Thursday, February 12, 2026

3 alternate universe

Kawan,
Dalam masa perkembangan spiritual dan hormonal masa remaja, setidak nya ada 3 wanita yang jika saya seorang pencipta lagu, saya hendak buatkan Hymne atau Mars untuknya. Mereka kugemari dengan cara yang berbeda-beda. Ketiga nya adalah (i) Sally Marcelina (ii) Nirina Zubir dan (iii) Indri Kusumadewi
(i) Sally Marcelina
Buatku, Sally M adalah alternatif visual nyata tentang member VIP neraka yang sering digambarkan dalam ceramah para pemuka agama : Suka pamer aurat dan bahan omongan tetangga. Katanya jika kita sering2 melihatnya bisa menghambat langkah di sidratul muntaha.
Padahal Sally Marcelina adalah alternate universe fantasy para remaja yang berusaha relijius namun putus asa dalam membedakan panjangnya harokat Mad Thobi’i dan Mad Badal, membedakan mana Idzghom Bigunnah dan Idzghom Billagunnah.
Saat para remaja tanggung ikut trend dalam menggemari film hollywood yang alurnya sering bertele2 dan harus nonton dengan subtitle, Sally Marcelina hadir tanpa basa-basi dan to the point dalam film “Gairah cinta maria”, “Ranjang pemikat” atau “Akibat hamil muda yang kedua”. Jelas tanpa subtitle. Kalaupun ada subtitlenya tidak akan dibaca, karena percakapan nya tidak lebih penting dari adegan2nya.
Setidak nya Sally Marcelina adalah tokoh revolusi “liberte, egalite, fraternite” dalam tatanan rumah tangga orang tua saya, yang saat itu tak membuka celah apresiasi seni selain mendengarkan ceramah Zainudin MZ yang diputar tak tahu waktu tanpa belas kasihan, selama 1 dekade lebih.
Saya dan teman SMP bertiga pernah dipanggil ke ruang BP secara bersamaan. Saya dipanggil karena sering datang kesiangan, Herdinan karena terancam tidak naik kelas, sedangkan Yadi Mulyadi karena kedapatan menyelundupkan sobekan lembar majalah. Tak lain dan tak bukan adalah sobekan gambar dari yang mulia, yang kami hormati bersama, Sally Marcelina ! Bayangkan, bahaya propaganda Sally M dianggap setara sama dengan bahaya propaganda Kolonel untung dan Kahar Muzakar.
Singkatnya, Sally adalah Simbol perlawanan terhadap tatanan masyarakat yang datar-datar saja. Tokoh pembebas pikiran fantasy remaja, sosok antistatusquo yang mengorbankan dirinya demi masyarakat yang lebih progresif, dengan cara berperan menyamar dalam profesi sebagai pendermawan aurat, demi remaja dengan pemikiran terbuka, lebih tahan iman dan dekat dengan api neraka.
(ii) Nirina Zubir
Izinkan saya skip dulu bagian ini. Jika perlu kita bahas dalam bagian lain. Pada Intinya, Nirina Zubir adalah huruf N yang selama ini saya cari dalam undian permen karet YOSAN, langka dan setengah nyata.
Nirina Zubir dapat mendudukan kembali sesat pikir remaja yang sering tercela karena ulah para dermawan lapisan epidermis seluruh permukaan tubuh. Beliau, diucapkan dengan penuh hormat, menjadi sedikit tokoh publik yang memberikan antitesis bahwa daya tarik artis di TV berbanding terbalik dengan kecerdasannya.
Nirina adalah pencilan statistika, sebagai artis TV yang ada di deretan paling depan memberontak pada nasihat Vety Vera : “yang sedang-sedang saja”. Dia standout dan berdiri di altar podium. Nanti saya uraikan di lain kesempatan. Agar cepat2 masuk ke bagian 3. El grande.
(iii) Indri Kusumadewi
Kawan, kuceritakan sedikit tentang satu dari sedikit orang yang pada masanya membuat saya merasa gravitasi bumi mogok kerja dalam sekejap. Diam dan melayang-layang.
Bayangkan situasinya.
Kau seolah2 sedang berada di tengah pertunjukan band-band jelek di sebuah cafe mahal. Lalu muncul Wanita berbalut gaun merah Panjang, rambut terurai berjuntai lurus ke lantai, bagai gadis shampoo Emeron. Pusat perhatian dan idaman lelaki hidung belang. Lalu ia memainkan “Moonlight Sonata” dengan piano solo. Sesaat Gravitasiku tak bekerja.
Sebagai apakah saya dalam adegan tersebut ? Ya, Operator lighting !
Saat dia berjalan lewat kelas SMA ku dulu, bayangkan kau berada di sebuah arena aquatic Asian Games. Indri Kusumadewi adalah bak seorang atlet Loncat Indah yang melangkah perlahan, maju bergerak anggun pelan-pelan ke bibir papan tolak. Langkahnya hening tertiup angin muson barat. Lalu ia bersiap ancang-ancang untuk melakukan take off loncat indah gaya forward dive. Mempesona sekaligus membuat seisi bilik-bilik ventrikel berdenyut-denyut.
Sebagai apakah Saya dalam pemandangan ini ? Tukang sobek karcis masuk arena ! Aku tidak penting tapi aku ada ! Kata Descartes, "Cogito ergo sum".
Kelas kami bersebelahan. Lagu Iwan Fals “Jendela Kelas 1” ternyata kisah nyataku. Saya naksir berat tapi tak berkawan baik dengan nyali. Tak tahan, sy ceritakan pada anak2 Band ku, LOV100%, nama yang lebih cocok jadi password yahoo email. Saya minta agar band kami membawakan sebuah lagu untuk mewakili perasaan saya dalam jadwal manggung mingguan. Pilihan nya “Cant take my eys off you” sbg lagu manggung standard anak SMA skill Iqro 2, atau “Lovefool” The Cardigan. Rasanya 2 lagu itu cocok, walau penyanyi kami, Aditya Ali, vokal nya bergenre Krisyanto “Jamrud” versi kurang tidur. Tak mengapa yang penting tema nya kasmaran.
Kami voting. Lalu bersepakat. Hasil votingnya kita membawa kan lagu “Govinda Jaya Jaya”. Saya cek, ternyata lagu tsb tentang rapalan pujian terhadap dewa2 India. Saya kalah voting. Ya sudah, setidaknya lagunya tentang puji2an, saya resapi saja. Sial.
Kawan, kecantikan dan kecerdasan perempuan adalah duet maut membutakan, yang remaja pria dunia ketiga jarang temui di akhir tahun 90an. Namun Indri Kusumadewi adalah kamus lengkapnya. Lolos UMPTN di jurusan arsitektur ITB adalah bukti kemapanan kognitif yang tak boleh didebat. Sedangkan saya, tersesat jalan akademiknya, gagal meraih cita-cita sejak dalam perencanaan, karena memilih menjadi seorang farmasis.
Coba pikirkan dalam-dalam bandingan nya. Mahakarya arsitektur itu membentang luas dari Tajmahal-India, Acropolis di Atena hingga Sagrada Familia di Barcelona. Sementara, karya agung seorang farmasis adalah membuat sediaan Suppositoria, yaitu obat berbentuk seperti peluru, tanpa cita rasa seni sedikitpun, yang dimasukkan melalui anus. Seorang turis akan rela menyisihkan waktu & mengorbankan ratusan juta pendapatannya demi melihat karya-karya arsitektur di muka bumi. Lalu turis mana yang rela melihat praktek pemberian obat lewat anus dengan membayar ratusan juta ???
** 25 tahun berlalu. Tidak banyak perubahan versi dari si atlet loncat indah yang dulu kupuja puji lewat lirik dewa2 India itu. Kalau diuji statistika maka ku yakin uji signifikansi uji t > 0,05, artinya tidak ada perubahan signifikan selama 25 tahun berlalu. Apalagi kalau bandingan nya dengan teman-teman se fakultas ku yang banyak berubah menjadi mode “foto panorama” : lebar dan overlap antar organ.
Indri Kusumadewi sangat sukses sebagai professional arsitek di Singapura sejak 18 tahun lalu. Di kala saya kurang sukses sebagai salesman alat kesehatan periksa air kemih asal Jepang, namun sukses sebagai buronan ibu-ibu kos asal Utan Kayu, Tebet Timur dan Buaran. Di acara reunian, Indri dipanggil sebagai salah satu kebanggaan kampus yang berdiaspora. Sedangkan saya ? ya, sebagai show director gratisan yang sibuk cari2 mic acara yang hilang.
Kuceritakan pada istri, dia hanya tersenyum manis seperti biasa aku dibuainya. Dia lalu pergi tidur dan mengunci kamar. Tak lupa membanting pintu dengan lantang.
** Saya doakan selalu agar ketiganya sehat walafiat, bahagia dan sukses dalam mengarungi luas nya karunia hidup, dan menggapai tinginya langit cita-cita. Semoga saja doaku tak terhalang dosa krn harta, tahta dan Sally Marcelina

No comments: