Friday, October 20, 2017

Pengalaman Triathlon Pertama Saya

*)bacaan bagi para virgin tri
Kawan, sini kuceritakan.
Jika hidupmu mulai bosan, cicilan makin gendut, karir mulai usang, atasan semakin mirip Datuk Maringgih dan Istri makin seram kaya rumah pengabdi Setan di pangalengan, maka saya sarankan untuk mulai membukan hati dan mengetuk pintu untuk berkenalan dengan satu permainan memabukkan dan tak beradab bernama Triathlon.
Mulanya saya pikir olahraga ini hanya diperuntukan bagi orang-orang “sakit”, tidak berperikemanusiaan dan jauh dari nilai-nilai Dasadarma Pramuka. Bayangkan saja, jarak terpendek yang harus ditempuh adalah 750m berenang, 20 km bersepeda dan lalu 5km berlari (disebut sprint distance). Jarak terpanjang ? 3,8 km renang, 180 km sepeda, 42,2 km lari dimana lulusannya disebut Ironman. Orang Normal ? tidak. Kelainan jiwa ? Jelas.
Adalah Om Farhan, yang jadi mak Comblang saya untuk berjodoh dengan triathlon. Saya langsung dijeblosin untuk ikut Herbalife Bali Triahlon 15 Oct 17 kategori Sprint Distance, dan itu disampaikan sesaat setelah finis lari 10K di ajang Pocari Sweat Bandung, 30 Juli 2017. Artinya saya punya waktu 2.5 bulan persiapan untuk latihan menyelesaikan triathlon kelas sprint distance. Idealnya selama 2,5 bulan itu persiapan yang dilakukan adalah belajar teknik-teknik lari-renang-sepeda yang baik dan benar sesuai GBHN. Pada prakteknya yang saya lebih banyak pelajari adalah bagaimana cara meyakinkan istri untuk menyiasati belanja perlengkapan triathlon diantara himpitan cicilan-cicilan.
Modal saya berlari adalah pernah menyelesaikan lari 10K di Bandung itu, dan sebetulnya itupun satu-satunya lari 10K yang perch saya selesaikan seumur hidup saya. Saya sendiri mulai berlari mulai akhir Juni 2017. Sebelum itu, saya hanyalah pesakitan urat kejepit yang cuti berolahraga sejak 2012. Dalam kurun waktu 5 tahun itu saya hanya diperbolehkan olahraga dalam bentuk berenang, yoga dan senam hamil (ketiganya tidak saya lakukan). Selama masa itu pula saya hanya menjadi atlit pemain PES dan 2 tahun terakhir menjadi manager tim sepakbola dalam game FPL (fantasy premiere league).
Lalu bagaimana dengan berenang ? Saya mulai latihan berenang beneran setelah upacara bendera 17 Aug 2017 (2 bulan sebelum race). Saat sebagian warga Indonesia merayakan Agustusan dengan berbagai lomba, saya berlomba dengan diri saya sendiri dan langsung pasang target ambisius, yaitu melewati rekor jarak ujian praktek EBTANAS tahun 1999 : berenang gaya bebas nonstop 500m. Hasilnya ? saya dapat menyelesaikan nonstop 100m gaya bebas, 100 m gaya katak nonstop, dan sisanya ? mati gaya dan kehabisan nafas.
Hari-hari berikutnya saya lalu berlatih rutin 1minggu 2x walau tanpa coach yang bisa mengarahkan saya cara berenang yang efektif, efisien dan berdaya saing. Saya juga rajin membuka youtube channel untuk mendukung latihan berenang saya seperti “Basic swimming technic”, “Open water Swimming for beginner” dan “Top 10 destinasi kuliner di Sanur-Bali”.
Akhirnya saya betul-betul bisa berenang gaya bebas 500m nonstop ketika simulasi triathlon pertama bersama mas Willy Pratama dkk di Sentul pada awal September (1,5 bulan sebelum race). Itupun dengan catatan waktu hampir 30 menit. Catatan waktu saya membaik lagi pada simulasi kedua (seskaligus simulasi terakhir) 2minggu sebelum race bersama Narita dkk di Spring Sumarecon. Catatan waktu saya u 15 menit. Ini merupakan waktu terbaik berenang saya sejak perang Fatahilah menyerang benteng Batavia. Ya, Saya cukup puas. Belakangan ternyata rasa puas ini adalah musuh tercantik dalam selimut yang menjebak saya dalam race sesungguhnya.
Saya baru belajar naik sepeda road bike, belajar ganti gigi, handling dan lain-lain pas awal September saat simulasi sama Mas Willy dkk itu. Jarak 20K saya selesaikan dalam waktu 1,5 jam. Sangat cepat jika dibanding sepedahan anak saya pakai roda 3. Catatan waktu sepeda terbaik saya didapat saat saat simulasi di springs akhir oktober (2 minggu sebelum race), 20K selesai dalam 1 jam 5 menit, ini catatan rekor terbaik versi keluarga besar almarhum M. Usman Sukria (ayah saya).
Karena kebanyakan pesepeda keren triathlon pakai sepatu sepeda dan cleat, saya putuskan saat race nanti saya akan pakai sepatu sepeda dan cleat juga. Saya beli 1 minggu sebelum race. Yes, melepaskan sepatu dari cleat di atas sepeda itu rasanya seperti Ajat Sudrajat melesakan gol balik bandung ke gawang PSMS Medan, keren. Namun karenanya, peristiwa heroic itu terjadi H-1 sebelum race. Betapa heroic nya saat itu ibu2 yang sedang belanja di warung membantu saya berdiri dari sepeda karena tejatuh. Saya gagal buka cleat pas mau berhenti beli minum waktu. Aaah malu.
Pada akhirnya hari penghakiman itu tiba. Saya siap sedia ikut race triathlon pertama saya sejak garis-garis besar haluan Negara diciptakan di negeri ini.
Swim leg saya selesaikan segagah spionase di markas CIA, dalam adegan dicelupin ke bak mandi penuh air lalu diestrum. Ya, megap megap. Saya melupakan satu bab latihan berenang dalam untuk triathlon, yaitu saya harus belajar OWS (open water swimming). Fatal dan memabukkan. Di 200 m pertama saya pakai gaya bebas saya ga maju-maju, pakai gaya katak saya kehantem ombak, alhasil saya menjadi atlit Fear Factor dalam episde kuat-kuatan minum air laut. Saya menyelesaikan bab berenang saya ini dengan gaya terkuat umat manusias tertua untuk survive, yaitu SAKA. (Sakahayang, sakabisana, sakainget). Di 100 m kedua saya berhasil survive dengan segala daya upaya dari mulai jurus gaya dada, gaya bebas, lompat kodok, gaya orang-orangan sawah dan gaya sebisa-bisa saya. Hasilnya saya malah melaju nyasar menjauh dari pelampung penanda race (belakangan saya baru tahu itu namanya Buoy). Barulah 200 m terakhir saya bisa berenang dengan sedikit aga kencang karena terbantu dibawa ombak ke bibir pantai. Total waktu berenang saya hampir 20 menit.
Bike leg saya selesaikan tanpa hambatan berarti, kecuali mulai merasa lapar dan lalu seketika inget gehu dan bala-bala. Total waktu bike leg saya hampir 50 menit. Lagi-lagi saya memecahkan catatan waktu rekor rumah tangga saya sendiri. Saat run leg, rasanya saya sudah ngebut seperti angkot Cicaheum-Ciroyom, namun ternyata banyak peserta lain yang larinya jauh lebih kencang dan ugal-ugalan seperti Kopaja P20 senen-lebakbulus.
Run leg 1 KM terakhir saya sudah membayangkan gaya apa yang memadai untuk difoto saat garis finish. Dari berbagai pilihan gaya, saya putuskan pilih gaya Cristiano Ronaldo mencetak gol, walau pada prakteknya nanti ternyata saya lebih mirip gaya Zulham Zamrun sedang sariawan.
Akhirnya saya bisa menyelesaikan SD saya dengan segala keterbatasan dan hasil seadanya. Saya selesai 1:46:57 beda kurang dari 1 menit dari Om Farhan selaku senior, pelatih, competitor terdekat sekaligus ayah (karena di race ini saya pakai nama Anaknya, Bisma) yang selesai dengan waktu 1:46:06. Coba bandingkan dengan teman-teman latihan saya : Mas Willy Pratama (1:34:47) Mas Sendi (1 : 31 : 46) Mba Narita (1:38:13) Edwin (1:28:32) dan suhu di atas suhu : Chaidir Akbar (1:15:41)
Tapi cukup lah hasil saya ini untuk menghibur diri saya sebagai alumni pesakitan urat kejepit dan pelangan tetap cantengan. Kalau boleh sombong, menyelesaikan SD ini jauh lebih mudah daripada menghafal nama-nama mentri pada cabinet Repelita III orde baru sambil OD race.
Kawan, jika kau mulai ragu untuk tidak memulai triathlon, maka mulailah. 2,5 bulan cukup lah untuk memulai olahraga yang memabukan dan sialan ini. Tanpa perintah wajib militer kita tetap akan sukarela mau menyiksa sendiri berlatih demi tersenyum manis dan penuh wibawa di garis finish.
Namun, di atas itu semua olahraga tri ini baik untuk kesehatan dan awet muda. Seperti kata pepatah bahwa sesunggunya minimal berlatih triathlon 2x30 menit dalam 1 minggu membuat kita terlihat lebih muda dibanding kakek nenek kita.
Di luar sana sudah banyak para ironman ironman jagoan dan handal yang malang melintang di race triathlon baik dalam dan luar negeri. Biar saja usah minder. Kita siapkan saja diri masing-masing sebagai pemula tri untuk kebahagiaan yang happiness dan demi masa depan yang lebih future.
Jakarta.190817

Thursday, October 22, 2015

Antara Final ISL di Palembang dan Final Piala Presiden di GBK

Dari berbagai pengalaman travelling saya, hanya ada 3 trip yang saya anggap paling sarat nilai spiritual. Yaitu (i) ketika umroh ke tanah suci Makkah-Madinah, (ii) yang kedua saat mengunjungi Tajmahal di Agra-India dan yang terahir (iii) saat nonton pertandingan Persib di final. Baik final ISL Persib Vs Persipura di Palembang tahun 2014 dan tentu saja Final Piala Presiden Persib Vs Sriwijaya FC 2015 di GBK.
Jika saya ditanya, lebih berkesan mana antara menghadiri pertandingan Final ISL 2014 atau Final Piala Presiden, jawabannya jelas sulit. Sesulit memilih di antara Cut Tari atau Luna Maya, antara Viki Burki atau Kiki Fatmala, atau memilih antara Duo Serigala atau Trio Macan. Masing-masing memiliki kelebihan dan daya lemah iman yang berbeda satu sama lain. Dilema.
Jadi manakah yang lebih menarik antara Final di Palembang atau GBK ? Mari kita nilai dan bandingkan satu-satu.
A. Sebelum pertandingan
A.1. Ke Final Palembang Liga 2014
Perjalanan ke Palembang bagaikan perjalanan bulan madu dan piknik, pergi bersama istri (sebetulnya bukan lagi bulan madu, tapi bulan racun-tapi ya sudahlah).
Saat berada di Bandara Soekarno Hatta (SH), jelas kami mengenakan seperangkat atribut bobotoh. Dengan atribut tersebut saya bisa tampak seperti mandor perkebunan VOC, sombong tapi miskin. Syahdu-nya kami memakai atribut bobotoh sama halnya dengan syahdu-nya rombongan umroh memakai kain ihrom. Bangga sekaligus tanda iman. Di Bandara SH ini, jumlah kami yang ribuan adalah pusat perhatian sehingga menjadi selebirits dadakan.
Saya tebar senyum ramah sana sini bak artis infotainment hendak konferensi pers tentang rencana operasi plastik payudara. Untuk foto bareng sebetulnya dengan senang hati saya ingin melayani orang-orang di bandara ini, hanya sayang tidak ada yang mau. Namun dari raut wajah-wajahnya, saya tahu persis bahwa orang-orang di bandara ini sangat menerima kehadiran bobotoh karena menjadi sebuah pemandangan unik dan tak lazim, walau cenderung sia-sia.
Dan lalu bayangkan, tatkala kami sudah berada di kabin pesawat untuk take off, terdengarlah seruan pimpinan awak kabin dalam opening speech-nya menyambut para penumpang “Selamat datang para bobotoh Persib yang akan melakukan perjalanan bersama kami ke Palembang. Semoga Persib bisa juara..!” Tidak dalam hitungan detik, seisi pesawat bersiul dan bersorak ramai persis anak STM setelah dinyatakan lulus dalam ujian nasional. Tidak lupa ada yang membalas dengan pekikan “Hidup persiiib..!”. Saya termasuk di dalamnya dengan perasaan setengah mati bangga dan tak sadar mengangguk ngangguk, dagu sedikit mendongak seperti aktor FTV mendapatkan sertifikat lunas pembelian tanah.
Siapapun kepala awak kabin itu, bagi saya suara berwibawa yang keluar dari getaran tenggorokannya lebih merdu dari Elia Kadam saat bernyanyi "Boneka cantik dari India".
Sesampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, kami para ratusan bobotoh, lagi-lagi di sambut ramah oleh siapapun orang yang berada di sana, tanpa kecuali. Di antara mereka semua ada satu bapak-bapak setengah baya yang menghampiri saya dengan ramah dan muka girang. Saya pun senang “Akhirnya ada juga yang mau ngajak foto bareng ke rombongan bobotoh ini”, dalam hati saya. Benar saja, ketika semakin mendekat dia mengajak bersalaman dan menyapa sangat sopan “ Taksi mas..”.
A.2. Ke Final GBK (Piala Presiden 2015)
Jauh berbeda dengan saat perjalanan ke Palembang, perjalanan saya dan teman-teman bobotoh lainnya ke GBK adalah seperti perjalanan kaum bani Israil yang akan membelah laut merah. Dipimpin Djajang Nurjaman sebagai Musa dan Ridwan kamil sebagai Harun. Kami adalah kaum terpiilih yang akan menuju tanah yang dijanjiakan, yaitu Stadion GBK. Sebagaimana kaum itu saat beranjak, kami diliputi ketegangan, rasa waswas dan penuh waspada. Bukan karena takut berhadapan dengan tentara firaun yang membabi buta, sekali lagi bukan, namun kami tak tahan rasanya untuk sekedar membayangkan jika kami gagal menginjak tanah itu dan gagal berpesta juara bersama puluhan ribu kaum kami di sana. Kekuatan iman lah yang membuat membuat kami siap tempur dalam menghadapi segala kemungkinan bergesekan dengan supporter tuan rumah, The Jak, yang sudah lama selalu bentrok dengan supporter Persib.
Bobotoh lewat perwakilannya, Heru Joko, menyatakan bahwa bobotoh akan berbondong-bondong memenuhi GBK dengan rombongan bus besar, sesuai jatah tiket yang disediakan yaitu 80ribuan orang. Sebagai apa saya beserta rombongan 80 ribu an ini, apakah sebagai korwil ? bukan. Tim acara ? bukan. Donatur ? bukan Mmberi kata sambutan ? juga tidak.
Saya hanyalah bubuk rengginang di kaleng Kong Ghuan. Atau singkatnya saya ketinggalan rombongan bus besar bobotoh, padahal diberitakan bahwa hampir 600 bus mengangkut bobotoh dari Bandung. Namun apa daya, saya tercecer berdua dengan teman saya, Bayu Erdiansyah yang selalu rencana kerja hidupnya bentrok dengan agenda tidur. Karena ketinggalan bus, saya putuskan membawa mobil sendiri dari Bandung lalu transit di Bandara Halim untuk kemudian menggunakan taxi menuju GBK. Saya pilih transit di Bandara karena kami anggap bandara adalah ruang public yang penjagaanya selalu seperti kostum cheerleader : ketat dan wangi. Sehingga aman dan nyaman.
Berbeda dengan di Bandara SH dulu saat akan pergi ke Final Palembang, jangankan sombong bak mandor VOC untuk menampakkan diri, di Bandara Halim ini kami sangat tergesa gesa untuk mendapatkan taksi menuju GBK. Kami seperti nenek-nenek hamil tua yang harus sesegera mungkin dilarikan ke bidan terdekat. Tujuan kami tergersa-gesa dan sembunyi-sembunyi ini hanyalah satu, untuk menghindari publik di bandara tahu bahwa kami ini bobotoh yang tercecer dan diculik supporter Persija sehingga dapat menggagalkan kami menginjak tanah yang dijanjikan tadi, yang mulia Gelora Bung Karno.
Setelah saya sukses mendapatkan taxi dari bandara Halim, mucul masalah baru, taksi tersebut tiba-tiba berhenti di depan menara Saidah-Cawang setelah mengetahui persis bahwa tujuan saya sebenernya adalah stadion GBK, bukan plaza EX yang sebelumnya saya coba berbohong agar taksi ini mau mengangkut kami. Bukan ucapan "selamat datang boboth persib.." seperti kata kepala awak kapal yang mirip Elia Kadam itu yang saya dapatkan, namun malah usiran halus “ “Mas naik ojek saja, karena mobil tidak bisa melintas jalan Thamrin, sudah ditutup”. Sial. Pernyataan supir taxi itu jelas mendebarkan saya seperti "Pah, besok waktunya bayar sekolah anak.."
Singkat cerita sampailah saya dan Bayu di kompleks GBK dengan menggunakan ojek pangkalan. Namun saya harus menjemput teman lainnya di mall FX karena tiket masuk stadion dipegang dia. Dia adalah Aji Nugraha yang posturnya adalah gabungan dari Glen Fredly dan Habib Rizieq. Aji ini keren sekali di mata saya, bagaimana tidak ini di saat puluhan ribu bobotoh tidak bisa mendapatkan tiket masuk stadion, lulusan sipil ITB malah kelebihan jumlah tiket.
Masalah baru sekarang adalah bagaimana saya bisa masuk ke stadion GBK dari mall FX, sementara di pelataran mall ini berjubel sekali orang-orang kucel yang tidak jelas dan susah dibedakan mana lawan mana kawan, mana kaum bani Israil mana tentara Firaun, mana intel mana perusuh. Kembali hanya dengan keteguhan imanlah, saya dan teman-teman berlima siap tempur dengan segala resiko, kami sudah tidak sabar masuk GBK. GBK tinggal 100 meter di hadapan kami.
Mungkin inilah waktunya kami untuk memperjuangkan hak kami dengan cara revolusi fisik untuk mencapai tanah yang dijanjikan. Saya sekarang berlima, bersama Bayu Erdiansyah, Aji Nugraha dan dua teman baru saya yaitu Yuda dan Ucok. Melihat komposisi berlima ini saya yakin perjuangan fisik ini bisa terlampaui.
Sebagai skenario, Bayu adalah pembuka jalan karena dengan wajah tampan bagai Andy Lau gagal diet, orang akan mengira bahwa tujuan dia sebetulnya adalah Mall Senayan City bukan GBK. Di belakang nya Aji, dengan menggunakan topi khas Glen Fredly, berjanggut panjang dan murah senyum, orang akan mengira kalau dia adalah aktivis remaja masjid, sehingga orang akan lebih takut diberi ayat-yat suci dibanding beradu jotos. Yuda dengan muka seram dan jangkung ceking mirip preman lolos dari operasi Petrus dan Ucok yang berbadan tegap dan sangat berotot seperti petinju yang baru mendapatkan medali perunggu di pekan olahraga nasional. Kombinasi mereka berempat harunsya membuat perusuh mikir dua kali untuk mengganggu kami dengan tangan kosong.
Sedangkan peran saya yang berwarna kulit kuning langsat, pipi chubby, berusaha memasang wajah seram untuk menakuti-nakuti orang, tidak lupa membusungkan dada. Bukannya seperti anggota tarung drajad yang membuat seram, yang ada saya lebih mirip Rafi Ahmad sedang ngeden nahan sakit ambeien komplikasi bisul di ketiak. Beban kelompok.
Alhasil, sampailah kami di tanah yang dijanjikan itu yaitu stadion Gelora Bung Karno .. !! Kami memang kaum yang terpilih. Di dalam stadion bobotoh saya hitung bobotoh ini bisa memenuhi seluruh quota jamaah haji di tahun 2010, betapa banyaknya mereka di GBK. Sebagai rasa syukur lalu Aji mengajak saya untuk menunaikan sholat magrib sebelum pertandingan di mulai. Saya berdalih akan jama-takhir. Sungguh kami kombinasi supporter agamis opportunis.
A.3. Kesimpulan Sementara
Kesimpulan nya, jelaslah Final Persib di Palembang adalah perjalanan bulan madu bersama istri impian. Indah dan merangsang. Sedangkan Final di GBK seperti mengunjungi rumah calon mertua yang baru cabut gigi tanpa obat bius. Horror dan Menegangkan.
B. Saat pertandingan&Setelah pertandingan
* Bersambung

Tuesday, July 07, 2015

Saya dan teman-teman Hobbit

Kawan,
Jauh sebelum film Hobbit dibuat dan diproduksi, saya berkeyakinan bahwa kaum kerdil yang heroic dan tangguh adalah nyata adanya. Setidaknya itulah kami.
Saat saya kelas 2 SMP, saya berteman baik dengan seorang abg pramuka fanatik, ambisius dalam ilmu tali temali, terobsesi dalam mengamalkan butir-butir pancasila serta visioner dalam menambah centi tinggi badan. Yaitu : Ahmad Suparjan.
Teman baik saya lain adalah Faizal Noor, biasa dipanggil Kimung. Abg superlabil ini selalu memakai topi dengan kemiringan 45-55 derajat kearah kiblat. Kimung Mempunyai cita-cita ingin seperti Aa Boxer namun berbadan mini seperti batere Alkalin AAA, bermotivasi tinggi untuk mempelajari filosofi kenek angkot serta selalu menulis dalam bentuk tegak bersambung.
Adalagi Imas Rohimah -kami biasa memanggilnya Ipol- wanita mini dari Bandung Utara berbodi aduhay sintal seperti hasil kawin campur antara Rihana dan ukulele. Ipol bercita-cita menjadi Paskibra pusaka tingkat nasional. Namun apadaya ujian pertama mengenai tinggi badan minimal membuat Ipol menggantungkan cita-citanya di langit yang lain, yaitu menjadi pedagang abon ikan cakalang.
Tinggi kami berempat masing-masing tidak lebih dari panjang 2,5 kali pentungan satpam sekolahan. Berat badan tidak melebihi nomer sepatu dewasa Negara-negara katulistiwa kebanyakan. Langkah kami cepat, sigap dan tergesa-gesa namun tidak efektif dalam mencapai tujuan.
Dalam urusan olahraga kami selalu selaras senasib sepenanggungan. Buat kami bola basket adalah olahraga yang mubah. Lebih banyak mudorot daripada pahalanya untuk tim. Kalau pun kami dimainkan menjadi anggota tim, itu hanyalah untuk mengecoh strategi. Sialnya, yang terkecoh tidak saja tim musuh, tapi juga tim sendiri.
Di cabang Volley ball sedikit lebih baik, namun tetap tergolong makruh. Lebih baik ditinggalkan daripada dilaksanakan. Tupoksi kami adalah menjauh dari net sejauh mungkin. Dibolehkan melakukan serve (serpen) saja buat kami sudah seperti mendapat penghargaan kalpataru. Otoritas tertinggi kami sebagai pemain cadangan adalah mencari tukang pompa bola jikalau bola sedang kempes serta tidak lupa mengelap hingga kering jika bola sudah masuk comberan.
Namun dalam permainan sepakbola kami punya pesona tersediri. Kami adalah trio maut kombinasi Rui Costa, Luis Figo dan Asep Dayat. Kelebihan Ahmad Suparjan adalah lari kencang sekencang-kencangnya seperti kijang yang ingin buang air besar. Wilayah operasi Ahmad Suparjan menyusur pinggir lapangan sisi kanan. Tak ada pemain lawan yang tidak bisa dia lewati di sisi itu. Tua atapun muda, sudah disunat atau belum, tentu akan sulit mengejar dribble-sprint nya Ahmad Suparjan. Kekurangan Ahmad suparjan cuman satu, dia selalu lupa kalu lapangan bola itu ada batasnya dan tak sepanjang tol Padalarang-Cileunyi. Jadi dalam total percobaan Ahmad Suparjan berlari sprint melewati bek lawan dalam satu pertandingan, jumlah bola out meninggalkan lapangan selalu lebih banyak dibanding dengan jumlah Mentri di Kabinet Gotong Royongnya Megawati dan Hamzah Haz. Namun Buat Ahmad Suparjan menang sprint dengan bek lawan sudah lebih membahagiakan dibanding nonton program TVRI Album Minggu Kita.
Lain lagi dengan Kimung, dia jago teknik menggiring bola di tengah lapangan. Melewati 3-4 pemain sekali dribble sudah lah biasa baginya. Teknik menggiring bolanya adalah gabungan antara teknik seruduknya Mike Tyson dan senam SKJ 88 menit ke 1:35. Kkekurangan Kimung hanya satu yaitu kesuperlabilan. Barang siapa yang menyentuh dan membuat derajat kemiringan topinya bergeser 1 derajat saja, pastinya diajaknya berkelahi. Dan biasanya, belum menginjak 1/2 babak pertama, setengah pemain lawan sudah diajak berkelahi di dalam lapangan. Memasuki ¾ babak pertama, biasanya 3/4 lawan sudah diajaknya berkelahi di luar lapangan. Begitu eskalasinya.
Dengan kemampuan dan skill yang ada, umpan terobosan Kimung dari tengah lapangan dan atau umpan silang ahmad suparjan dari sisi kanan jelaslah memudahkan saya untuk merobek-robek gawang lawan dalam posisi saya sebagai penyerang tunggal*).
Jika gol terjadi kami bertiga melakukan selebrasi dengan gaya fenomenal 1990-an yaitu trio Mono, bagong dan semar dalam lakon Aneka Ria Safari. Dijajaran supporter, saat selebrasi gol ke gawang lawan membahana, Ipol hanya melemparkan senyuman maut mematikan dan mengacungkan jempol di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya tetap teguh memegang buku bacaan literatur, sepertinya berjudul: Cara cepat menggaet pacar pengusaha abon tingkat pemula .
*bersambung
*)Definisi Penyerang tunggal di sini adalah posisi striker yang dalam tujuh pertandingan hanya menghasilkan gol tunggal).

Friday, June 19, 2015

Saya dan Teman sebangku

Kawan,
Saya punya teman-teman sebangku SMP yang hebat namun ironis. Tepatnya, mereka yang hebat saya yang ironi.
Teman sebangku kelas 1 SMP saya adalah malaikat jadi-jadian. Ridwan Yuniardhika namanya. Sesuai namanya dia bak malaikat penjaga surga. Senyumnya adalah sapuan kuas Da Vinci, langkahnya bak Cristiano Ronaldo menuju podium Balloon D’or, menawan. Bicaranya seperti Bang Haji Roma memanggil Ani, berwibawa dan pantas. Sepatu warrior saja jika melekat di kakinya tampak seperti Nike Jordan.
Kalau kami berjalan bersama, Dia adalah Onky Aleksander sedang saya Emon. Dia Dude herlino, saya asisten kameramennya. Dia kursi sofakulit domba, sedangkan saya asbak rokok. Dia buku sastra Kahlil Gibran, saya struk pembeliannya. Itulah mengapa walau kami teman baik sebangku namun saya menghindar untuk naik angkot bersama. Ini aturan sacral. Kalau ingkar, ngenes akibatnya.
Kalau Ridwan tersenyum, abg-abg diangkot selalu terserang virus aneh yang berbentuk pipi memerah, duduk gemeter atau senyum-senyum disentry. Dan saya hanyalah stiker yang menempel legendaris diangkot : “Naik gratis turun bayar”
Teman sebangku itu bagai jodoh. Kita bisa memilih sendiri, dijodohkan orang lain, atau juga kawin paksa. Dan saya lupa bagaimana dulu saya berjodoh dgn teman sebangku di kelas 3 SMP, dimana teman sebangku berikutnya ini membuat saya seperti keledai. Jatuh ke jebakan yang sama.
Ahmad Galih Kusumah adalah ironi saya kedua. Dia adalah bintang lapangan dalam arti sesungguhnya. Idola abg-abg tanggung. Bayangkan, dia andalan sekolah di cabang-cabang olahraga popular anak abg jaman orde baru repelita IV : Volley, Basket dan Sepakbola.
Di cabang olarahraga basket, lay up nya Galih hampir berupa slam dunk, untuk ukuran anak SMP itu sudah parah kerennya. Dribbling nya meliuk-liuk seperti Gary Payton. Urusan rebound dia selalu unggul seperti Denis Rodman versi anak pesantren. Three pointnya jarang meleset. Kala Galih adalah Toni Kukocnya Chicago Bulls, sedangkan saya ?? ya. mascot bantengnya.
Di saat Galih dielu-elukan wanita sejagat smp se Bandung Utara di lapangan, saya riuh rendah di tempat penonton. Saya mengkoordinir para supporter bengal kelas abg tanggung smp. Urusan saya berteriak bersama para supporter-supporter kere yang untuk beli minum 1 teh botol saja mesti patungan, dan lebih dari itu terbelakang dalam kemampuan olahraga. Sedangkan Galih di tengah lapangan sana riuh rendah disoraki abg-abg wanita.
Di olahraga bola voley ? sama saja. Galih adalah tukang smash andalan. Smash nya menghujam jantung para supporter wanita kubu sendiri ataupun lawan. Satu kali smash saja teriakan supporter wanita kaya kesurupan jin si Candil, vokalis serius band. Sedangkan saya ? sesekali saya menjadi pemain cadangan yang kebanyakan jobdesnya adalah mungutin bola kalau sudah out ke jalan raya.
Di cabang sepakbola, di saat prestasi tertinggi saya menempati striker pilihan ke 4, Galih adalah striker utama dan satu-satunya pemain yang berhasil mencetak gol ke SMP 15 di pertandingan final antara SMP se Bandung Utara. Syukurlah saat itu saya terserang demam tifus komplikasi sariawab yang membuat saya ada alasan kokoh untuk mengundurkan diri sebagai pemain. Setidaknya saya tidak mengulangi jobdes mungutin bola kalau out ke kuburan.
Gagal di bola basket dan vollwy bol, saya akhirnya memilih karir menjadi pingpong di liga bentukan Pa Syahir, guru olahraga legendaris. Liga ini terdiri atas 3 divisi, masing-masing divisi terdiri atas 20 orang yang saling bertemu. Mirip liga Inggris saat kini. Prestasi saya setidaknya membanggakan, saya berhasil promosi ke divisi 2 dengan 10 kali kemenangan berturut-turut, 70% nya menang WO.
Apakah ada riuh rendah penonton kepada saya saat gilang gemilang di cabor tenis meja ini ?? jelas tidak. Pingpong di sekolah saat itu adalah cabang olahraga yang hanya lebih menarik dari khutbah jumat.
Namun kawan, nanti ada bagian cerita dimana merupakan salah satu episode terbaik saya semasa SMP, tepatnya ketika kelas 2 SMP. Dimana saya berteman baik dengan seorang pramuka fanatik, ambisius dalam ilmu tali temali dan menghapal butir-butir pancasila serta visioner dalam menambah tinggi badan, yaitu : Ahmad Suparjan. *bersambung

Wednesday, November 05, 2014

Persib asup pinal mang ..

Kalau pun ada yang bilang persib menang lalu tidur menjadi tibra, ternyata salah juga. saya mengalaminya semalam ..
Kemenangan Persib hancurkan Arema 3-1 adalah segala keindahan dari yang tersisa di kepulauan nusantara akhir2 ini diantara kusutnya DPR, ilegal fishing, ilegal logging hingga ilegal protitusi. *mana ada prostitusi yang tidak ilegal ya*.
Kemenganan persib adalah puncak dari penatnya hiruk pikuk pekerjaan, ditolaknya ide sama bos2 yang boloho tapi sok tau, rekan kerja yang antikorupsi tapi mark up anggaran, dan istri yang cantik dan pura2 ramah padahal terus menuntut ingin mini cooper.
Ini bukan tentang mengalahkan Arema-nya (yang biasa terjadi), bukan juga tentang skor 3-1 nya, tapi ini tentang masuk ke final nya
Berati satu langkah lagi persib jadi juara Liga Indonesia 2014. Liga yang selama 18 tahun ini berubah jadi liga jadi2an, liga atur2an, yang jauh penuh drama dibanding sinetron "Saling memberi saling menerima".
Tidur saya kurang nyenyak semalam kusabab masih euforia ingin nonton persib di final, yang tidak pernah saya lakukan seumur hidup saya. Pas tahun 1995 saat final lawan petrokimia, saya tidak berkesempatan untuk nonton Persib di Gelora Senayan (kata sambas, dulu), sekarang GBK. Saat itu saya dilarang orangtua, maklum saya masih kelas 2 smp dan rata-rata yang pergi ke jakarta dari kampung saya pergi naik truk terbuka. Orang tua cerdas dan bernas seperti Ibu dan Bapak saya jelas akan melarangnya. Jadi ya sudah saat itu saya tetap tinggal dibandung, nonton Persib vs Petrokimia lewat TV Digitec Ninja 14 inch, yang seperti kita maklumi bersama untuk mendapatkan gambar yang mulus seperti kulit Syaiful Jamil, antenanya harus digeret pake bambu yang menjulang seperti monas.
Ya, ini lah saatnya saya nonton Persib di Final. Final jelas bukan pertandingan putaran liga biasa yang cuma pengaruhi peringkat di klasemen, bukan juga seperti pertarungan KIH Vs KMP di DPR yang lucu-lucuan. Ini pertarungan kalah dan menang, seperti halnya Elias Pical Vs Galaxy, Muhammad Ali VS George Foreman atau Julia Perez Vs Dewi persik. Menang berarti juara, pahlawan dan diagung-agungkan bak Habib Rizieq di FPI. Sedangkan kalah berarti pecundang dan tanpa ampun, serta tidak punya kesempatan untuk menggugat ke MK, PTUN atau KUA sekalipun untuk merubah hasil pertandingan.
Pertandingan diputuskan untuk dilangsungkan di Jakabaring, Palembang. Sayang tidak di Jakarta memang. Tapi ga usah dipikirkan apalagi dicurigai. Karena sesungguhnya rasa curiga sudah menjadi hak monopoli istri.
Berangkaaat ..

Tuesday, March 05, 2013

Keluarga M.U Sukria (2)

Sebelum masuk ke anak no.3, saya bercerita dulu tentang leluhur kami.
Dulu diceritakan didaerah bandung utara yg seharusnya berlimpah ruah air, ada suatu daerah yg mengalami kekeringan (raat wae caina). Hiduplah disana seorang berilmu tinggi,jauh lebih tinggi dari Brama kumbara atau The Great Alexander sekalipun, yaitu Mbah Ngabeui. Mbah ngabeui melihat daerahnya kekeringan, dia lalu membuat saluran air menembus gunung, agar air mengalir ke masyarakat. Atas jasa mbah ngabeui tersebut mengalirlah air dengan deras di daerah itu yang dulunya cainya suka raateun. Maka daerah tersebut disebut Cirateun, artinya loba cai didaerah nu baheula caina sok raateun.
Namun sayang Mbah ngabeui tidak bisa diangkat jadi pahlawan nasional, ironisnya malah dianggap penghianat bangsa karena melindungi prajurit tentara prancis yang saat itu kabur dari ngamandoran pembuatan jalan Anyer-Panarukan. Lalu Mbah ngabeui menjodo2kan tentara prancis tersebut dengan penduduk lokal cirateun dan lalu mereka berakulturasi. Hasil akulturasi tersebut bisa dilihat dari nama2 org cirateun yang keprancis-prancisan seperti Enouch, karena dilafalkan oleh org Cirateun maka jadi Enok. Atau Ayrouche dilafalkan menjadi Iroh. Serta Mayzyarouch, akan dilafalkan penduduk lokal menjadi Maesyaroh, itulah Ibuku.
Sebetulnya Mbah Ngabeui itu bukan pengkhianat bangsa, tapi dia bageur sama semua orang. Selain menerima dgn tangan terbuka tentara prancis yg kabur dari ngamandoran pembuatan jalan Anyer-Panarukan, Mbah ngabeui pun menerima dgn tangan terbuka pekerja-pekerja rodi yg membuat jalan tersebut. Untuk menghindari konflik antara tentara prancis dengan pekerja rodi di cirateun, maka mbah ngabeui memindahkan pekerja rodi itu ke penjuru seperti Cihideung, Pasir Karamat dan Cikeas

Keluarga M.U Sukria (1)

Kawan, boleh saja kau jadi orang hebat dibidangmu. Tapi tanpa keluarga yang bahagia, kehebatan itu bisa menjadi kapal titanic yang menabrak Gunung Salak. Oleh karenanya berikut saya sampaikan mengenai kisah sedikit anak-anak dari Ibu-Bapakku, agar kisah ini menjadi inspirasi dalam menyusun cita-cita dan rencana investasi syariah.
Aku mempunyai 5 kakak, Kakaku yang nomer satu adalah seorang perempuan, bernama Lilis nursolihah.Kami memanggilnya teh lilis atau mami ndut. Dia kerja sbg PNS di salah satu kesatuan TNI. Karenanya balad2nya adalah para prajurit berbadan tegap dan berkumis baplang. Teh lilis hobinya olahraga. Dgn postur badan yg cukup ramping : tinggi sktar 155 dan berat badan 70, teh lilis adalah instruktur senam pavorit dikantornya. Kalo 17 agustusan teh lilis selalu keluar sbg pemenang lomba lari jarak jauh. Maklum PNS di kesatuan TNI.
Sayang, 2 tahun kemarin tehlis terserang stroke diusia 50. Akibatnya teh lilis mengalami amnesia dan kesulitan berbicara. Selama 3 bulan prtma teh lilis lupa akan segalanya, bahkan nulis pun sampai sekarang jd tidak bisa.
Cuman tiga hal yg teh lilis ingat : keluarga (itupun suka tertukar antara nama kedua anaknya, ipang dan gina), rute jalan (karena sehari2 naek motor) dan pecahan uang. Hingga saat ini teh lilis blm merasa kembali normal sprti sedia kala. Ngomong masih terbata2 dan ga bisa nulis, tapi kalo ada hajatan ttp mau tampil nyanyi walau musik dan vokal bagai musuh dalam selimut. Teh lilis adalah pemain sinetron nomer 1 dirumah karena kemampuannya dalam hal gampang ceurik.
Kakak yg kedua adalah Nurdin solehudin, kelahiran 63. Kata emih(ibuku), si aa hidupnya dr kecil susah, hidup dijaman pki dan penkonsumsi raskin. Si aa, begitu kami memanggilnya, adalah aktivis karang taruna yg paling tersohor dalam kemampuannya dalam stand up comedy dan maen calung.
Sebagai pengurus remaja mesjid si aa jg merupakan kaum revolusioner menggulingkan rezim imam mesjid yang berhaluan kalo solat id cukup di mesjid. Sedangkan si aa dan jajarannya keukeuh kalau solat id harus dilapang dan dilengkapi dgn sound sistem 5000 watt. Selain sbg media dakwah juga bisa dipake dangdutan setelahnya. Maklum aktivis remaja mesjid selalu menjunjung tinggi nada dan dakwah bang haji oma.
Si aa beristrikan ibu Yati Sumiyati, nama yang sangat murwakanti, guru yg terkenal paling galak se smp 1 cimahi. Jadi kalau saya panggih sama teman yang ketauan alumni smp 1 Cimahi, pasti saya tanya, kenal bu yati ga ? Pasti jawabnya : oooh si ibu eta, anjir galak, pikasebeleun, merekedeweng, pikatakoleun, geuleuh aingah .. Dan hampir dipastikan saya mengurungkan niat untuk bilang bahwa dia adalah istri dari kakakku yg hidup dijaman pki itu.
Si aa teh memang pelawak, suasana rumah mun aya si aa jd rame pisan. Sbtulnya dia sangat berpotensi untuk ikut API sprti sule. kalau sule adalah juara dari API, akademi pelawak indonesia, kalau si aa juara dari API, atas perintah istri. Wajarlah bu yati galak. Meureun si aa lemot kalau dititah ngitung pulangan balanjaan. *maklum bu yati guru matematika*
Si aa itu dikenal sebagai a asep. Krn dikeluarga emih (5 bersaudara, cewe semua) pasti mempunyai perwakilan anak yg bernama asep Nanti akan ada yg namanya asep emah, asep mae, asep empun, mirip penamaan org amerika. Emah, mae, empun adalah nama pendek dr ibu yg bersangkutan.
*bersambung*

Friday, December 16, 2011

Ironi

Kawan, jika ada suatu kegetiran yang cukup beradab mungkin itulah yang saya definisikan sebagai ironi. Iya ironi. Ironi kadang menyakitkan atau bahkan menghibur. Dan jika dari sekian banyak kawan saya yang bisa membuat tertawa getir ironis adalah Bambang DJ, biasa dipanggil Bembi, Bengbeng atau DJ.

Seorang kawan yang saya kenal 5 tahun lalu ketika kami (berdelapan orang) masuk perusahaan dalam program MT (management trainee) bersama-sama. Bambang muncul dengan kejutan, ketika yang lain dianggap favorit karena datang sebagai alumnus kampus yang dianggap ternama di negeri ini, dia memperkenalkan diri dari kampus yang kami harus bertanya 2 kali untuk mempertegas pengucapannya atau khawatir kami sedang mengalami gangguan pendengaran, dan setelah itu kami harus googling untuk memastikan bahwa kampus itu benar-benar ada dan jelas kami getir melihat bukti bahwa kampus itu benar-benar ada. Tapi waktu kedepan merubah prediksi awal ini. Inilah ironi yang pertama. Tapi maap kisah sukses Bambang ini tak sudi saya ceritakan.

Sama seperti halnya saya, Bambang juga adalah seorang farmasis. Tapi jika ada 7 unit Bidang Ilmu yang dulu berkembang di farmasi, Bambang adalah bidang ilmu yang ke delapan, yaitu Farmasi Militer. Farmasi Militer yang Bambang pahami ini bukan seperti halnya LAFI-AD atau LAFI-AL yang merupakan unit khusus farmasi untuk memproduksi kebutuhan intern angkatan bersenjatanya masing-masing. Tapi Bambang adalah seorang farmasi yang mendalami persenjataan, angkatan bersenjata, pertahanan, keamanan termasuk siskamling didalamnya.

Dia lebih menguasai spesifikasi AK dan Boeing daripada sediaan suppositoria. Mekanisme flintlock pada senjata lebih dia kagumi daripada metode granulasi basah pembuatan tablet. Jangan Tanya mengenai standard dan syarat CPOB, karena Bambang ini lebih menguasai syarat-sayarat seorang sipil untuk masuk jadi Bintara, Tamtama atau bahkan kamra.

Bambang tidak pernah terobsesi foto bareng artis, selebritis atau atlet terkenal, dia akan lebih berseri-seri jika berfoto dengan propam Istana. Bahkan jikalau iring-iringan pejabat membelah jalan, Bambang sering dalam kondisi panic ingin berfoto. “Mau difotoin Beng ?” Tanya saya, “ Iya Kang”, Jawab Bambang penuh harap tapi grogi. “Sama Presiden?” sambung saya, “Engga Kang”, bambang Mantap, “Sama paspampres !”.

Lebih tepatnya Bambang adalah farmasis yang awalnya menggantungkan cita-citanya menjadi seorang militer tapi gagal merenggutnya. Dan mungkin seperti halnya saya, dalam perjalanannya dia ikut arus dalam trend pria cacat cita-cita ditahun 2000an yaitu menjadi seorang farmasis. Kami terjebak dalam sebuah pepetah lama : kejarlah cita-citamu sekuat tenaga, jika tidak terkejar usahakan nebeng teman. Iya, itulah ironi yang kedua.

Menurutnya, ada 3 Bambang yang akan dikenang bangsa ini kedepan, yaitu Bambang Yudoyono dan Bambang Pamungkas dan dirinya. Jika SBY sedang berpidato, Bambang akan mendehem lalu berdelik sombong kepada yang lain bahwa ini adalah Bambang generasi pertama yang membanggakan. Jika Bambang Pamungkas bertanding apalagi mencetak gol, Bambang DJ pasti akan mendadak membetulkan kerah baju dan lalu mendongak, bahwa inilah Bambang generasi kedua yang hebat, seolah ruh dialah sebetulnya yang sedang nyasar berada di dalam diri Bambang Pamungkas.

Inilah ironi yang ketiga. SBY dan BP adalah cocok antara output dengan tekstur. SBY adalah seorang Jendral militer, berwibawa, seorang Presiden dengan tekstur berbodi tegap, gagah dan kelimis. BP adalah pesepakbola sohor, kapten, yang saat ini adalah top scorer timnas, dengan tekstur bodi yang walaupun tidak setinggi SBY tapi sangat atletis dan lincah bergerak. Dua sosok beda profesi dengan tekstur yang meyakinkan untuk diprofesinya masing-masing. Sedangkan Bambang yang ketiga adalah farmasis obsesif militer yang teksturnya 44-36-striker : nomor celana-lingkar dada-bodi striker seperti Maradonna atau Lionel Messi.

Bukankah dengan bodi Lionel Messi tapi nomor celana 44 adalah se buah ironi, apalagi obsesinya militer. Bambang Lebih mirip maradona, bukan ketika mengantar Argentina juara Piala Dunia 1986, tapi tahun 2000 ketika masuk rehabilitasi narkoba.

Saya bersyukur Bambang DJ ini dilahirkan ditahun kala Presiden Soeharto masih berkuasa dan Indonesia sudah merdeka. Saya tidak terbayang nasib Bangsa Indonesia sekarang jika Bambang dilahirkan pada jaman pra kemerdekan lalu menggantikan peran Jendral Soedirman saat itu, mungkin pasukan pengangkut tandunya akan lebih banyak daripada pasukan yang bergerilya. Sulit sekali kita merebut tahta kemerdekaan sepertinya.

Ironi yang keempat, kawan saya ini selalu membanggakan diri bahwa Surakarta *kota kelahirannya* adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta ini -khusus tema ini Bambang akan membela habis-habisan seperti mahasiswa kurang data dibantai dalam sidang sarjana.

Namun, walau Bambang selalu menjadi tempat sampah cercaan dan hinaan saya dan kawan-kawan, dia adalah kawan yang tak kenal pamrih. Inilah puncak ironi yang sesungguhnya. Jika saat makan bersama, dialah orang yang akan membayarkan duluan ketika kita pura-pura berhiruk pikuk membuka dompet masing-masing bahkan setelah kita terbahak-bahak bahagia menghinanya di meja makan. Mobil bambang pula lah yang menjadi favorit kami untuk meminjam kemana-mana, tak pernah satu kali pun Bambang akan menolak meminjamkan bahkan setelah kami mengejek-ejek sekalipun. Dialah yang akan setia menemani sampai ahir kerja selesai untuk mengantarkan anak buahnya satu-satu.

Ironisme ini yang membuat Bambang selalu hadir menghibur di tengah saya yang kesusahan. Jika sedang susah lalu ingatlah Bambang, maka akan lah segera muncul rasa syukur, walau sambil sedikit mengulum senyum.

*bersambung*

Thursday, December 01, 2011

kalah lagi

Ada dua hal yang mungkin sulit saya syukuri saat ini, yaitu (i) Menjadi seorang farmasis dan (ii) Kekalahan timnas u-23 di SEA GAMES atas Malaysia.

Kawan, dua hari berlalu sudah kekalahan timnas di final SEA GAMES, tapi saya masih saja susah menutupi kekecewaan ini. Saya tidak bisa berbohong perasaan atas ini, sedih dan kecewa, apalagi kalau lihat berita ulasan pertandingan atau forum online yang melibatkan orang malay berkomentar. Pedih rasanya. Kenapa harus kami yang menanggung malu padahal timnas yang berbuat, ini sih seperti siapa yang menghamili siapa yang bertanggungjawab. Sepakbola memang kejam, lebih kejam dari guru BP atau dosen pembimbing tugas akhir. Sepakbola memang tidak adil, bak antara besar penghasilan guru dan calo anggaran.

Pulang dari GBK saya tertunduk lesu, menyesali kekalahan (dan juga lapar). Berjuta ‘mengapa’ dan ‘andai saja’ berjejal di kepala ini bagaikan penumpang kereta ekonomi Serpong-Tanah Abang. Yang paling menyesakkan adalah mengapa kita mesti kalah dari Malaysia. Padahal urusan penyiksaan TKW dan claim seni budaya kurang apa kita dibuat geram, merebut daerah perbatasan, menyayat Manohara hingga dikawininya Bunga Citra Lestari pun kita ga bisa berbuat banyak. Padahal dulu Malaya adalah jajahan Majapahit dan juga Sriwijaya, dulu mereka berguru sama Indonesia dari urusan keberagaman, politik, stabilitas nasional hingga Titihan Muhibah. Mereka hanya punya kuala lumpur, sedangkan kita lumpur beneran segede lapindo.
Mereka sebagian besar daratan kita kepulauan, kita punya pulau komodo mereka hanya ngaku-ngaku, Upin-Ipin juga ngikut-ngikut gaya pa Ogahnya si Unyil, Sheila Madjid nya ga semuda Sheila Marcella. Mereka hanya punya Twin Tower, tapi tidak seheroic Monas, tugu proklamasi atau VCD Bandung lautan Asmara. Pokoknya terlalu banyak alasan untuk lebih berbangga menjadi orang Indonesia karena kita daripada Malaysia.

Kekesalan terlebih lagi bukan karena permainan Malay yang sebagus Uruguay atau AC Milan bisa habis menghajar tim kita 7-0 atau 5-1, mereka cuman bisa menang drama adu penalty. Padahal kalau urusan drama kita jagonya, mulai dari drama KPK Vs Susno Duaji, Gayus & Anggodo, Century Vs Sri Mulyani, Bakri Vs Panigoro, Nazaruddin VS demokrat serta drama sinetron hingga seri Tersanjung 7.
Ah, andai saja Ferdinan lebih kencang tendagannya, andai saja Stevie ga sakit lambung, andai saja Wanggai ga cedera, andai saja Diego ga lebih ganteng dari saya, mungkin ceritanya akan lain, mungkin Chealsi Olivia juga akan menyesal.

Tapi kawan, meratapi kekesalan dan kekecewaan ini mungkin tidak akan menyelesaikan permasalahan, seperti halnya kita mengadukan masalah macetnya Jakarta ke Mahkamah Konstitusi. Anggap lah sudah nasib. Nasib seorang Indonesia yang masih harus bersabar menunggu gelar juara sepakbola yang sudah 20 tahun kita tidak rasakan, nasib seorang Indonesia yang kena macet tiap hari, yang kementriannya korup korup, yang politisinya maling maling, yang tidak tahu akhir dari Nazaruddin, yang masih harus menunggu 2 tahun lagi untuk punya presiden baru, yang tidak tahu kenapa Paramita Rusadi bercerai dengan Gunawan.

Sudahlah mudah-mudahan ini pelajaran berharga bagi kita semua terutama PSSI dan Arifin Panigoro agar tidak sombong dan selalu rajin menabung. Anyway, terimakasih atas perjuangan rekan timnas, kalian sangat membanggakan. Di umur U-23 tidak banyak orang yang bisa membuat bangsa ini berdegup, berteriak, dan membuat gemetar seisi ruang keluarga, pos hansip RW, kelurahan, panti pijat hingga Cikeas.
Saya berdoa mudah-mudahan kalian tidak berhenti di sini, masih ada piala asia, AFF, olimpiade dan piala dunia. Semoga kalian hidup bahagia, menikmati semua latihan dan pertandingan, jadi bintang iklan, artis infotainment, anggota DPR, wakil menteri, ketua KPK atau penasehat presiden. Tapi percayalah menjadi pesepakbola lebih bisa membahagiakan dan membanggakan masyarakat daripada menjadi presiden atau anaknya presiden. Satu titip yang kalian harus hindari, yaitu menjadi seorang farmasis, nanti saya kasih tau.

Thursday, January 20, 2011

Malaikat Vs Nurbin

Tersebutlah Nurbin Hamid ketua Persatuan Sepakbola Sempoyongan Indonesia (PSSI), hendak dicabut nyawa oleh malikat pencabut nyawa,

“ Anda siapa, beraninya datang tanpa izin FIFA ”, Tanya Nurbin ,
“ Saya malaikat pencabut nyawa ”, jawab Malaikat.

“ Anda ini illegal, saya harus kirim surat ke Tuhan agar memberi teguran untuk anda”, Jawab Nurbin yg tiba2 malaikat itu dia lihat sebagai jelmaan Arifin Panigoro
“atas apa ?” Tanya malaikat heran,

“anda illegal“ jawab Nurbin mantap..
“Saya hendak menjemput anda, saya tidak punya waktu banyak ” tegas malaikat

“Tenang saja, waktu bisa saya atur, bahkan saya punya pengalaman untuk mengatur skor pertandingan dan menentukan siapa yang menjadi juara liga, siapa yang degredasi dan promosi, mudah untuk saya tentukan. Yg saya tidak bisa atur cuman Irfan Bachdim. Jangan main-main dengan saya.semua bisa saya kendalikan ” sombong Nurbin.

“Saya hanya menjalankan tugas suci, mengembalikan anda ke fitrah sesungguhnya” malaikat mulai kesal

“Saya hanya tunduk pada aturan FIFA, atasan saya Bakri. Saya lebih dari anda, saya adalah konseptor dan pebisnis ulung.anda hanya satuan pelaksana tugas kan “ Nurbin menjawab, sekarang dia melihat malaikat seperti sesosok Denny Indrayana

“Saya adalah malaikat khusus untuk mencabut nyawa orang-orant tertentu, biasanya yang punya permasalahan kompleks seperti Firaun, Korun, Namrudz dan J.F Kennedy. Saya berhasil mencabut nyawa mereka dengan sukses, dengan cara yang sangat dramatis!!’ malaikat mulai kesal

“Sebetulnya Keberhasilan anda ditentukan oleh GOLKAR..Atasan saya lebih hebat lagi, dia bisa menenggelamkan peradaban hanya dengan lumpur, lebih tragis. 1000% asli ” jawab Nurbin semakin jumawa

“ Kematian adalah harga mati. Saya menjalankan perintah !!” Malaikat mulai tak sabar dan hendak mengambil leher nurbin

“ sebentar pa..”Nurbin menimpal namun skg dgn nada aga ketakutan, kali ini dia lihat Malaikat tsb menjadi sesoyok Gayus

Sambung Nurbin : “Tenang pa, kita sama-sama pelaku kekejaman..kita dipihak yang sama.. kita sama-sama punya pengalaman mengelabui Hakim, Jaksa, polisi hingga apalagi media. Bagaimana kalau kita pemilu mendatang berpasangan menjadi presiden-wakil presiden. Tidak usah takut tidak bisa, presiden sesungguhnya nanti atasan saya ko, urusan dana nanti saya minta ke atasan saya, tugas anda adalah menakut-nakuti pemilih jika tidak mau pilih kita maka anda akan cabut nyawanya. Kalau kita sudah menang tidak usah takut akan parlemen, mereka cukup kita fasilitasi untuk atur-atur APBN, mau-maunya mereka saja, tapi kita batasi dibatasi cukup di 2-3 komisi saja. Jangan sakit hati kalau ternyata anggota dewan tidak takut sama anda, mereka hanya takut kehilangan harta dan jabatan. Yang paling penting adalah bagaimana atasan saya masih bisa mewujudkan cita-citanya menjadikan Indonesia sebagai wisata lumpur dunia. Satu lagi, saya mau angkat tuan Riedl menjadi Menpora, saya muak sama Menpora sekarang yang maunya ada liga tandingan, menpora nanti saya ubah menjadi kementrian pemuda dan hura-hura.”

Tanpa hirau, nurbin hamid melanjutkan : “O iya.. Mentri Keuangan kita angkat saudari Ayin, dia pintar mengatur mengakrabkan jaksa dan para pengusaha lainya. Presiden sekarang kita dorong menjadi sekjen PBB, kan ngomong Inggrisnya dah makin jago tuh. Menkominfo kita ganti dengan Rahma Azhari, biar konten porno dibuka semua kalau bisa dia menjadi kontennya semua. Menristek kita Tunjuk Julia Perez, sepertinya dia punya concern lebih tentang Bra Laser, siapa tahu itu bisa menyembuhkan penyakit kanker. Posisi yang paling basah adalah menteri kesehatan dan pekerjaan Umum, tenang, posisi ini akan saya serahkan kepada Anggodo, dia pintar bagi-bagi keuntungan. Panglima TNI saya rencannya untuk Ki Joko Bodo, sedangkan kapolri Ki gendeng pamungkas, jadi kalau ada yang macam-macam sama saya, tinggal santet saja tidak usah diculik ketika jaman Suharto dulu. Tidak ada bukti toh. Orang-orang kritis macam Din Syamsudin, Syafii Maarif, Fajroel kita adu domba dengan FPI dan ahmadiyah. Anda jangan Tanya siapa ketua PSSI, saya tetap rangkap ketua PSSI, disini saya menyenangkan berhubungan agen pemain asing dan jejaring judi internasional, nah selebihnya nanti anda yang atur dan tentukan. Semuanya demi kebahagian Bangsa Indonesia, khususon saya sekeluarga, keluarga Bakri, keluarga cikeas ”

Malaikat tersenyum getir lalu terbahak bahak..




*bersambung*
jkt. 20.01.11

Monday, January 17, 2011

ahirnya (persib menang) datang juga

Menunggu gebrakan SBY akan kasus Gayus, BLBI, Century, pengobatan berkualitas&murah, pendidikan gratis&bermutu, penyerapan tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan petani sama sulitnya dengan saya untuk naik gaji 3 kali dalam setahun.

Tapi ya sudahlah, dari sekian banyak gebrakan yang saya tunggu-tunggu dari pemerintahan SBY, ada dua hal utama yang saya sangat harapkan terutama di minggu malam, yaitu (i) SBY mengumumkan bahwa dia menerima pengunduran diri Nurdin Halid (ii) SBY mengumumkan -dengan alasan yang hanya SBY sendiri yang tahu- bahwa hari senin esok diliburkan. Ah jika itu terjadi, penyesalan saya tidak memilih SBY akan lebih dramatis dibanding penyesalan saya pilih jurusan Farmasi saat UMPTN.

Namun walau dua hal itu tidak terjadi, kemenangan persib tadi malam membuat semangat saya ini menggeliat menuju Senen pagi. Diluar itu, menyambut hari senen lebih berat dibanding lari keliling senayan sambil mengangkat 2 galon aqua dan lebih meresahkan dibanding menunggu hasil pilpres oleh KPU.

Dan kemenangan persib atas Bontang FC 1-0 semalam betul-betul bagai melepas lapar di tukang cilok, tidak mengenyangkan tapi membuat perut nyaman dan tertidur. Kalau persib menang, apalagi naik peringkat, melihat klasemen sementara seperti melirik cewek pake rok mini, beda halnya ketika persib ada di zona degredasi, melirik klasemen bagai melihat soal UAS kalkulus 3 setelah kecopetan.

Terimakasih PERSIB. Semangat saya betul-betul membara di senin pagi ini.
Mari kita pulang cepat..:p

Wednesday, January 12, 2011

Sakit pinggang (2)

Sebagai salah satu penggemar Rock dan balada, Iwan Fals khususnya, saya kutip lirik salah satu lagu dangdut tempo dulu yang dinyanyikan Nais Larasati :

“bagaikan petir di siang hari..bagaikan layang putus dari benangnya..”

Setidaknya syair tersebutlah yang paling cocok menggambarkan perasaan dan pikiran saya ketika mendengar saran dari dokter syaraf untuk tidak berolahraga badminton, bersepeda dan tenis terkait sakit pinggang yang sama alami. Saran-saran lain yang keluar dari mulut dokter bahkan saya tidak ingat, ocehannya bagaikan mendengar Ruhut Sitompul menyanyikan lagu kangen band di Tivi milik Aburizal Bakri.

Apa boleh buat, pilihannya buat saya sekarang tinggal 2, yang pertama ganti hobby yang kedua ganti dokter.

Olahraga yang dianjurkan untuk saya sekarang adalah berenang dan senam khusus punggung. Saya memang menyukai renang, tapi dalam kategori bermain-main dengan air, bukan konteks sport atau game. Sensasinya aga lain dengan badminton atau tenis, dimana kita bisa bersenang-senang atas kekalahan lawan, bisa terbahak-bahak ketika lawan di smash lalu terguling-guling. Sinting memang, tapi itu juga yang membuat saya khawatir akan diri saya yang jangan-jangan punya bakat jadi politikus atau aparat pemerintah -berkampanye lalu berkhianat- bedanya saya tetap sportif menerima kekalahan, walau ujung-ujungnya ada yang bisa yang jadi kambing hitam, kalau ga raket ya sepatu atau shuttelcocok bahkan Nurdin Halid.

Sedangkan Kemampuan berenang saya memang sebegitu-begitunya, kalau ga gaya katak ya gaya dada, kalau sudah bertanding ya ujung-ujungnya pake kartu As : asal nyampe, asal gak tenggelam, asal penampilan tetap ok. Kalau kalah bertanding renang apa yang bisa saya salahkan? celana renang ? kadar garam kolam ? fauzi bowo ? itulah makanya renang saya perlakukan untuk main-main saja, untuk bertanding saya pasti menolak, menaklukan diri sendiri di kolam renang saja sulit.

Disamping berenang, saya dianjurkan untuk melakukan gerakan senam punggung sederhana, yang gerakan-gerakannya sepertinya mirip senam hamil. O my good, pesakitan saya sudah disamakan dengan wanita hamil tua atau bahkan wanita tua hamil, kalau ternyata ini juga yang dirasakan saat hamil, betapa hebat dan sungguh mulianya wahai para ibu sedunia, terutama ibu saya yang sampai 6 kali hamil.


Pilihan kedua adalah mengganti dokter. Saya mau cari dulu 2nd opinion, apa betul saya harus terhindar dari badminton/tenis/bersepeda. Untuk dokter kedua ini saya coba adakkan pendekatan khusus agar tidak mengeluarkan pernyataan menyakitkan itu. Jika perlu saya bilang ke dia bahwa saya ini backing nya kuat, perwira bintang 3 di Reskrim atau keponakan Nurdin Halid, jadi kalau dokter ngomong macam-macam yang membuat saya kecewa bisa-bisa ditangkap Densus 88 atau ditegur FIFA.

Ya sudah lah saya hanya mohon doa saja semoga saya cepat pulih.

Juga doa buat teman saya yang baru tertimpa kecelakaan baru jatuh dari motor hingga giginya patah, Panji alam Semesta yang pernah saya tampilkan foto dan uraiannya. Mudah-mudahan rekan Panji dapat bersabar dan beraktivitas seperti sedia kala tanpa kehilangan pesona sedikitpun, di terima segala amalannya, iman dan islamnya. Amiin.

Jkt. 12.01.11

Friday, January 07, 2011

Sakit pinggang

Dengan penuh rasa sadar dan tanpa tekanan dari pihak manapun saat ini saya nyatakan bahwa sudah hampir 4 hari ini saya mengalami sakit pinggang. Perkenalan ini cukup istimewa, terjadi begitu saja tanpa permisi dan perantara calo. Sebelum-sebelumnya saya hanya cukup dekat dengan ketidaknyamanan sariawan, meriang, dan rorombeheun. Sedangkan yang selama ini mengintai dan rajin melakukan serangan balik adalah gejala obesitas dan perut buncit. Sakit pinggang sungguh diluar dugaan dan lebih ngelunjak dibanding Nurdin Halid ngejitak SBY.

Hubungan saya dan sakit pinggang ini harusnya tidak secepat ini terjadi, mengingat usia saya yang belum menyentuh kepala tiga, padahal pada saat umur yang sama Firman Utina dinobatkan sebagai MVP -pemain terbaik- piala AFF, kalaupun dia mengalami luka hamstring itu dikatakan ‘mengalami cedera’, Napoleon Boanaparte pada umur ini memimpin penyerangan Perancis ke Mesir, kalaupun ia terluka tetap saja gagah sebagai seorang ksatria yang sudah bertempur membela negaranya. Sedangkan saya sekarang, sakit pinggang tetap saja sakit pinggang, jauh dari peristiwa heroik atau kategori karena membela bangsa, khalayak pasti tidak rela jika sebutan untuk ini adalah ‘cedera’, penghormatan tertinggi untuk istilah sakit pinggang saya ini paling-paling 'encok dini' atau 'urat kejepit'.

Menurut teman saya yang ahli per-asusila-an dan per-klenik-an, Tomy Faisal S.Si. Apt, sakit pinggang ini disebabkan karena roh halus yang menggelayut, tidak mempan jika penyakit seperti ini diobati oleh dokter ortopedi, ahli syaraf atau bahkan tukang urut, sebaiknya saya dibawa ke tempat sumber-sumber roh halus dan setan alas agar mereka bergabung dengan komunitasnya kembali seperti kuburan, gedung tua yang tidak terurus, bekas ruang jenazah, panti pijat plus plus, gedung DPR atau pengurus PSSI.

*bersambung* mau peregangan pinggang dulu*
07.01.11.

Monday, December 13, 2010

Joki 3 in1

Saya sering terjebak dalam posisi sulit di protocol jalan di Jakarta, masuk tol dalam kota tapi kena macet atau ambil jalan arteri tapi ditilang polisi karena kena aturan 3 in 1. Kalau sudah seperti ini pilihannya pun 2, yaitu masuk jalan toll dan kena macet lalu uring-uringan dan ngedoain pengelola toll dan fauzi bowo yang tidak-tidak, seperti semoga kumisnya tiba-tiba hilang dan tidak tumbuh lagi, atau semoga tiba-tiba rumahnya kebanjiran, atau semoga kecanduan ngupil pake jempol kaki. Pilihan yang kedua yaitu masuk jalan arteri lalu ‘angkut’ joki 3in1, pilihan ini tetap tidak berbebas dari keinginan bersumpah serapah untuk Gubernur DKI dan kali ditambah dengan ngedoain yang tidak-tidak untuk Menpora dan ketua PSSI.

Secara matematik dasar, naik tol lebih menguntungkan karena ‘hanya’ membayar Rp. 6500 saja, sedangkan angkut joki perlu biaya Rp. 15.000-20.000/ joki dan jika hanya sendiri berarti saya harus angkut 2 joki. Namun hidup di kota yang lebih kejam dari Ibu tiri ini, rasa was-was dan penuh curiga terhadap orang yang baru dikenal apalagi joki yang notabene saya angkut dijalan seringnya melebihi rasa takut terhadap Surat Peringatan karena datang terlambat dikantor. Apalagi joki tidak mengenal standar SNI atau mendapatkan ijazah kelulusan sebagai joki yang santun dan rajin menabung. Kita hanya punya waktu sekitar 5-10 detik untuk menilai calon joki yang akan kita angkut ini adalah joki professional atau jangan-jangan dia adalah jelmaan Anggodo dan anggota dewan yang siap rampok uang rakyat kecil seperti saya. Keadaan kikuk seperti inilah yang sering membuat saya ahirnya memutuskan untuk masuk toll daripada lewat jalan arteri. Padahal menggunakan jasa joki 3 in 1 jelas bisa bermanfaat untuk bersenang-senang di atas kemacetan orang lain setidaknya sepanjang 2-3 Km, karena anda tidak kena macet seperti kalau anda naik tol, anda tahu kan di Jakarta 1 km saja bisa menghabiskan 30 menit perjalanan. Walopun setelah itu anda akan seperti peserta salaman open house lebaran di rumah presiden, antri dengan harapan semu.

Tapi Joki 3 in 1 tidak seseram yang kita bayangkan, tengoklah berita di tivi, rasanya jarang sekali berita kerampokan joki 3 in 1 daripada kebakaran busway. Mereka lebih punya etika dibanding aparat partai politik yang nonton tari perut di Turki pake uang Negara. Untuk lebih meyakinkan anda memilih joki 3in1 yang baik dan terpuji saya kasih tips sedikit (i) dari kejauhan anda sudah bisa melihat barisan mereka beroperasi, coba liat apakah mereka pake atribut parpol atau ga, yang ga pake jaket parpol itu lebih beradab (ii) dari dekat lihat apakah dia berkumis tebal atau engga, kalau dia berkumis tebal jangan sampai anda pilih dia jadi gubernur lagi (iii) kalau anda tidak sempat liat muka mereka, anda tanya dulu namanya siapa, kalau dia ngaku Nurdin Halid percayalah mending anda angkut dia bawa ke rengasdengklok untuk medeklarasikan kemerdakaan PSSI atas penjajahannya.

RGI. 141212. Budut

Thursday, November 25, 2010

Bulutangkis

Hiburan utama dikantor saya saat ini ada 2, yang pertama saat terima gaji, dan yang kedua saat bermain bulutangkis.
Saat menerima gaji rasanya saya baru saja dilantik sebagai seorang karyawan yang menjunjung tinggi nilai dan ahlak luhur yang telah menghayati pengamalan sila-sila Pancasila, begitu terhormatnya saat itu, saat bersalaman dengan ibu kasir, sepertinya saya sedang bersalaman dengan Menteri Sosial yang memberi saya piala kalpataru dan siap-siap ke podium untuk memberikan kata sambutan. Walapun setelah melihat struk setor gajinya saya (lagi2) tertunduk lesu seperti aktor sinetron yang gagal memenangkan piala citra.

Bulutangkis tak kalah membuat gembiranya. Saya bermain bulutangkis setiap hari selasa, tapi hari senen adalah adalah hari yang menggairahkan dalam mempersiapkan dan saling say war diantara sesama pemain. Hari rabu, adalah hari recovery dan hari pembantaian kata2 terhadap siapapun yang kalah. Hari kamis dan jumat adalah hari sosialisasi dan saling mengingatkan kembali untuk bermain bulutangkis. Artinya dalam lima hari kerja, pembicaraan bulutangkis tidak pernah libur, tema bulutangkis tidak kalah penting dari acara menghujat kinerja atasan, tidak kalah update dari berita Gayus dan tidak kalah hot dari sarah azhari.



Bagi kami, bulutangkis lebih dari sekedar latihan fisik dan permainan. Bulutangkis adalah media pembentukan mental yang tangguh dalam menerima serangan dan menyerang dalam bentuk fisik smesh-an ataupun kata-kata. Jangan harapkan pengakuan, pujian atau tepuk tanga ketika anda menang, kalau kalah siap-siap lah anda seperti peserta kuis family 100 yang harus berpikir cerdas dan cepat walau jawabannya tidak perlu benar. Tanpa ejekan dan cercaan di bulutangkis ini, seperti fauzi bowo tanpa kumis, tidak syah secara syar’i.

Walau penting, skill menjadi factor nisbi yang tidak menentukan segalanya di sini. Buat saya dan pasangan double saya khususnya, skill kelemahan kami adalah menyerang, sedangkan bertahan pas-pasan, dropshot belum terlatih baik sedangkan untuk main lob kami seperti manula yang kena komplikasi asma-jantung dan gusi berdarah.
Entah apa yang salah, padahal idola saya adalah killing smash-nya Haryanto Arbi, dropshotnya Riki Subagja dan sundulan Ajat Sudrajat. Kami rasa yang membuat kami masih bisa mengimbangi permainan lawan hanyalah skill dalam serangan mental dan kata-kata, mirip-mirip dengan atlet idola kami yang lain, Muhamad Ali. Oleh karena itu, untuk siapapun lawan kami dipalangan kami tidak pernah takut dan minder, kami hanya akan sedikit ngeri jika pasangan lawan kami adalah Ruhut Sitompul-Nurdin Halid, Gayus Tambunan-Anggodo, atau Tifatul Sembiring-Michelle Obama.
Bermain kata-kata dengan mereka seperti mengajarkan Fauzi bowo cukur kumis.

Namun diatas semua, bermain bulutangkis adalah sebuah integritas. Tanpa pengadilan kami tetap jujur, tanpa polisi tetap tidak berkonflik, tanpa KPK tidak korupsi skor dan tanpa Aburizal Bakri kami tetap bisa sewa lapangan.

RGI. 251110. Jkt

* .. dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)

Monday, November 15, 2010

BBM-an *warkopsus

Jika anda pemilik blackberry maka anda pasti pengguna Blackberry Messenger (BBM). Jika tidak, sungguh anda merugi, punya BB tapi bukan pengguna BBM layaknya anda punya telunjuk tapi ga pernah anda gunakan untuk ngupil.

Nah kalau anda pengguna BBM sebagian besar sekali pasti anda punya grup BBM. Dulu jaman-jaman nya yahoo messenger (YM), untuk melakukan grup conference kita harus janjian terlebih dahulu karena belum tentu semuanya terhubung online bersamaan pada jam-jam yang sama. Belum lagi ada alasan tidak ada wi-fi, warnetnya lagi penuh, HP nya tidak ada pulsa atau izin buang air besar yang kesemuanya bisa membuat rencana conference jadi gagal. Lain halnya dengan BBM yang kita selalu on untuk konferens.

Sejak ada BBM grup ini, kapan saja dimana saja rasanya kita sedang ada di konferensi meja bundar atau perjanjian renville bersama rekan-rekan grup. Saat lampu merah dijalan, sedang dipanggil direktur, sedang ditilang polisi, sedang papasan dengan Ketua PSSI, nonton tenis sama Gayus, nonton Tina Talisa, kita masih bisa ber bbm an. Namun menurut pengalaman saya, rasanya agak sulit ber BBM an ketika sedang cebok dan sedang push-up.

Saat ini di BB saya ada 8 grup. Salah satu grup adalah ‘Warkopsus’. Selebihnya adalah grup alumni kuliah, alumni sma, grup komunitas, grup organisasi dan lain-lain. Diluar warkopsus, semua BBM grup ini rasanya penting ga penting. Penting karena kita butuh kabar update, broadcast yang bermanfaat atau hanya sekedar menunjukan eksistensi, ga penting karena kadang perputaran update nya agak lama dan broadcast nya pun sudah bisa kita dapatkan dari grup-grup yang lainnya. Tapi ‘warkopsus’ ini jelas-jelas ga penting. Kalau pun dipaksakan jadi Penting, ‘penting’ nya itu adalah karena dalam hidup ini kita kadang butuh aktualisasi memelihara hal-hal yang tidak penting.

Di warkopsus ini asalnya kita ber-8, sebut saja ada Tomi di Jakarta, Panji di Jakarta, Bambang di Pontianak, Ali di Bengkulu, Bima di Banjarmasin, Wisnu di Palu , Ari di bekasi dan saya sendiri di Jakarta. Tentang orang2 ini datang dari mana dan mengapa kita bisa jadi berkumpul nanti saya share di postingan selanjutnya walau sepertinya 1 tetralogy novel tidak cukup selesai untuk bercerita, hanya rasanya wikipedia atau trubus sekalipun berkebaratan jika dimasukan menjadi data mereka, ya karena tidak penting bagi referensi apapun.

Lalu, yang kita bicarakan ? .. tengok saja percakapan kami terahir :

Wisnu : Bembeh..bembeh..aliong pasti lagi bercinta
Bambang : wakak
Tomi : Tes
Wisnu : masuk mas
Wisnu : bembeh..bembeh.bembeh..
Bambang : Yup.
Bambang : Kingkong mana ?
Wisnu : lagi makan pisangnya sendiri
Bima : Kingkong mulu yang dicari ..emang pedagang kingkong ya..
Ali : ga tahu tuh badax edan..
Bambang : Kingkong sekarang gila dab..wi ora waras..opo goro2 bar mbok sogok2 dab ?
Wisnu : wkwkwk..sogok pake pipa paralon..

Yang bilang konversasi di atas penting rasanya performa serabut sarafnya setara dengan ketua PSSI sekarang.

Percakapan Ali – Bambang kadang sulit membedakan karakter antara peran sungguhan dan peran aktingya jd badak dan kingkong. Kingkong atau badak sering diterjemahkan sebagai selamat pagi atau selamat malam sebagai awal percakapan. Kami tahu sebetulnya mereka saling mencintai namun jenis kelamin yang tak jelas jenis dan bentuknya menjadi penghalang cinta mereka. Wisnu sering menengahi mereka berdua dengan niat baik dia adalah untuk mengadu domba, penguasaan tentang per-gadget-an sering saya jadikan referensi dalam hal pengambilan keputusan baik yang berhubungan ataupun tidak dengan gadget itu sendiri. Bima dan panji lebih sering mengamati dan mengeluarkan kata-kata bijak seperti khotib Jumat baru lulus Iqra 6. Tomi jarang sekali terlibat konversasi lebih dalam, seringnya dia menghilang, sialnya sekalinya dia masuk yang dia posting adalah gambar tai..*tai sungguhan !!
Singkatnya postingan di warkopsus ini terbagi atas tiga kategori, yaitu : (i)kategori cabul dan hinaan sesama member grup yang jelas2 harus disensor, (ii) kategori kata-kata bijak yang belum divalidasi kebenarannya (iii) kategori tidak penting lain-lain, termasuk gambar tai dan menghina atasan.
Atas dasar itulah si Ari dari bekasi mengundurkan diri dari grup dengan alasan lebih sering ‘clear chat’ untuk menghindari investigasi istrinya padahal belum sempat dibaca, atas tindakan kepahlawanan ini ari harus disematkan lencana SUSIS, *mengambil dari lagu sule. Mudah2an Ari kembali ke jalan yang salah ini..


Bersambung

* nama dan tempat hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan anda harus banyak berdoa atau segera potong kambing siapa tahu anda belum aqiqah..

RGI. 141110. JKT

Thursday, November 04, 2010

small is beautiful

Mungkin anda pernah ikut seminar besar atau konferensi marketing yang diadakan oleh salah satu lembaga konsultan marketing terkenal di negeri ini. Audiens yang hadir hampir berjumlah penonton Bulutangkis Indonesia Terbuka di Istora, para undangan necis hampir sulit membedakan antara peserta seminar atau undangan pernikahan, makanan mewah sekelas hotel bintang 5 sepertinya cukup untuk tidak makan 3 hari hanya dengan melihatnya. Spanduk, brosur, banner yang ada lebih mirip kampanye parpol untuk pemilihan bupati, mungkin yang agak kurang hanyalah tidak ada penyanyi dangdut saja.

Tapi ternyata seminar mewah dan besar bisa meng-service audiens nya dengan detail. Untuk kemana-mana, ke toilet, tempat makan, mushola semua informasinya minim malah saeperti permainan misteri atau teka teki, tidak ada petugas yang bisa kita tanyai. Mencari tempat duduk saja kita kadang dibuat clingak clinguk dulu mencari sendiri kursi yang kosong. Saat pembicara menyampaikan materi audiens lebih mirip rombongan tawon yang tidak makan 3 hari. Giliran makan, undangan yang necis itu lebih tidak tahu malu antri dan lebih tidak teratur dibanding antrian pembagian daging hewan qurban di rumah Fauzi bowo.

Namun yang saya rasakan saat seminar yang dilaksanakan BATAN di RSHS Bandung ini, saat saya bingung mencari parkir saja, sudah ada panitia yang stand by di pinggir jalan untuk mengantar saya ke tempat parkir. Sepanjang perjalanan guide tersebut ngobrol santai dan seolah sudah terlatih betul menjadi guide. padahal setelah saya tanya bapa ini sehari-hari adalah petugas foto gamma camera.
Sampe di tempat parkir bapak ini mengantar saya hingga meja resepsionis dan lalu mengantarkan saya ke tempat duduk. Rasanya karpet merah membentang di depan saya sepanjang perjalanan kedatangan ini.

Di ruang sidang pun, yang tidak lebih dari 50 orang, audiens bergitu seksama dengan materi yang ada, hening, syahdu seperti penonton tenis wimbledon Jim Courr vs Pete Sampras. Termasuk saya begitu yakin manggut-manggut pura-pura jadi orang yang begitu intelek, maklum audiens rata-rata adalah peneliti handal BATAN dan dokter spesialis dari RSHS, sedangkan saya lolos gelar apoteker saja kadang-kadang sering direnungi malam hari, kok bisaa yaa lolos..

Makanan tidak bergitu banyak tapi soal rasa dan porsi begitu terasa pas di lidah orang Indonesia dari kelompok bangsawan seperti saya(baca : bangsanya karyawan), antrian pun tidak lebih mengantri dari beli tiket karcis kereta Ekspress Bogor – Jakarta kota. Sebelum pulang kita semua disapa persis seperti pramugari mengumbar senyum pada saat turun pesawat. Rasanya saya jadi wisudawan di hari itu, acara seolah-olah diadakan untuk merayakan kedatangan saya dan wisudawan yang lain.

Saya pikir lembaga konsultan marketing itu harus belajar banyak dari acara BATAN ini, skala kecil tapi service memadai, tidak hanya skala besar tapi servicenya kerdil.

RGI. 041110. budut

Friday, October 29, 2010

Sariawan

Anda pernah diputuskan cinta sepihak ? kalau belum coba rasakan sariawan 3 saja. Walau sensasinya agak beda, tapi tersiksanya sama-sama tiada tara. Bibir ini bagai kena pecahan beling, lalu ditimpa ban mobil tanpa ampun. Lidah seperti diborgol kumpeni yang baru saja menangkap pejuang kemerdekaan, susah sekali berkutik. Jangan kan untuk mengeluarkan beberapa kalimat, untuk senyum saja kita harus berpura-pura tulus padahal keikhlasan belum tentu hadir menyertai. Sariawan memang merusak semua pesona yang dipersiapkan.

Apalagi jika kita hendak makan siang, harusnya menjadi berkah membawa tambahan energy sampai malam hari, untuk membayangkan makan siangnya saja rasanya begitu pahit, sepahit membayangkannya kumis bang Foke ditengah kemacetan pasar minggu-pancoran.

Berlebihan memang, tapi memang begitu adanya bang Foke.. dulu mendeklarasikan sebagai ahlinya Jakarta, tapi makin lama macet makin panjang, semakin kesini naek busway semakin tidak nyaman. Banjir juga tetap setia. Boro-boro bikin subway, yang ada Jakarta dibuat waterway. Jangan tanya urus gorong-gorong yang mampet di bawah tanah sana, mengurus gelandangan/pengamen yang yang jelas kasat mata di tiap perempatan saja tak mampu.

Maap jadi ga nyambung ya dari sariawan jadi ke foke.. Yah memang begitulah foke, antara kampanye dan realisasinya memang ga nyambung.

Kembali ke sariawan, obat manjur saya sih sebetulnya tidur cukup dan makan buah pepaya. Dalam 2-3 hari mulai berkurang sakitnya. Kalau foke obat manjur nya apa ya ? kalau buat saya 1 pepaya cukup, buat foke satu truk kayanya juga ga cukup kita lempar ke kumisnya sampe membuat dia sadar kalau dia ga mampu dan ga berhasil jadi gubernur Ibu Kota ini.

turunkan sariawan !

RGI. Budiutomo. 291010.

Friday, October 08, 2010

Naturalisasi

Pengurus dan pelatih PSSI sedang semangat betul ingin memainkan pemain-pemain sepakbola luar negeri keturunan Indonesia, lalu nantinya akan dipindahwarganegarakan menjadi WNI agar seterusnya bisa membela tim nasional Indonesia, isitilah umumnya saat ini adalah naturalisasi. Tentunya pemain-pemain keturunan Indonesia ini diharapkan dan diwajibkan memiliki skill, pengetahuan dan attitude yang lebih baik dari stok pemain-pemain sepakbola yang ada saat ini di Indonesia.
Apa mau dikata .. di negara-negara jago sepakbola saja hal itu lazim dilakukan seperti Jerman, Italia, Prancis, Inggris dan lain-lain.


walau serupa tapi aga tak sama..sebagai gambaran, dibidang industri naturalisasi ini sejenis dengan toll manufacturing, dibidang ketenagakerjaan lebih dikenal dengan istilah outsourcing. sebelumnya saya lebih kenal dan nyaman dengan istilah maklun, yaitu meng-pihak ketiga-kan proses produksi menjadi bahan jadi. Pokonya kita tinggal siapkan spesifikasi produk jadi, formulasinya selebihnya untuk urusan alat, bahan, mesin, prosedur produksi, kita serahkan ke pihak ketiga tersebut.


Kalau saya boleh memilih, untuk saat ini menurut saya sebaiknya untuk pemain timnas PSSI, modelnya toll manufacturing saja. jadi kita siapkan bahan bakunya dari sini, kita siapkan spesifikasi pemain yang diharapkan lalu kita cari negara (baca :pabrik) untuk bisa memproduksi mereka menjadi produk jadi yang sesuai dengan spesifikasi yang kita minta sebelumnya. tidak perlu satu tim penuh seperti halnya proyek primavera dulu, tapi kita bisa bagi-bagi ke negara berdasarkan spesialisasi ahlinya. misal untuk urusan kiper sepertinya italia memiliki orang-orang terbaik seperti dino zoff, walter zenga, buffon.. nah bahan baku kiper ini kita serahkan ke mereka untuk diolah. untuk striker ke Brazil, pemain tengah ke Spanyol, pemain belakang ke Perancis dan seterusnya.

Model naturalisasi sebaiknya kita terapkan di sektor-sektor pelayana publik, anggota dewan, aparat, pejabat daerah, walikota, bupati, kepala dinas dan lain sebagainya termasuk jangan lupa adalah pengurus PSSI. Stok yang ada sekarang dilakukan garage sale saja, siapa tahu masih ada yang negara-negara yang berminat membeli. Kalau perlu kita beri promo misalnya Jual Nurdin Halid dapat handuk, Jual Nugraha Besus dapat mug, jual fauzi bowo dapat banjir, beli 5 anggota dewan dapat gratis 100 kasus korupsi.
heu.

Thursday, September 16, 2010

lebaran

Ramadhan telah usai, kegembiraan lebaran tak bisa saya tahan dan pendam. Jauh Lebih tidak bisa tahan dibandingkan dengan tidak bisa BAB selama 15 hari sekalipun, jauh lebih gembira dari menang dibanding ditangkapnya 26 politisi karena penyuapan pemilihan pejabat BI, apalagi jika dibandingkan dengan menang SDSB sekalipun.

Istimewanya lebaran buat saya memang tidak terkira, mulai dari Solat Id-berkeliling kampung atau didatangi tetangga di kampung untuk bermaap-mapan-sungkeman- pake baju baru- berkumpul dengan keluarga, indah semua. Entah kebetulan,karena saking gembiranya tak terkira ini, rasanya meminta maap di hari lebaran jadi lebih mudah dan ikhlas dibanding hari-hari biasa, mungkin semudah anggota DPR melakukan studi banding ke luar negeri.

Oleh karena itu degan sangat semangat dan penuh ikhlas saya hubungi orang-orang yang sering bersinggungan ataupun jarang dengan saya baik dalam sehari-hari bekerja, beraktivitas dan berkomunitas baik lewat telpon, kirim sms, BBM, YM, posting milis dll untuk meminta maap atas kesalahan-kekhilafan-ketidak sengajaan-kesengajaan kepada. Walau sedikit butuh birokrasi dan alat bantu teknologi rasanya meminta maap di hari lebaran sangatlah menyenangkan.

Beda halnya dengan meminta maap, saya rasakan memaapkan lebih susah dibanding meminta maap itu sendiri, jauh lebih berat juga dibanding meminta naik gaji atau minta tambahan diskon kepada principal, memaapkan jauh lebih sulit dibanding soal-soal UMPTN, dan terasa jadi lebih rumit dan birokratif seperti bikin SIM atau perpanjangan STNK. Berabenya lagi memaapkan harus kita sendiri yang melakukan tidak bisa pake calo, joki atau di-surat kuasa-kan.

Apa boleh buat, saya harus sekuat tenaga dan ikhlas dalam urusan memaapkan ini. Bahkan Jibril telah berdoa kepada Allah yang di-amin-kan oleh nabi Muhammad SAW untuk tidak mengampuni dosa Suami istri yang tidak saling memaapkan, Anak yang durhaka dan tidak meminta maap kepada orang tuanya, dan orang-orang yang tidak saling bermaapan dan menjaga silaturahmi. Andaikan saya hidup di jaman Nabi dan diberi kesempatan memberikan usul untuk tambahan doa malaikat Jibril, saya akan mengusulkan agar Allah SWT tidak memaapkan :

1.Orang yang korupsi BLBI, Century, Pertamina, PLN, Kimia Farma, penggelap pajak, dan lain-lainnya yang berhubungan dengan hidup orang banyak , serta aparat dan presiden yang membiarkan kasusnya berlarut-larut. kalaupun dimaapkan sebelumnya saya ingin mengarak dulu keliling kota tanpa busana.
2.Markus di kepolisian-kehakiman-kejaksaan, makelar tender di partai politik- DPR-walikota-gubernur- rumah sakit –dinas kesehatan dll yang jauh lebih menyakitkan hati saya dibanding kegagalan Roberto Baggio dalam mengeksekui penalty di final piala dunia 1994.
3.Ketua umum PSSI, yang susah sekali turun dari jabatanya padahal PSSI tidak pernah membawa gelar juara dan banyak sekali alesan pembenarannya.

Ya Allah semoga saya diberikan kekutan agar mudah memaapkan dan menjadi orang yang bersyukur atas segala sesuatu..


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Minal Aidin Wal faidzin..