuti orang, tidak lupa membusungkan dada. Bukannya seperti anggota tarung drajad yang membuat seram, yang ada saya lebih mirip Rafi Ahmad sedang ngeden nahan sakit ambeien komplikasi bisul di ketiak. Beban kelompok.
Alhasil, sampailah kami di tanah yang dijanjikan itu yaitu stadion Gelora Bung Karno .. !! Kami memang kaum yang terpilih. Di dalam stadion bobotoh saya hitung bobotoh ini bisa memenuhi seluruh quota jamaah haji di tahun 2010, betapa banyaknya mereka di GBK. Sebagai rasa syukur lalu Aji mengajak saya untuk menunaikan sholat magrib sebelum pertandingan di mulai. Saya berdalih akan jama-takhir. Sungguh kami kombinasi supporter agamis opportunis.
A.3. Kesimpulan Sementara
Kesimpulan nya, jelaslah Final Persib di Palembang adalah perjalanan bulan madu bersama istri impian. Indah dan merangsang. Sedangkan Final di GBK seperti mengunjungi rumah calon mertua yang baru cabut gigi tanpa obat bius. Horror dan Menegangkan.
B. Saat pertandingan&Setelah pertandingan
* Bersambung

Tuesday, July 07, 2015

Saya dan teman-teman Hobbit

Kawan,
Jauh sebelum film Hobbit dibuat dan diproduksi, saya berkeyakinan bahwa kaum kerdil yang heroic dan tangguh adalah nyata adanya. Setidaknya itulah kami.
Saat saya kelas 2 SMP, saya berteman baik dengan seorang abg pramuka fanatik, ambisius dalam ilmu tali temali, terobsesi dalam mengamalkan butir-butir pancasila serta visioner dalam menambah centi tinggi badan. Yaitu : Ahmad Suparjan.
Teman baik saya lain adalah Faizal Noor, biasa dipanggil Kimung. Abg superlabil ini selalu memakai topi dengan kemiringan 45-55 derajat kearah kiblat. Kimung Mempunyai cita-cita ingin seperti Aa Boxer namun berbadan mini seperti batere Alkalin AAA, bermotivasi tinggi untuk mempelajari filosofi kenek angkot serta selalu menulis dalam bentuk tegak bersambung.
Adalagi Imas Rohimah -kami biasa memanggilnya Ipol- wanita mini dari Bandung Utara berbodi aduhay sintal seperti hasil kawin campur antara Rihana dan ukulele. Ipol bercita-cita menjadi Paskibra pusaka tingkat nasional. Namun apadaya ujian pertama mengenai tinggi badan minimal membuat Ipol menggantungkan cita-citanya di langit yang lain, yaitu menjadi pedagang abon ikan cakalang.
Tinggi kami berempat masing-masing tidak lebih dari panjang 2,5 kali pentungan satpam sekolahan. Berat badan tidak melebihi nomer sepatu dewasa Negara-negara katulistiwa kebanyakan. Langkah kami cepat, sigap dan tergesa-gesa namun tidak efektif dalam mencapai tujuan.
Dalam urusan olahraga kami selalu selaras senasib sepenanggungan. Buat kami bola basket adalah olahraga yang mubah. Lebih banyak mudorot daripada pahalanya untuk tim. Kalau pun kami dimainkan menjadi anggota tim, itu hanyalah untuk mengecoh strategi. Sialnya, yang terkecoh tidak saja tim musuh, tapi juga tim sendiri.
Di cabang Volley ball sedikit lebih baik, namun tetap tergolong makruh. Lebih baik ditinggalkan daripada dilaksanakan. Tupoksi kami adalah menjauh dari net sejauh mungkin. Dibolehkan melakukan serve (serpen) saja buat kami sudah seperti mendapat penghargaan kalpataru. Otoritas tertinggi kami sebagai pemain cadangan adalah mencari tukang pompa bola jikalau bola sedang kempes serta tidak lupa mengelap hingga kering jika bola sudah masuk comberan.
Namun dalam permainan sepakbola kami punya pesona tersediri. Kami adalah trio maut kombinasi Rui Costa, Luis Figo dan Asep Dayat. Kelebihan Ahmad Suparjan adalah lari kencang sekencang-kencangnya seperti kijang yang ingin buang air besar. Wilayah operasi Ahmad Suparjan menyusur pinggir lapangan sisi kanan. Tak ada pemain lawan yang tidak bisa dia lewati di sisi itu. Tua atapun muda, sudah disunat atau belum, tentu akan sulit mengejar dribble-sprint nya Ahmad Suparjan. Kekurangan Ahmad suparjan cuman satu, dia selalu lupa kalu lapangan bola itu ada batasnya dan tak sepanjang tol Padalarang-Cileunyi. Jadi dalam total percobaan Ahmad Suparjan berlari sprint melewati bek lawan dalam satu pertandingan, jumlah bola out meninggalkan lapangan selalu lebih banyak dibanding dengan jumlah Mentri di Kabinet Gotong Royongnya Megawati dan Hamzah Haz. Namun Buat Ahmad Suparjan menang sprint dengan bek lawan sudah lebih membahagiakan dibanding nonton program TVRI Album Minggu Kita.
Lain lagi dengan Kimung, dia jago teknik menggiring bola di tengah lapangan. Melewati 3-4 pemain sekali dribble sudah lah biasa baginya. Teknik menggiring bolanya adalah gabungan antara teknik seruduknya Mike Tyson dan senam SKJ 88 menit ke 1:35. Kkekurangan Kimung hanya satu yaitu kesuperlabilan. Barang siapa yang menyentuh dan membuat derajat kemiringan topinya bergeser 1 derajat saja, pastinya diajaknya berkelahi. Dan biasanya, belum menginjak 1/2 babak pertama, setengah pemain lawan sudah diajak berkelahi di dalam lapangan. Memasuki ¾ babak pertama, biasanya 3/4 lawan sudah diajaknya berkelahi di luar lapangan. Begitu eskalasinya.
Dengan kemampuan dan skill yang ada, umpan terobosan Kimung dari tengah lapangan dan atau umpan silang ahmad suparjan dari sisi kanan jelaslah memudahkan saya untuk merobek-robek gawang lawan dalam posisi saya sebagai penyerang tunggal*).
Jika gol terjadi kami bertiga melakukan selebrasi dengan gaya fenomenal 1990-an yaitu trio Mono, bagong dan semar dalam lakon Aneka Ria Safari. Dijajaran supporter, saat selebrasi gol ke gawang lawan membahana, Ipol hanya melemparkan senyuman maut mematikan dan mengacungkan jempol di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya tetap teguh memegang buku bacaan literatur, sepertinya berjudul: Cara cepat menggaet pacar pengusaha abon tingkat pemula .
*bersambung
*)Definisi Penyerang tunggal di sini adalah posisi striker yang dalam tujuh pertandingan hanya menghasilkan gol tunggal).

Friday, June 19, 2015

Saya dan Teman sebangku

Kawan,
Saya punya teman-teman sebangku SMP yang hebat namun ironis. Tepatnya, mereka yang hebat saya yang ironi.
Teman sebangku kelas 1 SMP saya adalah malaikat jadi-jadian. Ridwan Yuniardhika namanya. Sesuai namanya dia bak malaikat penjaga surga. Senyumnya adalah sapuan kuas Da Vinci, langkahnya bak Cristiano Ronaldo menuju podium Balloon D’or, menawan. Bicaranya seperti Bang Haji Roma memanggil Ani, berwibawa dan pantas. Sepatu warrior saja jika melekat di kakinya tampak seperti Nike Jordan.
Kalau kami berjalan bersama, Dia adalah Onky Aleksander sedang saya Emon. Dia Dude herlino, saya asisten kameramennya. Dia kursi sofakulit domba, sedangkan saya asbak rokok. Dia buku sastra Kahlil Gibran, saya struk pembeliannya. Itulah mengapa walau kami teman baik sebangku namun saya menghindar untuk naik angkot bersama. Ini aturan sacral. Kalau ingkar, ngenes akibatnya.
Kalau Ridwan tersenyum, abg-abg diangkot selalu terserang virus aneh yang berbentuk pipi memerah, duduk gemeter atau senyum-senyum disentry. Dan saya hanyalah stiker yang menempel legendaris diangkot : “Naik gratis turun bayar”
Teman sebangku itu bagai jodoh. Kita bisa memilih sendiri, dijodohkan orang lain, atau juga kawin paksa. Dan saya lupa bagaimana dulu saya berjodoh dgn teman sebangku di kelas 3 SMP, dimana teman sebangku berikutnya ini membuat saya seperti keledai. Jatuh ke jebakan yang sama.
Ahmad Galih Kusumah adalah ironi saya kedua. Dia adalah bintang lapangan dalam arti sesungguhnya. Idola abg-abg tanggung. Bayangkan, dia andalan sekolah di cabang-cabang olahraga popular anak abg jaman orde baru repelita IV : Volley, Basket dan Sepakbola.
Di cabang olarahraga basket, lay up nya Galih hampir berupa slam dunk, untuk ukuran anak SMP itu sudah parah kerennya. Dribbling nya meliuk-liuk seperti Gary Payton. Urusan rebound dia selalu unggul seperti Denis Rodman versi anak pesantren. Three pointnya jarang meleset. Kala Galih adalah Toni Kukocnya Chicago Bulls, sedangkan saya ?? ya. mascot bantengnya.
Di saat Galih dielu-elukan wanita sejagat smp se Bandung Utara di lapangan, saya riuh rendah di tempat penonton. Saya mengkoordinir para supporter bengal kelas abg tanggung smp. Urusan saya berteriak bersama para supporter-supporter kere yang untuk beli minum 1 teh botol saja mesti patungan, dan lebih dari itu terbelakang dalam kemampuan olahraga. Sedangkan Galih di tengah lapangan sana riuh rendah disoraki abg-abg wanita.
Di olahraga bola voley ? sama saja. Galih adalah tukang smash andalan. Smash nya menghujam jantung para supporter wanita kubu sendiri ataupun lawan. Satu kali smash saja teriakan supporter wanita kaya kesurupan jin si Candil, vokalis serius band. Sedangkan saya ? sesekali saya menjadi pemain cadangan yang kebanyakan jobdesnya adalah mungutin bola kalau sudah out ke jalan raya.
Di cabang sepakbola, di saat prestasi tertinggi saya menempati striker pilihan ke 4, Galih adalah striker utama dan satu-satunya pemain yang berhasil mencetak gol ke SMP 15 di pertandingan final antara SMP se Bandung Utara. Syukurlah saat itu saya terserang demam tifus komplikasi sariawab yang membuat saya ada alasan kokoh untuk mengundurkan diri sebagai pemain. Setidaknya saya tidak mengulangi jobdes mungutin bola kalau out ke kuburan.
Gagal di bola basket dan vollwy bol, saya akhirnya memilih karir menjadi pingpong di liga bentukan Pa Syahir, guru olahraga legendaris. Liga ini terdiri atas 3 divisi, masing-masing divisi terdiri atas 20 orang yang saling bertemu. Mirip liga Inggris saat kini. Prestasi saya setidaknya membanggakan, saya berhasil promosi ke divisi 2 dengan 10 kali kemenangan berturut-turut, 70% nya menang WO.
Apakah ada riuh rendah penonton kepada saya saat gilang gemilang di cabor tenis meja ini ?? jelas tidak. Pingpong di sekolah saat itu adalah cabang olahraga yang hanya lebih menarik dari khutbah jumat.
Namun kawan, nanti ada bagian cerita dimana merupakan salah satu episode terbaik saya semasa SMP, tepatnya ketika kelas 2 SMP. Dimana saya berteman baik dengan seorang pramuka fanatik, ambisius dalam ilmu tali temali dan menghapal butir-butir pancasila serta visioner dalam menambah tinggi badan, yaitu : Ahmad Suparjan. *bersambung

Wednesday, November 05, 2014

Persib asup pinal mang ..

Kalau pun ada yang bilang persib menang lalu tidur menjadi tibra, ternyata salah juga. saya mengalaminya semalam ..
Kemenangan Persib hancurkan Arema 3-1 adalah segala keindahan dari yang tersisa di kepulauan nusantara akhir2 ini diantara kusutnya DPR, ilegal fishing, ilegal logging hingga ilegal protitusi. *mana ada prostitusi yang tidak ilegal ya*.
Kemenganan persib adalah puncak dari penatnya hiruk pikuk pekerjaan, ditolaknya ide sama bos2 yang boloho tapi sok tau, rekan kerja yang antikorupsi tapi mark up anggaran, dan istri yang cantik dan pura2 ramah padahal terus menuntut ingin mini cooper.
Ini bukan tentang mengalahkan Arema-nya (yang biasa terjadi), bukan juga tentang skor 3-1 nya, tapi ini tentang masuk ke final nya
Berati satu langkah lagi persib jadi juara Liga Indonesia 2014. Liga yang selama 18 tahun ini berubah jadi liga jadi2an, liga atur2an, yang jauh penuh drama dibanding sinetron "Saling memberi saling menerima".
Tidur saya kurang nyenyak semalam kusabab masih euforia ingin nonton persib di final, yang tidak pernah saya lakukan seumur hidup saya. Pas tahun 1995 saat final lawan petrokimia, saya tidak berkesempatan untuk nonton Persib di Gelora Senayan (kata sambas, dulu), sekarang GBK. Saat itu saya dilarang orangtua, maklum saya masih kelas 2 smp dan rata-rata yang pergi ke jakarta dari kampung saya pergi naik truk terbuka. Orang tua cerdas dan bernas seperti Ibu dan Bapak saya jelas akan melarangnya. Jadi ya sudah saat itu saya tetap tinggal dibandung, nonton Persib vs Petrokimia lewat TV Digitec Ninja 14 inch, yang seperti kita maklumi bersama untuk mendapatkan gambar yang mulus seperti kulit Syaiful Jamil, antenanya harus digeret pake bambu yang menjulang seperti monas.
Ya, ini lah saatnya saya nonton Persib di Final. Final jelas bukan pertandingan putaran liga biasa yang cuma pengaruhi peringkat di klasemen, bukan juga seperti pertarungan KIH Vs KMP di DPR yang lucu-lucuan. Ini pertarungan kalah dan menang, seperti halnya Elias Pical Vs Galaxy, Muhammad Ali VS George Foreman atau Julia Perez Vs Dewi persik. Menang berarti juara, pahlawan dan diagung-agungkan bak Habib Rizieq di FPI. Sedangkan kalah berarti pecundang dan tanpa ampun, serta tidak punya kesempatan untuk menggugat ke MK, PTUN atau KUA sekalipun untuk merubah hasil pertandingan.
Pertandingan diputuskan untuk dilangsungkan di Jakabaring, Palembang. Sayang tidak di Jakarta memang. Tapi ga usah dipikirkan apalagi dicurigai. Karena sesungguhnya rasa curiga sudah menjadi hak monopoli istri.
Berangkaaat ..